Budi Arie Bicara 'Percepatan Sejarah' di Samping Jokowi, PSI: Ini Adu Domba

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Umum DPP Projo, Budi Arie Setiadi, dalam agenda Kongres ke-III Projo, di Grand Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu (1/11/2025). Foto: Fadhil Pramudya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum DPP Projo, Budi Arie Setiadi, dalam agenda Kongres ke-III Projo, di Grand Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu (1/11/2025). Foto: Fadhil Pramudya/kumparan

Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bestari Barus menanggapi pernyataan Ketua Umum Relawan Projo, Budi Arie Setiadi, yang menyebut adanya kemungkinan “percepatan sejarah” terkait dinamika politik di Indonesia.

Bestari menilai pernyataan tersebut berpotensi mengganggu hubungan baik antara Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dengan Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan Budi Arie itu beredar dalam sebuah video di media sosial. Dalam video tersebut, Budi tampak duduk di sebelah Jokowi saat menyampaikan pandangannya terkait kemungkinan adanya perubahan situasi politik sebelum Pemilu 2029.

Budi menyebut kondisi masyarakat saat ini menunjukkan adanya sejumlah anomali yang menurutnya perlu menjadi perhatian. Ia bahkan mengaku memiliki insting bahwa dinamika politik bisa bergerak lebih cepat dari perkiraan.

"Tetapi saya ingin sampaikan, tadi saya sudah bisik ke Pak Jokowi. Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari '29 Pak. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong pemilu '29, pemilu '29. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?" ucap Budi.

Budi kemudian menyebut adanya fenomena sosial yang menurutnya dapat menjadi tanda terjadinya “patahan sejarah”.

"Dan maksud saya begini loh, saya pengalaman dengan gerak sejarah ini ada yang abnormal di masyarakat saat ini. Ini demo Pati, Madura demo lagi, ikut tandingan. Ah ini udah kayak Pam Swakarsa di '98 ini. Pasti kalah yang preman, cuman maksud saya terjadi anomali-anomali variabel di masyarakat yang membuat kita tidak hanya sekadar memikirkan skenario-skenario konvensional, langkah-langkah, tahapan-tahapan yang sebagaimana mestinya,” katanya.

Menurut Budi, situasi sosial dan ekonomi saat ini dapat menjadi faktor yang mempercepat perubahan politik.

"Ini terjadi yang namanya kalau menurut pendapat saya terjadinya yang namanya patahan sejarah. Bagaimana tahun '97 tiba-tiba pemilu berikutnya '99. Dan potensi ini bukan nggak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul tidak membuat masyarakat happy,” kata Budi.

"Saya, insting aktivis saya mengatakan ini ada sesuatu yang lebih cepat dari yang kita bayangkan. Karena itu saya coba mau membuka wacana aja ke temen-temen supaya berpikir jangan hanya sekadar berpikir '29, harus ada pikiran lain alternatif manakala terjadi percepatan sejarah,” lanjutnya.

Ketua Bidang Politik DPP PSI, Bestari Barus usai bertemu Jokowi di Solo, Senin (13/4/2026). Foto: Dok. kumparan

Menanggapi hal tersebut, Bestari menyayangkan pernyataan Budi disampaikan saat hubungan Jokowi dan Prabowo disebut berjalan baik.

"Jadi gini. Ya sangat disayangkan gitu bahwa hal-hal seperti itu harus mengemuka di saat hubungan antara Pak Jokowi dengan Pak Prabowo itu masih baik-baik saja. Jadi ini kami melihatnya adalah hanya kepentingan pribadi dari Budi Arie. Ya kepentingan pribadi yang lebih menguat di situ,” kata Bestari.

Bestari menduga pernyataan tersebut berkaitan dengan kekecewaan pribadi Budi setelah tidak lagi menjabat sebagai menteri dan tidak diterima bergabung dengan sejumlah partai politik.

"Mungkin karena banyak kekecewaan yang dia alami, berhenti jadi menteri, kemudian masuk ke partai Pak Prabowo nggak diterima, ditolak, mau ke PSI juga kami sudah menyatakan tidak akan menerima. Jadi dia seharusnya bisa melihat itu sebagai pelajaran atas apa yang dia pernah lakukan,” tuturnya.

Menurut Bestari, Budi seharusnya menyampaikan pandangan tersebut secara pribadi tanpa membawa nama atau keberadaan Jokowi yang berada di sampingnya.

