Konten dari Pengguna

Cerita Calon Pensiunan: Disiapin Aja Mental Kena, Apalagi Nggak Siap?

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang kawan cerita, setahun lagi akan pensiun. Dia kerja di perusahaan swasta. Gaji lumayan dan punya punya dana pensiun. Kalau dihitung-hitung, katanya uang pensiun dari kantor ditambah DPLK-nya bisa mencapai Rp. 400 juta. Tapi dia tetap khawatir, takut tidak cukup uang segitu untuk pensiun.

Makanya dia bilang, sekarang ini hidupnya lebih irit. Sudah jarang nongkrong di kafe, gaya hidup mulai dikurangi, Dan yang paling dia takutkan. Karena istrinya begitu dikasih tahu setahun lagi akan pensiun langsung shock. Mentalnya kena, karena bingung. Masih punya gaji saja terkadang punya masalah keuangan, apalagi nanti sudah pensiun yang tidak ada gaji lagi. Kata istrinya, susahnya orang yang pensiun itu “hilangnya penghasilan bulanan”, sementara biaya hidup tetap jalan terus. Begitu cerita kawan saya menjelang pensiun.

Cerita jelang pensiun atau mas apensiun memang nggak aka nada habisnya. Seperti kawan saya itu, padahal masih satu tahun lagi pensiun. Bakal dapat uang pensiun dari kantor ditambah punya DPLK yang akan cair saat pensiun. Khawatir dan gelisah, karena tidak akan kerja lagi dan tidak punya gaji bulanan lagi. Belum lagi, riset yang menyebut 1 dari 2 pensiunan di Indonesia mengandalkan tranferan dari anaknay setiap bulan. akibat tidak mandiri secara finansial di hari tua. Fenomena sandwich generation. Sementara usia harapan hidup sekarang sudah mencapai 73 tahun. Kawan saya akan pensiun di usia 57 tahun, maka masih ada 16 tahun masa kehidupan di hari tua tanpa kerja tanpa gaji. Bila kekhawatirannya benar, akibat uang pensiun tidak cukup, bisa jadi dia akan bekerja lagi di masa pensiunnya. Untuk menutupi kekuarangan biaya dan kebutuhan di hari tua.

Jadi, memang ada benarnya bila “Pensiun disiapin aja mental bisa kena, apalagi nggak disiapin?”. Karena masa pensiun bukan hanya soal finansial, tetapi juga perubahan besar dalam identitas, rutinitas, dan peran sosial seseorang. Bahkan bagi mereka yang sudah menyiapkan dana pensiun dengan baik, tetap ada potensi “shock” psikologis ketika kehilangan peran kerja, jaringan sosial, dan rasa produktif. Inilah yang sering disebut sebagai post-retirement adjustment, di mana individu harus beradaptasi dengan kehidupan baru yang lebih longgar namun juga bisa terasa kosong.

cerita calon pensiunan

Jika pensiun tidak disiapkan sama sekali, baik dari sisi keuangan maupun mental, dampaknya bisa jauh lebih berat. Ketidakpastian ekonomi dapat memicu stres berkepanjangan, sementara hilangnya rutinitas kerja bisa menimbulkan rasa tidak berguna, kesepian, bahkan depresi. Dalam banyak kasus, individu menjadi bergantung pada keluarga, yang pada akhirnya dapat memicu tekanan relasi dan menurunkan kualitas hidup di hari tua. Jadi, tanpa persiapan, pensiun bukan lagi fase menikmati hidup, tetapi justru menjadi fase bertahan hidup.

Karena itu, persiapan pensiun idealnya mencakup dua hal sekaligus: kesiapan finansial dan kesiapan psikologis. Selain menabung atau berinvestasi, penting juga merancang aktivitas pasca-pensiun seperti hobi, kegiatan sosial, atau bahkan pekerjaan ringan agar tetap merasa bermakna. Pensiun yang sehat adalah pensiun yang tetap aktif, mandiri, dan memiliki tujuan hidup. Jadi, kalau yang sudah siap saja masih bisa “kena mental”, maka tidak menyiapkan masa pensiunnya sama sekali jelas berisiko jauh lebih besar.

Maka siapkanlah masa pensiun kita sendiri. Mau seperti apa dan bagaimana di hari tua? Sebab, pensiun disiapin aja mental bisa kena, apalagi nggak disiapin?”. #YukSiapkanPensiun