Bubar-Rujuk Kangen Band Sebagai Miniatur Politik
Tulisan dari Eben E Siadari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengendara Ojol yang saya tumpangi memperdengarkan lagu Kangen Band beberapa menit setelah kami beranjak dari Stasiun Palmerah menuju Rasuna Said.
“Ini ‘Pujaan Hati’ Om,” kata dia, ketika saya bertanya apa judul lagu yang sedang ia putar.
“Ini lagu di zaman saya masih kuliah,” ia berkata.
Menurut dia, ia tergerak memutar lagu itu karena mendengar kabar Kangen Band bakal bubar.
Ia tidak rela.
“Untungnya tidak jadi bubar. Ada-ada saja,” ia tergelak.
Kata Pak Driver, dulu semasa mahasiswa ia malu mengakui sebagai penggemar Kangen Band. Lagu-lagu grup musik itu hanya ia dengar saat di kamar kos. Sekarang ia malah bangga mengenang masa remajanya ditemani oleh lagu-lagu kelompok musik itu.
Majalah The Rolling Stone Indonesia pernah menjuluki kelompok musik ini Raja RBT (ring back tone). Di masa jayanya, lagu-lagu Kangen Band diunduh oleh puluhan juta pengguna ponsel di Indonesia, menjadikannya salah satu kelompok musik yang mencatat raihan RBT tertinggi.
Tidak ada catatan berapa sesungguhnya fans kelompok musik ini. Namun, jumlahnya pasti tidak sedikit, apalagi bila penggemar anonim seperti Pak Driver ikut dihitung.
Di platform Spotify tercatat kelompok musik ini memiliki lebih dari 2,4 juta pendengar bulanan dan 1,7 juta pengikut setia. Lagu debut mereka "Tentang Aku, Kau dan Dia" telah diputar lebih dari 65 juta kali secara digital.
Tidak heran bila berita bubarnya Kangen Band beredar dengan cepat di media sosial. Termasuk di beranda akun media sosial saya pada pada Sabtu 12 September.
Reaksi sebagian netizen ialah bingung. Ada yang tidak percaya dan menganggap bahwa itu hanya marketing gimmick. Namun sebagian lain telah menduganya, apalagi ketegangan antar personel grup ini sering terungkap ke publik.
Pernyataan pembubaran Kangen Band berasal dari Dodhy, gitaris sekaligus owner dan pendiri Kangen Band. Ia mengumumkan secara sepihak pembubaran band yang telah tampil di depan publik sejak 2006 itu dengan alasan persoalan internal yang disebutnya sebagai "kezaliman".
Vokalis utama Kangen Band, Andika Mahesa, segera bereaksi. Ia mengatakan sangat bingung, kaget, sekaligus malu. Secara tersirat reaksi Andika yang cepat menandakan ia merupakan salah satu faktor dalam pengumuman pembubaran.
Sejarah Kangen Band memang diwarnai oleh ketegangan antara Andika sebagai vokalis utama dengan personel lainnya. Ketegangan itu telah menjadi warna sepanjang perjalanan grup ini. Pada tahun 2012, misalnya, Andika sempat dikeluarkan secara sepihak dari Kangen Band karena pihak manajemen dan Dodhy menilai Andika melanggar kontrak kerja dengan mengambil proyek solo di luar band.
Dalam peristiwa terakhir ini, Andika memutuskan segera kembali ke Jakarta dari Lampung untuk berkumpul bersama menyelesaikan persoalan. Kangen Band tidak jadi bubar.
Potret Realitas Kelompok
Episode pembubaran yang batal ini adalah sepenggal potret realitas yang bisa terjadi bukan pada kelompok musik saja.
Di ranah politik ketegangan antara vokalis utama dengan grupnya dapat menjadi analogi relasi figur politik populer dengan partai yang menaunginya.
Di atas panggung, vokalis adalah wajah, suara, dan magnet utama yang memikat massa. Di balik layar, grup adalah sistem yang digerakkan oleh konseptor, pencipta lagu, pemain musik dan manajemen logistik.
Pada perjalanannya tidak terhindarkan ketidakseimbangan relasi popularitas dan relasi kuasa. Vokalis sebagai wajah utama, menangguk kekaguman jauh lebih besar daripada grup sebagai ‘institusi.’
Lalu muncul godaan bersolo karier. Ketegangan biasanya mulai muncul.
Fenomena di industri musik ini memiliki padanan dalam lansekap politik, ketika para tokoh politik yang memiliki popularitas masif menyadari bahwa kapasitas dirinya lebih besar daripada partai politik yang membesarkannya. Popularitas tersebut mengundang godaan untuk tampil solo dalam berbagai aktivitas, yang acap kali melangkahi aturan dan tata krama partai. Muncul ketegangan, seperti yang terjadi pada kelompok-kelompok musik seperti Kangen Band.
