Bukan Soal Siapa Lahir Duluan, tetapi Siapa yang Diberi Peran
Tulisan dari Firda Mustika Galih Pramulan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sejak kecil anak pertama diminta menjadi patokan bagi adik-adik. Ternyata penelitian besar berkata lain: yang memengaruhi anak bukan urutan lahir, melainkan peran, pengasuhan, dan kecocokan dengan dirinya sendiri.

Malam itu saya tidak bisa membantah.
Saya baru saja berbuat nakal, dan orang tua saya menasihati saya. Kata mereka, anak pertama adalah patokan dan contoh bagi adik-adiknya. Kalau saya berhasil, adik-adik akan ikut berhasil. Anak pertama itu, kata mereka, perintis sejati.
Dalam hati saya tidak sepakat. Namun, saya menyimpannya sendiri. Malam itu saya sedih dan marah, merasa memikul banyak beban.
Lalu saya memilih satu hal: menjadikan nasihat itu bahan bakar. Saya lebih giat, lebih pantang menyerah, dan ingin menunjukkan kepada adik saya bahwa segalanya bisa diusahakan. Hari ini saya bersyukur telah melewatinya dan memilih terus berjuang.
Tetapi ada satu pertanyaan yang tertinggal. Benarkah keberhasilan seorang kakak menentukan keberhasilan adiknya? Dan ketika adik saya tidak sama seperti pencapaian saya, mengapa itu dianggap pembenaran bahwa anak pertama memang lebih dari anak di bawahnya?
Mitos yang sudah lebih dari seratus tahun dipercaya
Selama lebih dari seabad, orang meyakini urutan lahir membentuk watak: sulung bertanggung jawab, anak tengah pendamai, bungsu manja. Para peneliti pun menguji gagasan ini. Dalam studi yang terbit di PNAS pada 2015, Julia Rohrer dan rekan-rekannya menggabungkan data tiga panel nasional di Amerika Serikat, Britania Raya, dan Jerman dengan total lebih dari 20.000 peserta. Hasilnya, mereka tidak menemukan efek urutan lahir pada ekstraversi, stabilitas emosi, keramahan, kehati-hatian, maupun imajinasi. Penelitinya menyimpulkan bahwa perkembangan kepribadian ternyata kurang ditentukan oleh peran dalam keluarga asal daripada yang selama ini diduga.
Yang tersisa hanya selisih kecil
Satu efek memang bertahan: skor tes kecerdasan menurun tipis dari anak pertama ke anak berikutnya. Studi di Norwegia atas 241.310 pemuda berusia 18 dan 19 tahun yang diuji saat wajib militer menemukan rata-rata skor IQ anak pertama 103,2 dan anak kedua 101,2, seperti dilaporkan Associated Press. Selisihnya sekitar dua poin, atau 2,3 poin menurut liputan Nature. Pada skala IQ yang lazim, yang simpangan bakunya 15 poin, selisih itu kecil.
Bagian yang paling menarik justru yang lain. Anak kedua yang kakaknya meninggal saat bayi, lalu tumbuh sebagai yang tertua di rumah, rata-rata mencapai 102,9, hampir sama dengan anak pertama. Dalam laporan di jurnal Science, Petter Kristensen dan Tor Bjerkedal menyimpulkan bahwa skor itu bergantung pada posisi sosial dalam keluarga, bukan pada urutan lahir secara biologis.
Mengapa posisi sosial berpengaruh? Kristensen menduga penyebabnya perhatian orang tua kepada anak sulung, atau waktu yang dihabiskan kakak untuk mengajari adik, seperti dikutip Nature. Itu masih dugaan, belum terbukti langsung. Perlu dicatat juga bahwa ini studi observasi pada laki-laki, sehingga tidak membuktikan sebab dan akibat.
Artinya, yang berpengaruh bukan kapan seseorang lahir, melainkan peran yang diberikan kepadanya. Dan peran, tidak seperti tanggal lahir, bisa kita ubah.
Lalu, apa yang benar-benar membantu anak berkembang?
Pola asuh. Meta-analisis atas 308 studi oleh Martin Pinquart di Educational Psychology Review menemukan bahwa pola asuh yang hangat sekaligus punya batas yang jelas berkaitan dengan prestasi belajar yang lebih baik. Sebaliknya, kontrol yang keras atau psikologis, pengabaian, serta pola asuh yang terlalu otoriter atau terlalu longgar berkaitan dengan prestasi yang lebih rendah. Efeknya kecil sampai sangat kecil, jadi pola asuh bukan resep ajaib. Dan pengaruhnya dapat berbeda antarbudaya.
Lingkungan dan stimulasi. Seri Lancet 2017 memperkirakan sekitar 250 juta anak (43 persen) di negara berpenghasilan rendah dan menengah berisiko tidak mencapai potensi tumbuh kembangnya. Perawatan yang menumbuhkan (nurturing care) terdiri atas lima komponen: kesehatan, gizi, pengasuhan yang responsif, kesempatan belajar sejak dini, dan rasa aman. Stimulasinya sederhana: mengobrol, bernyanyi, dan bermain. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pengasuhan responsif dan kegiatan belajar bersama orang tua sejak tiga tahun pertama kehidupan.
Maksimal itu sesuai kodratnya
Ada satu hal lagi. Anak yang berkembang maksimal bukan berarti anak yang selalu juara. Dalam model goodness of fit dari Alexander Thomas dan Stella Chess, hasil perkembangan terbaik cenderung muncul ketika tuntutan lingkungan cocok dengan temperamen anak. Dengan kata lain, anak yang pendiam dan anak yang penuh energi tidak perlu dibentuk dengan cetakan yang sama.
Gagasan serupa sudah lama kita punya. Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan sebagai upaya menuntun kodrat yang ada pada anak, bukan mencetaknya. Kodrat alam adalah potensi yang melekat pada tiap anak, sedangkan kodrat zaman adalah kondisi yang berubah mengikuti masa. Bagi saya, itu dekat sekali dengan makna fitrah: setiap anak lahir dengan keistimewaannya sendiri.
Maksimal, dengan begitu, bukan berarti paling tinggi. Maksimal berarti paling berkembang sebagai dirinya sendiri.
Untuk setiap sulung yang masih memikul label
Saya tidak menyesali malam itu. Nasihat yang saya telan dalam diam ikut membentuk saya, dan saya bersyukur. Namun, setelah membaca penelitiannya, ada hal yang ingin saya katakan kepada setiap anak pertama yang masih memikul label itu: kamu bukan patokan siapa pun. Kamu boleh berhasil dengan caramu, dan adikmu berhak berhasil dengan caranya.
Yang kita butuhkan bukan anak yang sama seperti kakaknya, tetapi anak yang tumbuh paling utuh sebagai dirinya sendiri.

