Cerita Keluarga di Kudus 6 Tahun Tinggal di Gubuk dalam Lorong 1x6 Meter

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 6 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sutinah menunjukkan lorong berukuran 1 meter x 6 meter yang digunakan sebagai tempat tinggal di Desa Jepangpakis, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sutinah menunjukkan lorong berukuran 1 meter x 6 meter yang digunakan sebagai tempat tinggal di Desa Jepangpakis, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Siang itu di Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sutinah (49) menuntun sepedanya memasuki lorong sempit di antara rumah-rumah warga. Lalu, ia memarkir sepedanya, dan masuk ke dalam sebuah gubuk bambu sederhana di ujung lorong.

Gubuk bambu berukuran 1x6 meter adalah 'rumah' Sutinah dan suaminya, Sulatin (48) serta seorang putrinya yang berusia 13 tahun. Ketiganya tidur, makan, mencuci pakaian di lokasi tersebut selama enam tahun.

Sehari-hari, Sutinah bekerja sebagai karyawan di tempat katering. Sedangkan suaminya tak lagi bekerja karena salah satu kakinya sakit. Sedangkan putrinya masih bersekolah di salah satu SMP di Kabupaten Kudus.

Sebetulnya, lorong itu dulu digunakan untuk penyimpanan kayu oleh tetangganya. Lorong itu lalu disulapnya jadi tempat tinggal. Sebetulnya, Sutinah pernah membeli tanah di 2025 silam.

Tanah tersebut berukuran 5 meter x 12 meter, terletak di Desa Jepangpakis. Lokasi tanah yang dibeli Sutinah ini tak jauh dari lokasi lorong berukuran 1 meter x 6 meter yang ditempatinya saat ini.

Sutinah membeli tanah berukuran 5 meter x 12 meter itu dengan harga Rp 60 juta hasil pesangon sebagai karyawan pabrik rokok. Biaya Rp 60 juta itu mencakup pembelian tanah dan sertifikat. Namun penjual tanah tak kunjung memproses sertifikat tanah. Padahal, Sutinah telah melunasi semua pembelian tanah tersebut.

Catatan dari anak Sutinah di dinding sebagai doa apabila terjadi angin kencang dan hujan deras. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparan

Baru di tahun ini proses sertifikat tanah dilakukan oleh penjual tanah tersebut. Kini Sutinah berharap ia segera memiliki sertifikat tanah yang telah dibelinya itu.

Saat ini Sutinah masih tinggal di lorong berukuran 1 meter x 6 meter itu. Kondisi lorong yang disebut rumah itu jauh dari kata layak sebagai hunian.

Lorong tersebut diberi bambu di bagian depan, samping dan belakang. Lalu, bagian atapnya diberi seng. Untuk masuk lorong ini hanya bisa diakses bergantian karena pintu masuk lorongnya hanya seukuran pinggang orang dewasa.

Kumparan mencoba masuk ke area lorong yang digunakan Sutinah sebagai tempat tinggal. Pintu masuknya sederhana, terbuat dari bambu dan seng. Di area dekat pintu masuk terdapat ember yang biasa digunakannya untuk mencuci pakaian. Alas rumahnya itu masih berupa tanah.

Masuk ke dalam, terdapat deretan perlengkapan makan dan minum. Lalu di sampingnya terdapat kursi bambu panjang yang biasanya digunakan oleh Sutinah, suami dan anaknya untuk tidur.

"Kalau tidur ya bertiga sempit seperti ini. Posisi tidurnya harus sama, kalau ke selatan ya ke selatan semua," katanya saat ditemui kumparan, Senin (4/5).

'Mantra' Penangkal Hujan

Pada dinding lorong terdapat sebuah tulisan yang ditempel oleh putrinya itu. Tulisan itu seakan sebagai penanda apabila terjadi hujan angin.

Tentu saja, rumah jauh dari kata layak itu akan kebocoran jika terkena hujan. Maka, sebagai pengganti atap, Sutinah menempel sebuah 'mantra' untuk mengusir hujan.

Mantra itu ditulis dalam bahasa jawa, kurang lebih bunyinya sebagai berikut.

Catatan dari anak Sutinah di dinding sebagai doa apabila terjadi angin kencang dan hujan deras. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

"Jika Hujan Angin Lebat, genggamlah garam lalu berdiri di depan rumah. Ucapkan kepada garam yang ada di telapak tanganku. Angin seko wetan bali ngetan. Angin seko kidul bali ngidul. Angin seko kulon balik ngulon. Angin seko lor balik ngalor. Yoh yoh yoh (angin dari arah timur kembali ke timur, angin dari arah selatan kembali ke selatan. Angin dari barat kembali ke barat. Angin dari utara balik ke utara. Ya ya ya)," tulisnya.

