Cerita Komunitas di Kudus 'Melawan' Gawai, Ajak Anak-anak Kembali Membaca Buku
ยทwaktu baca 4 menit

Di atas tikar sederhana yang digelar di sisi timur Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, suara anak-anak sesekali terdengar riuh. Sebagian asyik membuka lembar buku bergambar, sebagian lain duduk sambil mewarnai.
Begitu kira-kira gambaran lapak Komunitas Read Aloud Kudus, sebuah ruang literasi kecil yang hidup di tengah ramainya Car Free Day (CFD) Kudus, Minggu (26/4).
Di tempat itu, buku-buku cerita anak, dongeng, hingga komik sains tersusun rapi dan bisa dibaca gratis. Tak hanya membaca, anak-anak juga diajak berinteraksi melalui aktivitas sederhana seperti mewarnai, sebelum perlahan dikenalkan pada dunia buku.
Komunitas Read Aloud Kudus sendiri berdiri pada 5 Februari 2025. Pendiri sekaligus ketuanya, Rizki Yuniarti, menyebut komunitas ini lahir dari keprihatinan terhadap rendahnya minat baca di Indonesia, khususnya pada anak-anak.
"Kami ingin mengenalkan budaya membaca sejak dini untuk anak-anak. Komunitas ini lahir dari keprihatinan peringkat minat baca masyarakat Indonesia yang masih minim," katanya kepada kumparan, Minggu (26/4).
Selain keprihatinan minimnya minat membaca, ia berupaya untuk mengurangi penggunaan gawai pada anak. Ia berpendapat, penggunaan gawai untuk anak-anak secara berlebihan tidaklah bagus.
"Gawai terkadang memberikan informasi berupa hoaks. Sebaiknya sejak kecil anak-anak lebih dibiasakan membaca buku (buku fisik)," sambungnya.
Bantu Atasi Speech Delay Anak
Membaca buku menurut Rizki memiliki manfaat. Beberapa kali pihaknya membantu anak-anak dengan speech delay atau keterlambatan berbicara. Terapi yang digunakan yakni dengan membaca buku.
"Ada anak yang berbicaranya kurang lancar. Kemudian kami coba treatment membaca buku setiap hari sambil kami ajak ngobrol. Membaca buku itu sebenarnya merupakan komunikasi dua arah yang baik," terangnya.
Membaca buku, lanjut Rizki, sebenarnya bisa dilakukan sejak anak masih di dalam kandungan sang ibu. Membiasakan membaca bisa dikenalkan sejak trimester 3 (TM 3) kehamilan untuk meningkatkan literasi anak.
"Meskipun di dalam perut, ketika anak sedang mendengar, dia memiliki kosakata baru. Artinya, kosakata anak semakin banyak. Melalui membaca, anak yang mengalami speech delay bisa terstimulasi hingga perlahan sembuh," ungkap dia.
Penyesuaian buku bacaan untuk anak-anak dapat disesuaikan. Anak usia 0 tahun sampai 1 tahun diajak membaca buku yang memiliki banyak visual atau gambar, namun minim teks.
"Setelah satu tahun ke atas, ajak anak membaca buku yang visualnya sedikit supaya anak dapat berinteraksi lebih banyak," ujarnya.
Menurut Rizki, durasi membaca buku untuk anak tidak perlu terlalu lama. Cukup meluangkan waktu 15 menit setiap harinya.
Meski hanya sebentar, ada berbagai tantangan di lapangan untuk menumbuhkan minat baca anak. Menurutnya, mayoritas orang tua masih memandang sebelah mata soal buku. Padahal, membaca buku mampu meningkatkan literasi.
Selain itu, orang tua terkadang masih berpikir dua kali untuk membelikan buku bagi putra-putrinya. Orang tua lebih senang mengeluarkan uang lebih untuk mainan maupun gawai bagi buah hatinya.
Tak berhenti di situ, tantangan lainnya yakni orang tua sibuk bekerja, sehingga tidak memiliki waktu atau meluangkan waktu menemani buah hati membaca buku.
"Dari buku anak bisa tahu gajah memiliki belalai. Kemudian ketika mereka bertemu gajah di dunia nyata, mereka bisa tahu kalau pernah melihat dari buku. Secara tidak langsung memori anak merekam," ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang warga Kudus, Satrio (47), menyambut baik kehadiran Komunitas Read Aloud Kudus. Ia sepakat kalau minat baca masyarakat Indonesia masih minim dibandingkan penduduk dari negara lain.
"Acara yang bagus karena dapat menstimulus anak-anak agar mau membaca, sehingga bagus untuk perkembangan motorik mereka," katanya.
Ia menambahkan, memberikan literasi sejak dini amat diperlukan. Apalagi di era serba teknologi seperti sekarang gempuran gawai bagi anak-anak mulai terjadi.
"Saya selalu membiasakan anak-anak membaca buku setiap sore hari selama 20 menit. Hal itu kami lakukan agar anak-anak terbiasa membaca buku secara fisik. Selain itu untuk mengurangi mainan gawai," terangnya.
"Keluarga kami memang senang membaca sejak dahulu. Ayah saya juga mengenalkan saya buku kala itu Wiro Sableng. Makanya, anak-anak saya ajak menyukai buku," imbuhnya.
