Cerita Warga Karo Terpaksa Mengungsi ke Jambur Akibat Erupsi Gunung Sinabung

Ratusan warga dari Desa Kuta Tengah terpaksa mengungsi ke tempat pengungsian yaitu jambur, bangunan luas tanpa dinding yang berfungsi sebagai ruangan serbaguna, di Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada Selasa (1/9).
Pantauan kumparan, tampak para warga membentangkan tikar untuk jadi alas tempat tidurnya. Gumpalan baju yang dibalut plastik, mereka bawa ke tempat pengungsian.
Beberapa warga beristirahat setelah lelah memindahkan barang-barang bawaan dari rumahnya. Sebagian warga juga menelepon saudaranya yang jauh dari mereka.
Suara teriakan anak-anak kecil dan langkah kaki mereka, membuat suasana menjadi hangat.
Salah satu warga Desa Kuta Tengah bernama Jamilah Boru Ginting (53), menceritakan kejadian erupsi Gunung Sinabung pada Senin (31/8) kemarin.
Saat itu, Jamilah berada di kebun untuk memetik terong. Tiba-tiba, ia melihat ada erupsi berupa gumpalan abu vulkanik di atas puncak gunung.
"Jadi, jam 11 itu saya masih di ladang (kebun). Jadi, kira-kira jam 15.30 WIB langsung terjadi erupsi," kata Jamilah saat berbincang-bincang dengan kumparan, Selasa (1/9).
Ia pun langsung pergi ke sebuah gubuk dan menyusun buah terong yang dipetiknya untuk dibawa ke Pasar. Ternyata, sampai di pasar sudah banyak debu yang menyebar sehingga ia langsung pulang ke rumah.
"Setelah sampai di pasar banyak sekali debu. Kami pulang ke rumah sampai jam 10 malam," ucap Jamilah.
Beruntung, rumah Jamilah tak terkena abu vulkanik, sebab abu vulkanik mengarah ke Timur Tenggara.
Ia pun, mengungsi ke tempat pengungsian yaitu Jambur dikarenakan pemerintah setempat telah mengeluarkan peringatan situasi Gunung Sinabung di tahap Level III Siaga.
Jamilah bersama keluarganya ke tempat pengungsian dengan membawa perlengkapan seadanya yaitu selimut, pakaian dan jeriken air minum.
"Bawa barang apa ya, selimut, tikar, termos mini, sirih, itu cuma kami bawa," ucap Jamilah.
Anak Jamilah sekolah di Berastagi, area yang cukup jauh dari erupsi Gunung Sinabung. Lalu, saat anaknya pulang sekolah langsung pergi ke tempat pengungsian bersama ibunya.
Jamilah berharap agar mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk menghadapi bencana erupsi Gunung Sinabung tersebut.
"Harapan kami, bantulah kami, kasih bantuan lah," imbuh Jamilah.
Salah satu warga lain bernama Roy Sembiring (35), mengatakan saat terjadi erupsi Gunung Sinabung, dirinya langsung panik. Sebab, sudah lama Gunung Sinabung tidak lagi erupsi.
"Rasa panik pasti ada, was-was, khawatir. Karena sudah lama pula ini enggak erupsi," katanya.
Ia pun bersama keluarganya pun mengungsi ke tempat pengungsian berupa Jambur di Desa Sukatepu, Kabupaten Karo.
Sebelumnya, Gunung Sinabung menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi 3.500 meter (3,5 kilometer) dari atas puncak, pada Senin (31/8) sekitar pukul 10.17 WIB, di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Akibatnya gunung tersebut erupsi dan abu menyebar ke permukiman warga di daerah Berastagi dan Gunung Sibayak.
Kini status Gunung Sinabung telah memasuk tahap Level III Siaga dari Level II Waspada.