"Ini tulisan dari anak saya. Ya memang kalau ada angin dan hujan terasa dingin di sini. Terkadang air masuk ke dalam," terangnya.

Terkadang, kala malam tiba, ia dan keluarganya harus berteman dengan nyamuk. Selain itu ketiganya harus berteman dengan dingin malam.

Ia mengaku tak nyaman tinggal di tempat yang sempit itu. Namun, ia mengucap banyak terima kasih kepada tetangganya yang telah memberikan tempat berteduh.

Sutinah menunjukkan lorong berukuran 1 meter x 6 meter yang digunakan sebagai rumah tempat tinggal di Desa Jepangpakis, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparan

"Kalau tidak di sini mau di mana lagi. Dahulu sempat mengontrak tetapi tidak bisa bayar kontrakan sehingga diusir," ujarnya.

Selama tinggal di lorong berukuran 1 meter x 6 meter itu, ia bersama suami dan anaknya harus nebeng untuk mandi dan buang air di rumah tetangganya. Ia juga meminta air tetangga untuk mencuci pakaian.

Sedangkan untuk ibadah salat, mereka beribadah di masjid dan musala sekitar.

Terkadang, kalau penghasilannya sedang pas-pasan, ia dan keluarganya menahan lapar. Setiap pagi anaknya berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Namun, terbantu dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Kalau siang, saya diberi Bu Rike (pemilik katering tempatnya bekerja). Pemberian dari Bu Rike saya bawa pulang untuk makan siang dan malam," jelasnya.

Setiap harinya ia bekerja menggunakan sepeda yang dipinjami oleh pemilik katering. Sepeda itu ia gunakan untuk berangkat dan pulang kerja setiap pagi hingga sore hari.

Penghasilannya dari bekerja ia gunakan untuk membeli obat dan jamu bagi suaminya. Suaminya mengalami sakit di bagian kaki. Ia selalu berdoa agar kehidupannya bisa lebih baik. Sutinah selalu ingin memiliki rumah yang lebih layak.

"Harapan saya ya bisa punya rumah yang lebih layak untuk ditempati," imbuhnya.

Sementara itu, pemilik Katering De Salma, Rike Nurlinda mengatakan, Sutinah yang sekarang menjadi karyawannya itu pernah mendatangi dirinya untuk meminta pekerjaan. Tepatnya sekitar sebulan silam menjelang maghrib.

Perempuan asal Desa Loram Wetan itu menjelaskan, saat itu wajah Sutinah tampak pucat. Lalu mendatanginya untuk meminta pekerjaan. Ia pun menyanggupinya.

"Saya bilang ke bu Sutinah saat itu saya tidak bisa menjanjikan hal yang berlebihan. Saya hanya bisa memberi pekerjaan semampunya. Akhirnya Bu Sutinah mau," terangnya.

Setelah dua hari bekerja di tempatnya, Rike menanyakan alamat rumah Sutinah. Ia sempat tak percaya kalau bangunan rumah yang ditempati Sutinah berukuran 1 meter x 6 meter.

Sutinah menunjukkan lorong berukuran 1 meter x 6 meter yang digunakan sebagai rumah tempat tinggal di Desa Jepangpakis, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparan

"Suatu hari ada tetangga ke sini memberi tahu kalau suami Bu Sutinah sakit. Akhirnya saya minta Bu Sutinah pulang ke rumah untuk merawat suaminya," sambungnya.

Pada hari itu juga dia baru percaya kalau rumah Sutinah berukuran 1 meter x 6 meter. Itu setelah karyawannya cerita selepas diminta olehnya mengantarkan makanan untuk Sutinah dan keluarga.

"Karyawan saya yang bernama Mbak Ida kaget dan menangis setelah kembali ke sini. Ternyata memang Bu Sutinah tinggal di rumah berukuran 1 meter x 6 meter," terangnya.

Lebih lanjut, Rike juga membantu memantau proses sertifikasi tanah milik karyawannya itu agar cepat terselesaikan. Sehingga ke depannya, Sutinah dapat menempati rumahnya di atas tanah yang sudah dibelinya dengan ukuran 5 meter x 12 meter di Desa Jepangpakis.

"Semoga proses sertifikat tanah yang dibeli Bu Sutinah ukuran 5 meter x 12 meter segera selesai. Sehingga nantinya bisa segera dibangun rumahnya secara bertahap," tutupnya.