Cerita Warga Semarang Korban Selamat Tragedi KM Virgo: Sempat Terombang-Ambing

Haryono (58) warga Desa Diwak, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah tak henti mengucapkan syukur setelah selamat dari tragedi tenggelamnya KM Virgo 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada Minggu, 13 September 2026.
Haryono yang merupakan pengantar tenaga kerja sawit Kalimantan, saat itu berangkat bersama 15 orang calon pekerja melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Kapal berangkat pada Sabtu (12/9) sekitar pukul 10.00 WIB
"Sampai di kapal itu saya sempat ketiduran sebentar bermimpi yang paling aneh ini kapal tenggelam, wah siang bolong mimpi kayak gitu. Tapi saya anggap angin lalu saja," ujar Haryono kepada wartawan, Rabu (23/9).
Ia mengaku tidak ada keanehan apa pun selama di perjalanan, hingga pada Minggu (13/9) sekitar pukul 01.00 WIB, ia mendengar ada seseorang yang mengatakan kapal mau tenggelam.
"Begitu saya bangun saya langsung cari apa itu jaket pelampung. Begitu sudah pakai jaket pelampung baru saya mau keluar dari ruangan ruangan tidur ekonomi lesehan," jelas dia.
Saat itu kondisi kapal sudah miring dengan posisi pintu keluar mengarah ke atas. Sekuat tenaga ia berusaha meninggalkan ruangan tidur ekonomi itu.
"Setelah sampai di atas, saya mau keluar harus melewati tangga. Sampai di tangga itu saya kapal posisinya sudah hampir 90 derajat. Saya seperti dilempar. Dilempar, jatuh, kena besi pengaman yang ada di, pinggir tangga itu," ungkap Haryono.
Haryono akhirnya terlempar ke lautan luas, beruntung ia sudah mengenakan jaket pelampung. Ia sempat terombang-ambing sebelumnya akhirnya menemukan sekoci darurat.
"Saya hanya berpikir ini kok alat penyelamat yang lain enggak ada seperti sekoci atau apa. Kebetulan setelah beberapa menit itu ada alat sekoci atau liferaft itu yang langsung mengembang di depan saya," imbuh dia.
Haryono sempat merasa kesulitan untuk meraih sekoci tersebut lantaran berkali-kali dihantam ombak. Setelah berhasil naik, ia akhirnya menyelamatkan sejumlah penumpang yang bernasib sama.
"Setelah sampai di atas ini belum ada orang. Jadi baru saya yang naik di situ. Tahu di belakang saya ada yang minta tolong itu masih di dalam laut sekitar 3 orang saya tolong," tutur Haryono.
Dari atas sekoci Haryono melihat masih banyak orang yang berada di atas kapal yang kini kondisinya sudah terbalik itu.
"Setelah masuk liferaft nah Ini saya lihat di luar itu, ini pas kebetulan lihat di atas kapal ini masih ada beberapa orang yang berdiri di situ karena kapal ini posisinya tengkurap jadi tidak tenggelam. Ya, tengkurap saja," ungkap Haryono.
Ternyata tali sekoci itu masih terikat pada kapal Virgo karena sekocinya tak kunjung menjauh. Ia lalu meminta penumpang yang saat itu masih memiliki tenaga untuk melepaskan tali karena jika tidak mereka juga akan ikut tenggelam.
"Kebetulan waktu itu ada satu orang yang mau memberanikan diri turun dari sekoci itu merembet-merembet untuk melepas tali. Nah, setelah tali dilepas dia naik," sambung Haryono.
Setelah tali pengait lepas, sekoci darurat itu langsung terlempar jauh dari Kapal Virgo karena ombak yang tinggi. Mereka kemudian terombang ambing di lautan lepas.
"Kita sudah enggak tahu sampai mana, tahu-tahu sudah dibawa ombak ke sana-sini, kita enggak tahu ke mana. Kemungkinan jaraknya dari kapal yang tenggelam ini hampir puluhan kilo," ujar Haryono.
Harapan akhirnya tiba setelah mereka melihat kapal nelayan dari Juwana, Kabupaten Pati. Mereka lalu membunyikan peluit dan menyalakan lampu yang melekat pada pelampung masing-masing.
"Jam 10.00 WIB pagi baru ketemu kapal nelayan, itu pun jaraknya jauh. Akhirnya kita yang masih kuat membunyikan peluit sama lampu itu. Kebetulan nelayannya ini tanggap, dia lihat, langsung kita di samperin sama nelayan. Akhirnya kita dievakuasi sama nelayan," tutur Haryono.
Ia menyebut, total ada 22 penumpang kapal Virgo yang diselamatkan oleh nelayan Juwana tersebut. Mereka juga diberi makan minum dan pakaian bersih.
"Setelah di sampai di kapal nelayan, ternyata di situ sudah ada 12 orang yang sudah diselamatkan sama nelayan. Jadi total dengan ee yang diselamatkan terakhir ada 22 orang. Dari 22 orang ini yang laki-laki ini 21, perempuannya cuma satu," ungkap Haryono.
Setelah menginap beberapa hari di Kalimantan, Haryono memutuskan untuk pulang naik pesawat pada Sabtu (19/9/2026). Dia berangkat ke bandara pagi hari bersama tujuh orang lain.
"Paginya jam 08.00 kita dijemput ke bandara. Tiket sudah diuruskan dari pihak gubernur. Sabtu pagi berangkat rombongan delapan orang," kata Haryono.
Haryono bersama satu korban selamat dari Jepara turun di Bandara Jenderal Ahmad Yani Kota Semarang. Sementara enam orang lain turun di Surabaya.
"Yang turun di Semarang dua orang, yang Surabaya enam orang. Saya turun Semarang sama orang Jepara. Dari Banjarmasin berangkat jam 10.25 WIB sampai Semarang jam 10.40 WIB, karena kan selisih satu jam itu," ungkap Haryono.
Terkait nasib 15 orang yang bersamanya saat itu, Haryono menyebut ke 15 orang sudah dinyatakan meninggal dunia. Bahkan ada 5 orang yang jasadnya belum ditemukan.
"Informasinya katanya sudah meninggal, itu dari daerah Palembang, Jawa Barat, Jawa Tengah. Saya saat itu hanya mengantar mereka saja. Biar bagaimana pun saya bersyukur saya masih diberi keselamatan," kata Haryono.
