BMKG Ungkap Kondisi Cuaca Saat 5 Jurnalis Peliput Anak Krakatau Hilang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (10/9/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (10/9/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Lima jurnalis dilaporkan hilang kontak saat berada di perairan Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, pada Senin (7/9). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau saat kejadian terpantau baik.

Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani mengatakan, kondisi cuaca pada Senin sekitar pukul 14.00 WIB hingga 18.00 WIB, tidak menunjukkan adanya hujan. Cuaca di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau terpantau cerah hingga berawan.

“Iya, untuk kondisi cuaca pada saat hilangnya jurnalis itu sekitar tanggal, sekitar hari Senin ya. Jam 2 sampai jam 6 sore itu kondisi cuacanya baik. Jadi tidak terindikasi atau tidak terdeteksi adanya hujan,” ujar Ida di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (10/9).

“Kondisi cuaca cerah sampai dengan berawan dengan kecepatan angin itu maksimal sekitar 15 knot atau 7,5 meter per sekon. Sehingga untuk kecepatan anginnya pun tidak terlalu kuat,” lanjutnya.

Selain kondisi angin, Ida mengatakan ketinggian gelombang di sekitar perairan tersebut juga tidak menunjukkan kondisi yang signifikan. Ketinggian gelombang maksimal tercatat sekitar 1 meter.

“Kemudian untuk ketinggian gelombangnya itu juga maksimal 1 meter itu untuk jarak yang sangat jauh dari pinggir ya. Sehingga untuk dari cuaca maupun kondisi gelombang itu tidak menunjukkan adanya suatu yang signifikan sehingga mengganggu keselamatan di sekitar Krakatau,” ungkapnya.

Gunung Anak Krakatau saat mengalami erupsi terlihat dari Selat Sunda, Minggu (16/8/2026). Foto: Anggi Kusumadewi/kumparan

Selain itu, Ida mengatakan ada kondisi lain di sekitar Gunung Anak Krakatau yang perlu diperhatikan, yakni aktivitas debu vulkanik. Berdasarkan pemantauan citra satelit BMKG, sebaran debu vulkanik pada Senin masih terpantau hingga ketinggian sekitar 50.000 kaki atau 15.000 meter.

“Nah yang perlu diperhatikan adalah kondisi di sekitar Krakatau itu sendiri. Apakah di situ kondisinya banyak debu dan lain sebagainya. Karena pada saat hari Senin itu masih debu itu masih terpantau dari citra satelit sampai dengan ketinggian sekitar 50.000 feet ya, sekitar 15.000 meter. Sehingga nanti mungkin itu yang mungkin hal lain tidak dari cuaca ya,” katanya.

Ida juga menyebut kondisi cuaca baik tersebut diperkirakan masih bertahan hingga beberapa hari setelah kejadian. BMKG tidak melihat adanya potensi hujan signifikan di sekitar Gunung Anak Krakatau dalam tiga hari ke depan.

“Iya. Beberapa hari itu kondisi cuacanya cukup baik sampai dengan ke depan, tiga hari ke depan itu kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau tidak menunjukkan adanya potensi hujan yang signifikan,” ungkapnya.

Begitu pula dengan kondisi gelombang, yang menurut Ida masih dalam kondisi kondusif.

Terkait sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau, Ida mengatakan material tersebut sebelumnya dominan bergerak ke arah barat, menuju Samudra Hindia.

“Abunya sudah jelas jauh ya, karena kemarin dominasinya mengarah ke arah barat samudra. Sehingga sekarang sudah ada di level ketinggian yang cukup tinggi di samudra. Kemudian untuk wilayah di sekitar Indonesia, baik itu di sekitar perairannya ataupun di atas daratannya, itu saat ini tidak terpantau adanya sebaran debu vulkanik bahkan di Gunung Anak krakataunya sendiri sejak semalam itu sudah tidak ada lagi terpantau adanya sebaran debu vulkanik per jam 1 malam,” ungkapnya.

Tim SAR gabungan melakukan pencarian jurnalis dan awak kapal penumpang yang hilang kontak di Selat Sunda, Banten, Rabu (9/9/2026). Foto: Basarnas

Sebelumnya, kejadian ini bermula saat rombongan yang terdiri dari 5 jurnalis bersama 2 awak kapal dan 1 pemandu bertolak menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, menuju perairan Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB. Komunikasi terakhir dilaporkan terputus pada sore hari di hari yang sama sekitar pukul 15.04 WIB.

Operasi SAR gabungan yang dikoordinasikan Basarnas masih terus berlangsung dengan memperluas sektor penyisiran di perairan Selat Sunda hingga wilayah perairan Lampung dan Banten, dengan mengerahkan kapal SAR, perahu cepat (RIB), serta drone thermal guna melacak keberadaan kapal beserta seluruh penumpangnya.