Cerita Calon Jemaah Umrah Tertahan 2 Malam di Soetta Imbas Erupsi Anak Krakatau

Harapan untuk segera terbang ke Tanah Suci berubah menjadi penantian berhari-hari bagi sejumlah calon jemaah umrah di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang.
Setelah penerbangan mereka terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau, mereka memilih tidur di musala ketimbang kembali ke hotel yang disediakan oleh agen perjalanan.
Pengalaman itu harus dirasakan Rosinawati, calon jemaah umrah asal Kendari, Sulawesi Tenggara. Dia bercerita berangkat dari Kendari pada Sabtu (5/9) dan tiba di Jakarta pukul 15.00 WIB.
Rosnawati bercerita, dia dijadwalkan terbang ke Jeddah menggunakan maskapai Garuda Indonesia pada Minggu (6/9) pukul 12.00 WIB. Namun, setibanya dia di bandara, ia mendapat informasi bahwa penerbangannya dibatalkan akibat abu erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Keluar dari hotel, datang ke sini di bandara ini kan jam 12 pemberangkatan lagi. Nah, datang di sini dengar berita bahwa ada pembatalan keberangkatan karena Gunung Anak Krakatau,” kata Rosinawati saat ditemui kumparan di Terminal 2F Bandara Soetta, Selasa (8/9).
Rosinawati mengaku, pihak travel menyediakan akomodasi hotel. Namun, dia bersama sang anak beserta sebagian rombongannya memilih tetap berada di bandara dan menginap di musala.
“Di sini aja, kita nginap di sini aja kalau masih diperbolehkan di musala bandara ini, ya di sini aja,” ujar Rosinawati.
Menurut Rosinawati, mereka memilih bertahan menginap di musala bandara ketimbang di hotel karena merasa lebih nyaman.
“Ada akomodasi travel ke hotel tapi kami bilang sudah di sini aja. Karena kami merasa nyamanlah kalau di sini. Di hotel itu jauh, macet di jalan,” beber Rosinawati.
“Nyaman. Kalau mau salat, langsung aja salat, sudah siap di sini, ada pak imamnya juga di sini jadi bareng-barenglah,” lanjut dia.
Selama dua malam di bandara, Rosinawati menghabiskan waktu dengan menikmati fasilitas bandara, seperti kereta layang antarterminal dan tempat makan yang beroperasi selama 24 jam.
“Kemarin itu diajak oleh anak ini (anaknya) bilang, ‘Mak, coba kita naik kereta layang keliling-keliling’. Diajak jalan-jalan keliling bandara, fasilitas-fasilitas bandara,” tutur Rosinawati.
“Ke sana pergi makan-makan di mana itu Solaria sana, pokoknya kita nikmati aja jalan-jalannya,” tambah dia.
Saat ditanya berapa biaya yang dikeluarkan selama bermalam di bandara, ia mengaku mengeluarkan sekitar Rp500 ribu per orang.
“Ya, banyaklah. Per orang lima ratusanlah untuk makan, untuk jajan-jajan, minum-minum kopi. Karena pastinya di sini (bandara) dengan di luar sana kan nggak sama harga, beda ya. Tapi kami juga mengerti di bandara itu memang beda harga dengan di luar,” ucap dia.
Kini, Rosinawati berada di bandara bersama anak, ipar, dan keponakannya yang juga berasal dari Kendari. Saat ditemui kumparan, ia bahkan tengah melakukan video call dengan anak keduanya yang berada di kampung halaman.
Rosinawati pun berharap dapat kembali melanjutkan perjalanan ke Jeddah pada Selasa (8/9) sore. Berdasarkan jadwal yang diterimanya, penerbangan dijadwalkan berangkat pukul 15.45 WIB.
“InsyaAllah jam 4 kalau tidak ada halangan, jam 4 sore. Insyaallah langsung ke Jeddah,” ucapnya.
Cerita Nur Emi
Hal serupa juga dirasakan oleh Nur Emi, calon jemaah umrah asal Muna Barat, Sulawesi Tenggara. Ia telah berada di Jakarta sejak Sabtu (5/9).
Emi mengatakan, saat itu dirinya masih berada di hotel dan bersiap menuju bandara untuk penerbangan yang dijadwalkan pukul 16.00. Namun, ia mendapat informasi bahwa penerbangannya tertunda akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Alih-alih tetap di hotel, Emi justru memilih tetap berangkat ke bandara. Hal itu ia lakukan untuk berjaga-jaga apabila penerbangan sewaktu-waktu kembali diberangkatkan.
“Mengingat juga jangan sampai tiba-tiba diberangkatkan begitu, sehingga kami siap siaga saja di tempat,” tutur Emi.
Dalam merespons situasi tersebut, Emi memilih untuk berdoa dan berdzikir.
“Kita berdoa saja, istighfar menunggu dan bersabar,” kata dia.
Senada dengan Rosinawati, Emi mengaku lebih memilih tidur di musala karena merasa lebih nyaman. Meski setelah dua malam menginap di musala, ada beberapa calon jemaah lainnya yang memilih kembali ke hotel.
“Nyamannya kami (di musala) tidurnya bisa terserah mau jam berapa. Terserah kita. Kalau tiba waktu salat, kita salat. Tidak terganggu,” ungkap Emi.
Ketika mendengar pembatalan penerbangan, Emi mengaku baru mengetahui kabar tersebut dari keluarganya di kampung halaman.
“Mereka dengar pembatalan dilihat di siaran berita, menelepon ke saya ‘Ibu iya tidak jadi berangkat’. Saya kira mereka mau prank saya begitu. Ternyata betul tidak berangkat. Mereka yang duluan informasikan saya daripada travel,” tuturnya.
Keluarga Emi pun sempat merasa khawatir dengan kondisinya. Mengingat ini merupakan perjalanan umrah pertama bagi Emi, serta dia berangkat sendirian.
Kendati demikian, Emi memilih menerima kondisi tersebut dan menyerahkan kepastian keberangkatannya kepada Tuhan.
“Waswas. Saya mendengarnya waswas juga, tapi apa saya tidak bisa berbuat apa-apa tinggal Tuhan lah yang berkehendak apa maunya,” jelas Emi.
Ia pun berharap dapat berangkat ke Jeddah sesuai jadwal yang diterimanya, yakni pukul 11.00 WIB, Selasa (8/9). Meski begitu, ia menyadari jadwal tersebut masih dapat berubah menyesuaikan kondisi alam.
“Iya kalau namanya jadwal kan tetap juga bisa berubah, karena kan alam yang menentukan keberangkatan juga,” tutup Emi.