Dalam perspektif ilmu komunikasi, ketegangan ini dapat dibedah menggunakan Teori Iklim Komunikasi (Communication Climate Theory) yang dikembangkan oleh Jack Gibb. Teori ini menjelaskan bagaimana nuansa sosial dan emosional dalam suatu hubungan atau organisasi terbentuk melalui interaksi sehari-hari.
Menurut teori ini, cara seseorang berbicara, mendengarkan, dan merespons secara langsung menentukan apakah suatu lingkungan terasa mendukung (supportive/confirming) atau menolak (defensive).
Dalam iklim suportif, partisipan kelompok merasa dihargai, dihormati, dan merasa aman. Sebaliknya dengan iklim defensif. Dalam iklim ini, masing-masing anggota merasa tidak dianggap penting, diabaikan, bahkan dalam posisi diserang.
Iklim defensif memunculkan respons melawan atau menarik diri sama sekali. Keadaan ini selanjutnya memunculkan berbagai kesalahpahaman dan penurunan semangat dalam kelompok.
Iklim defensif bersifat menular karena sifat komunikasi yang resiprokal. Tindakan defensif dari satu anggota sering memicu rekasi serupa dari anggota lain. Bila ini dibiarkan berlangsung, ia dapat bereskalasi sehingga menjadi kultur kelompok.
Salah satu yang sering menciptakan iklim defensif ialah adanya pihak yang merasa superior. Bisa jadi hal ini terjadi secara tidak disadari. Di industri musik keinginan bersolo karier dapat juga dipicu oleh faktor pasar industri musik yang menawarkan insentif ekonomi lebih besar.
Idealnya keputusan bersolo karier dihasilkan oleh musyawarah grup. Namun, sering kali ada sumbatan komunikasi sehingga kelompok merasa ditinggalkan. Benturan pun terjadi.
Personalisasi Politik dan Frontman Syndrom
Di kancah politik benturan semacam ini juga terjadi. Ketegangan antara Joko Widodo dan PDI Perjuangan menjelang Pemilu 2024, sebagai contoh. Partai politik bertindak sebagai "pencipta lagu" yang memegang hak cipta atas karier sang tokoh menganggap memiliki hak menentukan arah.
Di sisi lain, sang tokoh, digoda oleh "pasar elektoral" berupa approval rating tinggi dan basis massa yang diyakini dapat digerakkan untuk menempuh jalan berbeda dengan partai. Ketika orientasi tokoh dan partai tidak lagi sejalan dan saluran komunikasi tersumbat, yang terjadi adalah kecenderungan untuk menarik diri dari masing-masing pihak. Selanjutnya muncul narasi defensif ke ruang publik demi memenangkan opini.
Personalisasi politik di era digital memperparah godaan untuk ‘meninggalkan’ kelompok untuk bersolo karier di dunia politik. Menurut Teori Kultivasi (Cultivation Theory), di era digital media sosial dan algoritma modern secara konstan menyemai persepsi pemilih untuk lebih terikat pada narasi personal manusia daripada institusi formal yang abstrak.
Kamera dan algoritma media sosial membuat publik lebih sering terpapar pada wajah, gaya bicara, dan kehidupan pribadi sang tokoh. Partai hanya berfungsi sebagai sarana atau latar belakang visual.
Pada saat bersamaan, pentas politik diwarnai oleh erosi ideologi. Antara satu partai dengan partai lainnya tampak seolah sama. Maka pemilih beralih mencari pembeda pada kualitas personal. Muncul apa yang disebut sebagai Frontman Syndrome, sebuah keyakinan psikologis di mana sang tokoh merasa mampu berdiri sendiri tanpa bayang-bayang organisasi.
Trump, Macron, dan Prabowo
Dalam skala global, Donald Trump di Amerika Serikat adalah contoh ekstrem bagaimana seorang frontman politik dengan merek personal yang masif mampu mendominasi, bahkan menentukan arah ideologi partainya. Basis pendukungnya jauh lebih loyal kepada figur Trump daripada institusi partai itu sendiri.
Fenomena keberhasilan bersolo karier juga ditunjukkan oleh Emmanuel Macron di Prancis pada tahun 2016 kendati dengan rute yang sedikit berbeda. Merasa platform Partai Sosialis terlalu membatasi visi politiknya, Macron keluar dan mendirikan pergerakannya sendiri, En Marche!.
Macron memenangkan kursi kepresidenan dengan narasi pembaharu yang ia gaungkan secara personal. Ia mencipta sebuah "band baru" untuk menjadi kendaraan bagi pertunjukan solonya.
Bila hal ini diproyeksikan kepada relasi Prabowo Subianto dan Partai Gerindra, ada dinamika yang menarik untuk dicatat. Sebelum mendirikan Partai Gerindra, Prabowo adalah tokoh senior Partai Golkar. Namun, ia kemudian memutuskan meninggalkan partai itu dan mendirikan partai baru.
Dalam berbagai kesempatan, Prabowo menjelaskan alasan di balik keputusannya. Di antaranya, ia merasa ruang geraknya terbatas sebagai anggota Dewan Penasihat Golkar dan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), sehingga ia kesulitan memperjuangkan nasib petani secara optimal.
