Buku Cetak di Era Digital
Tulisan dari Lilis Ummi Fa'iezah, MA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Digitalisasi memang membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Perangkat digital, internet, hingga kecerdasan buatan telah mempermudah akses terhadap pengetahuan. Buku sebagai salah satu sumber pengetahuan kini hadir di berbagai platform daring. Buku-buku itu mudah diunduh, dibagikan, bahkan dibaca kapan saja melalui gawai. Dengan dalih menuju era teknologi dan konsep paperless, buku digital sering dianggap sebagai pilihan yang lebih modern dan efisien. Akibatnya, buku cetak yang dahulu menjadi sahabat utama belajar kini kerap terpinggirkan.
Namun di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan yang jarang disadari. Banyak aktivitas belajar kini dilakukan secara instan. Para siswa terbiasa mencari informasi dan jawaban soal dalam hitungan detik. Tugas sekolah pun kerap diselesaikan dengan bantuan kecerdasan buatan. Tanpa disadari, kebiasaan ini membuat generasi muda tidak terbiasa berpikir kritis dalam menyelesaikan berbagai persoalan. Para ahli menyatakan bahwa kemampuan kognitif dan kreativitas akan berkembang melalui proses berpikir yang mendalam, panjang dan reflektif. Di tengah kekhawatiran berbagai pihak termasuk orang tua atas kemampuan kritis generasi muda yang semakin menurun di era digital, kembali pada buku cetak mungkin bisa menjadi solusi.
Saat ini, buku cetak seolah ada namun tiada. Perpustakaan kerap hanya menjadi tempat untuk menyimpan buku. Banyak guru meminta siswa untuk meminjam buku dari perpustakaan, namun buku-buku tersebut kenyataannya kalah bersaing dengan buku digital. Dengan buku digital, materi pelajaran dapat diperoleh hanya dengan beberapa sentuhan di layar gawai. Proses belajar mengajar pun menjadi lebih fleksibel dan tidak lagi terbatas di ruang kelas.
Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2010) mengingatkan bahwa penggunaan internet yang intens dapat mengubah pola pikir manusia. Otak menjadi terbiasa dengan informasi yang cepat dan pendek sehingga semakin sulit mempertahankan perhatian pada bacaan panjang. Generasi muda menjadi malas berpikir karena semua jawaban telah disediakan oleh mesin pencari digital. Fenomena ini patut menjadi perhatian karena dikhawatirkan daya berpikir kritis remaja Indonesia melemah. Padahal pendidikan tidak hanya bertujuan memberikan informasi, tetapi juga membentuk cara berpikir yang matang.
Gerakan kembali kepada buku fisik sangat penting untuk dihidupkan kembali. Membaca buku fisik menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda. Saat membuka halaman demi halaman, pembaca diajak untuk lebih fokus dan terlibat secara mental dengan isi bacaan. Di era ketika kesabaran sangat tipis dan perhatian mudah terpecah oleh berbagai distraksi digital, kemampuan membaca secara mendalam menjadi semakin penting.
Karena itu, dunia pendidikan perlu kembali menempatkan buku cetak sebagai bagian penting dalam proses belajar. Perpustakaan harus difungsikan lagi sebagai ruang membaca yang nyaman. Guru harus lebih sering meminta siswa meletakkan gadgetnya dan mulai bekerja dengan buku cetak. Di lingkungan keluarga, contoh dari orang tua sangat penting dalam menumbuhkan budaya membaca di rumah dengan menghadirkan buku sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Gerakan kembali ke buku cetak bukan berarti meminggirkan teknologi. Dunia digital tetap memiliki peran penting dalam memperluas akses pengetahuan. Namun pendidikan memerlukan keseimbangan antara kecepatan informasi dan kemampuan berpikir mendalam dan kritis. Kembali membaca buku dengan menyentuh fisiknya bisa menjadi solusi efektif agar generasi muda tidak hanya terbiasa mengonsumsi informasi secara cepat, tetapi juga mampu memahami, merefleksikan, dan memaknai pengetahuan secara lebih mendalam.
Dalam konteks inilah, gerakan membaca buku cetak menjadi relevan kembali. Di tengah kebisingan dan arus informasi yang serba instan, buku cetak menawarkan ruang untuk berpikir dan memahami. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya melahirkan individu yang cepat mengakses informasi, tetapi juga mampu mengolahnya secara kritis dan bijak dalam menghadapi kehidupan.

