Cerita Warga Cilandak Hadapi Kemarau: Air Sumur Berkurang hingga Berubah Warna

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Air sumur dalam ember milik Dewi (39), warga RT 06/RW 12, Cilandak Barat, sebagai stok air di tengah debit air yang mengecil saat musim kemarau, Senin (14/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Air sumur dalam ember milik Dewi (39), warga RT 06/RW 12, Cilandak Barat, sebagai stok air di tengah debit air yang mengecil saat musim kemarau, Senin (14/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Musim kemarau mulai mengubah cara warga Cilandak mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Ada yang harus menunggu beberapa menit hingga air sumur mengalir, memperpanjang waktu pengisian toren, sampai mendapati air sumurnya berubah keruh kemerahan.

Salah satunya dirasakan Dewi (39), warga Jalan Tridharma Utama V, RT6/RW12, Cilandak Barat. Ia mengatakan air dari sumur rumahnya kini tidak langsung mengalir ketika mesin dinyalakan.

“Biasanya dinyalakan, kerannya dibuka, langsung keluar air. Kalau ini, kerannya sudah dibuka dan mesin sudah menyala, cuma bunyi. Airnya menunggu beberapa menit baru keluar,” kata Dewi saat ditemui kumparan, Senin (14/9).

Menurut Dewi, kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar sebulan, sejak cuaca panas dan kemarau pada Agustus. Ia mengaku, pernah menunggu hingga 10 menit sampai air keluar.

Karena khawatir mesin menjadi panas, Dewi memilih mencabut colokan mesin dan menyalakannya kembali setelah beberapa menit.

“Kalau sudah keluar, saya penuhi semua bak-bak, termasuk untuk minum dan masak. Takutnya kalau dinyalakan lagi airnya tidak keluar sama sekali. Bingung mencari air di mana,” beber Dewi.

Air sumur tersebut digunakan Dewi untuk hampir seluruh kebutuhan rumah tangga, mulai dari minum, masak, mandi, hingga mencuci piring. Namun, menurut Dewi, kini debit airnya semakin kecil.

“Apalagi kalau dinyalakan dua keran, pasti yang satunya kosong atau mati. Misalnya mesin cuci dan keran lain sama-sama menyala, airnya tidak keluar,” tutur Dewi.

Dewi juga mengaku pernah mendapati air sumurnya bercampur tanah hingga berwarna keruh. Meski kondisi itu hanya berlangsung beberapa hari dan kembali normal, ia menyebut volume air sumur memang lebih kecil saat musim kemarau.

“Pernah keluar tanah. Jadi airnya butek. Itu beberapa hari saja, tidak sampai seminggu atau dua minggu. Setelah itu normal lagi. Memang volume airnya sudah lebih kecil (saat ini),” jelasnya.

Kondisi serupa dirasakan Nurhayati Senan (52), warga Jalan Wijayakusuma Raya Nomor 57A, RT 09/RW 04, Pondok Labu. Saat kumparan berkunjung, Nurhayati menunjukkan debit air yang mengecil dari shower kamar mandinya.

Ia mengatakan rumahnya belum mengalami kekeringan total, tetapi debit air sumur berkurang dibandingkan biasanya.

“Yang biasanya besar, sekarang keluarnya sedikit,” ucapnya.

Ember berisi air sumur milik Sutanti (57), warga Tridarma Utama RT 05/RW 12, Cilandak Barat, yang telah diberi sitrun untuk menjernihkan air, Senin (14/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Kata Nurhayati, pengurangan debit air itu membuat waktu pengisian toren menjadi lebih lama. Jika biasanya toren penuh sekitar pukul 06.00 WIB, kini pengisian bisa baru selesai sekitar pukul 07.00 WIB.

“Yang biasanya kita pakai toren, pagi biasanya kita ngisi sekitar jam 05.30, biasanya jam 06.00 sudah penuh. Sekarang lebih setengah jam, lebih satu jam. Jadi biasanya jam 07.00 baru penuh,” terang Nurhayati.

Menurut dia, kondisi tersebut mulai berdampak pada aktivitas keluarga. Nurhayati harus menunggu air lebih lama sebelum memulai kegiatan pada pagi hari, termasuk menyiapkan anak-anak yang sekolah dan anggota keluarga yang bekerja.

“Ya itu, jadi nunggu airnya. Kita kan biasanya jam 05.30 sudah aktivitas, sudah siap, karena ada yang sekolah, ada yang kerja. Jadi sekarang lebih pagi lagi kita bangunin anak-anak,” ujarnya.

Ia menyebut, kondisi tahun ini lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya. Jika biasanya toren diisi dua kali sehari, yakni pagi dan sore, kini pengisian bisa dilakukan tiga kali sehari karena air lebih cepat habis.

Namun, kondisi itu belum membuat Nurhayati untuk memperdalam sumurnya. Selama ini, ia mengandalkan jet pump dari sumur bor pribadi dengan kedalaman lebih dari 13 meter. Kata dia, pengeboran terakhir dilakukan sudah lama dengan biaya sekitar Rp 3 juta hingga Rp 4 juta.

Sutanti (57), warga Tridarma Utama RT 05/RW 12, Cilandak Barat, yang memberikan sitrun untuk menjernihkan air, Senin (14/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Di sisi lain, Sutanti (57), warga Tridharma Utama Raya, RT 05/RW12, Cilandak Barat, menghadapi persoalan berbeda. Air sumur di rumahnya masih tersedia, tetapi sejak sekitar dua minggu terakhir berubah menjadi keruh kemerahan, tampak seperti tercampur tanah.