"Jangan nanti akhirnya kemudian mengungkapkan hal-hal yang seperti ini ke depan publik meminjam wajah Pak Jokowi yang lagi duduk di sebelahnya,” katanya.

"Ini kan seperti perbuatan gelandangan politik jadinya gitu loh. Yang ke sana nggak, ke sini nggak, tapi lebih banyak mengeluh saja. Kemudian menyatakan bahwa kondisi bisa terjadi percepatan suksesi segala macam. Ini kan sama dengan melempar bola panas yang bisa ditanggapi negatif oleh para pihak dan berpotensi ini merusak hubungan antar dua tokoh bangsa gitu loh,” lanjut Bestari.

Bestari mengaku tidak memahami maksud Budi menyampaikan pernyataan tersebut. Namun, ia menduga ada kepentingan politik tertentu di balik wacana tersebut.

"Saya nggak paham juga apa maksud dan tujuannya, tapi saya kira sudah jelas lah ini adalah satu gerakan politik yang dia bangun atas mungkin kekecewaan, mungkin kekecewaan-kekecewaan yang dia alami pada masa-masa dahulu,” ucap Bestari.

Ia juga menilai Budi seharusnya menyampaikan pendapatnya sebagai pribadi tanpa melibatkan Jokowi.

"Cuman seandainya dia lebih gentleman dan tidak banci, seharusnya dia berstatement perorangan aja sendiri tanpa melibatkan Pak Jokowi ketika Pak Jokowi ada di sebelahnya,” kata Bestari.

"Kan acara itu bukan acara untuk agar dia sebagai pribadi dapat menyampaikan unek-uneknya yang berpotensi merusak hubungan dan ketenangan politik hari ini gitu. Dia boleh saja pergi podcast dia ngomong sendiri dia posting sendiri tanpa melibatkan wajah orang lain gitu,” sambungnya.

Momen Presiden Prabowo Subianto diapit Presiden ke-7 RI Jokowi dan Wapres Gibran Rakabuming Raka di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden

Bestari pun menilai gestur Jokowi dalam video tersebut memperlihatkan ketidaksetujuan terhadap pernyataan yang dilontarkan Budi.

"Kita kan melihat bahwa betapa gestur Pak Jokowi memperlihatkan tidak sepakat dengan itu, bahkan mungkin kecewa kali ya kok ada acara seperti itu,” katanya.

"Padahal, kalau betul-betul dia adalah pendukung Pak Jokowi, mosok kupingnya Budi Arie itu nggak pernah denger bahwa Pak Jokowi memerintahkan kami di PSI untuk dukung Prabowo-Gibran dua periode,” sambung Bestari.

Ia menilai pernyataan Budi tidak sejalan dengan sikap Jokowi yang mendukung keberlanjutan pemerintahan Prabowo-Gibran.

"Seharusnya kupingnya dipasang dong. Kan begitu telinga dipasang bahwa Pak Jokowi itu udah pernah menyampaikan ke publik, dukung program Pak Prabowo Gibran bahkan sampai dua periode. Lah ini ujug-ujug ngomongin hal-hal yang provokatif gitu loh. Mengagitasi berpropaganda seakan-akan negara ini lagi kacau, nggak ada kacau negara ini, yang kacau itu nasibnya dia mungkin,” ungkap Bestari.

"PSI sangat berdiri jelas terang bersama Pak Jokowi mendukung Prabowo-Gibran dua periode,” tegasnya.

Bestari kembali menegaskan PSI menilai pernyataan Budi Arie bukan hanya merusak hubungan Jokowi dan Prabowo, tetapi juga berpotensi mengadu domba kedua tokoh tersebut.

"Iya. Mengadu domba, bukan sekadar merusak saja. Mengadu domba,”

--Bestari Barus--

Ia menjelaskan, pertemuan Jokowi dengan para relawan sebenarnya merupakan agenda rutin untuk membahas hal-hal terkait pembangunan dan masa depan, bukan membangun konflik politik.

"Ya itu kan pertemuan Pak Jokowi dengan kawan-kawan relawan itu, itu intens itu setiap berapa bulan sekali gitu ada pertemuan. Jadi tidak disangka, tidak diduga, ketika pertemuan itu biasanya kan bercerita tentang hal-hal yang apalah membangun ke depan bukan membangun permusuhan gitu. Kalau ini kan membangun permusuhan ini,” ungkap Bestari.

"Justru kami mencurigai bahwa ini ada agenda politik tertentu yang melibatkan kekuatan-kekuatan politik lainnya gitu,” tutupnya.