Cerita WN Belanda-Australia di Bali Batal Terbang Imbas Erupsi Anak Krakatau

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penanganan penumpang terdampak di Bandara Ngurah Rai, Bali, Minggu (6/9/2026). Foto: Bandara Ngurah Rai
zoom-in-whitePerbesar
Penanganan penumpang terdampak di Bandara Ngurah Rai, Bali, Minggu (6/9/2026). Foto: Bandara Ngurah Rai

Sejumlah penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, mengalami pembatalan pada Minggu (6/9) imbas erupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan keterangan manajemen Bandara Ngurah Rai per pukul 15.30 WITA, sebanyak 42 penerbangan mengalami penyesuaian jadwal.

Pantauan di Terminal Domestik Bandara Ngurah Rai, ratusan penumpang tampak mengantre di layanan informasi penerbangan (customer service) maskapai. Mereka mencari kepastian jadwal penerbangan hingga melakukan penjadwalan ulang (reschedule) tiket.

Manajemen Bandara Ngurah Rai juga menyediakan layanan service recovery bagi penumpang yang terdampak pembatalan penerbangan. Layanan tersebut berupa meja khusus yang menyediakan minuman dan makanan ringan.

Tak hanya warga Indonesia, sejumlah warga negara asing (WNA) juga terdampak pembatalan penerbangan. Salah satunya Nick dan temannya, Greg, warga Australia.

Mereka seharusnya terbang ke Jakarta pada pukul 17.30 WITA untuk menghadiri konferensi. Namun, penerbangan mereka dibatalkan pada Minggu (6/9). Keduanya kemudian datang ke Bandara Ngurah Rai untuk menjadwalkan ulang tiket.

"Kami mau ke Jakarta sekarang, tetapi tampaknya penerbangan dibatalkan. Jadi kami mau lihat apakah bisa dapat penerbangan baru untuk besok dan lihat bagaimana nanti," kata Nick saat ditemui di Terminal Domestik Bandara Ngurah Rai, Minggu (6/9).

Suasana Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai setelah penutupan sejumlah penerbangan ke Jakarta, Minggu (6/9/2026). Foto: Sandra Gisela/kumparan

Nick dan Greg mendapatkan pemberitahuan pembatalan penerbangan melalui email. Namun, Nick tetap datang ke Bandara Ngurah Rai untuk mencari jadwal penerbangan dengan maskapai lain agar dapat tiba di Jakarta tepat waktu sebelum konferensi.

Nick mengaku kecewa dengan pembatalan tersebut. Namun, dia menyadari kondisi itu berada di luar kendalinya. Beruntung, dia masih memiliki jeda waktu beberapa hari sebelum konferensi.

Nick berharap segera mendapatkan penerbangan baru. Meski demikian, dia memperkirakan gangguan penerbangan dapat berlangsung lebih lama dari yang diharapkan.

"Saya berharap kami bisa mendapat penerbangan baru secara gratis, tapi saya merasa mereka akan meminta kami melakukan pembatalan (refund), lalu membeli tiket baru. Saya juga merasa ini akan memakan waktu lebih lama dari yang kami inginkan," jelasnya.

Hal serupa dialami Martin, turis asal Belanda yang hendak kembali ke negaranya setelah berlibur di Bali. Dia menggunakan maskapai Garuda Indonesia dengan tujuan Amsterdam dan harus transit terlebih dahulu di Bandara Soekarno-Hatta.

"Penerbangan saya pukul 18.30 WITA. Namun, penerbangan saya dibatalkan karena ada beberapa aktivitas gunung berapi yang terjadi saat ini. Jadi, itulah mengapa banyak penerbangan dari sekitar Jakarta dibatalkan saat ini," ungkap Martin.

Martin mengetahui pembatalan penerbangannya setelah menghubungi maskapai melalui Instagram. Pihak maskapai kemudian mengonfirmasi bahwa penerbangannya dibatalkan.

Setelah itu, Martin memilih mengantre di Bandara Ngurah Rai untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai penerbangannya. Dia melakukan hal tersebut karena masa berlaku visanya hanya tersisa tujuh hari.

"Kami sebenarnya hanya liburan, tapi sepertinya liburannya akan diperpanjang. Saya ingin melihat apakah mereka bisa mengalihkan penerbangan saya. Tidak harus ke Jakarta, saya butuh pengalihan rute ke tempat lain atau terbang langsung ke Amsterdam jika memungkinkan," ucapnya.

Jika belum mendapatkan penerbangan kembali ke negaranya, Martin berencana memesan hotel di Denpasar untuk menginap selama satu malam.

"Mudah-mudahan dalam tujuh hari semuanya bisa terselesaikan," tambahnya.

Diketahui, manajemen Bandara Ngurah Rai mencatat sebanyak 42 penerbangan mengalami penyesuaian jadwal imbas erupsi Gunung Anak Krakatau. Dari jumlah tersebut, 30 penerbangan menuju Bandara Soekarno-Hatta dibatalkan dan satu penerbangan mengalami penundaan.

Sementara itu, dua penerbangan menuju Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan dua penerbangan menuju Bandara Husein Sastranegara, Bandung, turut dibatalkan.

Selain itu, terdapat tujuh penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Ngurah Rai yang dibatalkan.