“Kurang lebih sudah dua minggu ini airnya agak merah. Jadi kayak ada tanahnya,” ungkap Sutanti.

Ia kemudian sesekali menambahkan sitrun ke air yang ditampung di ember agar tampak lebih bening. Namun, kondisi tersebut hanya bertahan sekitar dua hari sebelum air kembali berubah kuning kemerahan, sehingga tampungan air harus lebih sering dibersihkan.

Sutanti menduga kondisi tersebut berkaitan dengan kemarau panjang yang membuat debit air sumur berkurang, sehingga pompa kemungkinan menyedot tanah.

“Kemarau panjang mungkin. Mungkin bisa jadi sumurnya agak kurang airnya, jadi dia menyedot tanah mungkin,” sebutnya.

Karena air sumur tidak lagi layak digunakan untuk memasak dan minum, Sutanti mulai membeli air isi ulang. Dalam sepekan, ia menghabiskan sekitar enam galon dengan harga Rp 7.000 per galon. Artinya, pengeluaran untuk air minum dan memasak mencapai sekitar Rp 42 ribu per minggu.

Kendati demikian, ia mengaku tetap menggunakan air sumur untuk mencuci karena membeli air dalam jumlah banyak dinilai terlalu mahal. Sementara untuk mandi, air terlebih dahulu ditampung dan diberi sitrun agar warna merahnya tidak terlalu terlihat.

“Untuk mandi, biar enggak kelihatan. Geli kalau mandi air merah begitu,” bebernya.

Sutanti mengatakan, kondisi air keruh juga dialami oleh tetangganya. Padahal, sebelumnya air sumur di rumahnya jernih dan warga sekitar bahkan kerap meminta air kepadanya untuk memasak.

Air sumur dalam paci milik Dewi (39), warga RT 06/RW 12, Cilandak Barat, sebagai stok air di tengah debit air yang mengecil saat musim kemarau, Senin (14/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

“Orang belakang sering minta untuk masak. Sekarang enggak minta karena keruh,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Sutanti berharap ada bantuan untuk membeli air bersih, meski tidak harus dalam bentuk distribusi air karena keterbatasan tempat penyimpanan.

“Ya, biar untuk beli air saja. Ada bantuan untuk beli air bersih, bisa untuk minum sehari-hari atau masak,” ujarnya.

“Bantuan enggak harus berbentuk air, bisa berbentuk uang supaya kita bisa beli. Kalau bantuan air, mau ditaruh di mana juga enggak bisa,” lanjut Sutanti.

Muhammad Nur (52), warga RT 09/RW 04, Kelurahan Pondok Labu, juga mulai mengantisipasi kemungkinan air sumur semakin sulit didapat. Meski rumahnya belum mengalami kekeringan, ia memilih mengisi penuh bak mandi dan beberapa wadah penampungan air setiap kali mesin jet pump dinyalakan.

“Kalau bagi saya pribadi, misalnya pagi, kita narik. Kita narik isi penuh dulu di bak mandi, di bak air, apa segala macam. Kita beli beberapa bak supaya diisi,” kata Nur.

Cara tersebut dilakukan agar mesin tidak perlu terlalu sering dinyalakan. Air yang telah ditampung kemudian digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sementara mesin kembali dihidupkan ketika cadangan air mulai habis.

“Paling banyak sehari dua kali, tapi paling minimal sehari sekali, karena kita ada penampungan air di bak mandi,” ujarnya.

Nur mengaku, kondisi serupa pernah terjadi pada tahun sebelumnya. Saat itu, mesin jet pump di rumahnya harus diturunkan karena air semakin sulit disedot. Saat ini, kedalaman jet pump di rumahnya sekitar 10 meter. Jika kondisi memburuk, mesin bisa diturunkan hingga 15–20 meter.

“Sempat, sempat terjadi begini juga, sampai-sampai mesin jet pump-nya itu kita turunkan ke bawah lagi karena memang air sudah benar-benar kering,” katanya.

Ia menyebut penurunan mesin jet pump membutuhkan biaya lebih dari Rp 500 ribu hingga kurang dari Rp 1 juta, tergantung kedalaman dan pekerjaan yang dilakukan. Jika mesin harus diturunkan lebih dalam, biayanya dapat semakin besar.

Air sumur dalam paci milik Dewi (39), warga RT 06/RW 12, Cilandak Barat, sebagai stok air di tengah debit air yang mengecil saat musim kemarau, Senin (14/9/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Nur turut mengimbau warga sekitar untuk menghemat penggunaan air dan menyiapkan tempat penampungan sebagai cadangan. Ia juga berharap warga saling membantu apabila ada tetangga yang kesulitan mendapatkan air.

“Cuma itu, saya berharap misalnya kita sebagai warga ataupun tetangga juga saling mengimbau. Jika airnya sudah agak kering, agar lebih irit,” terangnya.

Selain itu, ia meminta pemerintah turun langsung meninjau kondisi sumber air di dalam permukiman warga, bukan hanya melihat wilayah di sekitar jalan utama atau kawasan pembangunan.

“Jadi tolong ditinjau ke lokasi, ke warga-warga. Jangan hanya di depannya saja, di istilahnya lift depannya doang. Tapi kalau untuk di dalam, warga itu kadang-kadang rumah juga berdempetan, segala macam, saluran air juga menghambat, segala macam itu. Nah, itu tolong perhatian dari pemerintah,” kata Nur.