Selain itu, bila diibaratkan sebagai vokalis band, ia bukan vokalis utama. Masih ada Jusuf Kalla. Oleh karena itu keinginan untuk maju membawa perubahan besar membuat lingkaran dekatnya menilai bahwa bersaing dengan JK tidak realistis. Membentuk partai baru dinilai sebagai jalan keluar terbaik.
Dengan demikian hubungan Prabowo dan Gerindra dapat dianalogikan sebagai sebuah band yang sejak awal didirikan, didesain, dan dioperasikan hanya untuk mengiringi satu vokalis utama. Identitas Gerindra secara de facto melekat sepenuhnya pada personalitas Prabowo. Dalam struktur seperti ini, benturan komunikasi internal sangat minim terjadi karena posisi sang frontman sudah disepakati sejak awal.
Rebranding Total atau Gagal
Di dunia musik, sejarah mencatat banyak vokalis utama grup band akhirnya memilih bersolo karier dan sukses. Beyoncé, misalnya, berhasil mengukuhkan dirinya sebagai penyanyi tunggal setelah sebelumnya lebih dikenal sebagai personel Destiny’s Child. Begitu juga Harry Styles, muncul sebagai penyanyi solo yang populer setelah meninggalkan grupnya, One Direction.
Di Indonesia, Sammy Simorangkir keluar dari Kerispatih tidak membuat suaranya tenggelam. Ia berhasil mencatatkan diri sebagai salah satu penyanyi pria solo populer di Indonesia.
Para vokalis ini berhasil karena mereka melakukan re-branding total. Mereka tidak berusaha meniru formula atau warna musik dari grup lama melainkan menawarkan identitas baru yang segar.
Sebaliknya, ketika penyanyi gagal keluar dari bayang-bayang itu, mereka kehilangan idependensi. Brandon Flowers, contohnya. Salah satu frontman musik rock paling karismatik di era 2000-an bersama bandnya, The Killers, mencoba merilis album solo namun secara komersial gagal meledak di tangga lagu global jika dibandingkan dengan hit-hit milik grupnya.
Di Indonesia, Bams yang bersama Samsons pernah merajai industri musik lewat album debut Naluri Lelaki dan hits legendaris "Kenangan Terindah" tidak berhasil mencatat sukses. Krisyanto memutuskan keluar dari Jamrud dan merilis album solo bertajuk Oasis (2009). Namun, respon pasar sangat dingin terhadap karya solonya.
Tidak heran bila kemudian banyak dari mereka memutuskan kembali pulang ke kandang. Gary Cherone setelah sempat mencoba proyek solo dan bahkan menjadi vokalis Van Halen, akhirnya kembali melakukan reuni dengan grup lamanya, Extreme. Kikan Namara vokalis Cokelat, setelah 12 tahun akhirnya kembali memperkuat Cokelat.
Di panggung politik, kisah mereka yang memutuskan hengkang dari partai tidak selalu menerbitkan kisah indah. Beberapa tokoh yang sangat populer di partainya tidak menangguk hal serupa tatkala mendirikan partai baru. Laksamana Sukardi dkk ketika keluar dari PDI Perjuangan dan mendirikan Partai Demokrasi Pembaruan (2005) berakhir dengan tragis, tidak lolos verifikasi pada pemilu berikutnya.
Popularitas para politisi ini sebagai individu tampaknya sangat tergantung pada pengeras suara raksasa yang bernama infrastruktur partai. Tanpa adanya stempel partai, seperti halnya "label rekaman" pada industri musik, popularitas personal seorang tokoh mengalami distorsi dan penyusutan pesan sebelum sampai ke pemilih bawah.
Di titik ini, kita kemudian menyadari bahwa terdapat elemen metafisik yang sebenarnya menjadi penentu utama keutuhan sebuah kelompok. Faktor metafisik itu ialah ideologi dalam berpartai atau idealisme dalam bermusik.
Sebuah band yang disatukan oleh komitmen estetika dan idealisme musikal, akan merasakan kepuasan batin menciptakan karya kolektif lebih tinggi daripada sekadar angka penjualan. Ini membuat imunitas mereka sangat kuat terhadap godaan proyek solo. Mereka bahkan bisa menarik kembali pentolannya yang sudah sempat pergi.
Prinsip yang sama berlaku dalam politik melalui ideologi. Partai politik yang memiliki kaderisasi berbasis ideologi yang mengakar kuat bertindak seperti "aliran musik" yang memiliki pemilih fanatik.
Peristiwa batal bubarnya Kangen Band tampaknya juga dipengaruhi faktor metafisik ini. Nilai-nilai yang telah mengkristal dalam 20 tahun perjalanan kelompok musik ini, membuat mereka menemukan cara untuk menempuh komunikasi krisis yang memungkinkan merek berbicara dari hati ke hati. Mereka dapat mengubah iklim defensif menjadi iklim suportif.

