Cerita Yusuf, Remaja yang Mengais Rezeki dari Sketsa Wajah di Bundaran HI

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wawancara dengan Muhammad Yusuf (17), Pelukis sketsa wajah di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu (12/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wawancara dengan Muhammad Yusuf (17), Pelukis sketsa wajah di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu (12/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Goresan tangannya telah melukis ribuan wajah yang berlalu lalang di Bundaran HI, Jakarta Pusat. Di atas kertas, pensil di tangannya bergerak mengikuti lekuk wajah orang-orang yang digambarnya. Itulah keseharian dari seorang remaja bernama Muhammad Yusuf (17).

Setiap akhir pekan, Yusuf datang ke kawasan Bundaran HI untuk menawarkan jasa sketsa wajah. Ia tidak mematok harga, orang yang ingin digambar cukup membayar seikhlasnya.

Namun, aktivitas Yusuf di tengah keramaian Jakarta bukan sekadar tentang menggambar. Di balik kertas dan pensil yang dibawanya, ada upaya seorang remaja untuk membantu ibunya memenuhi kebutuhan hidup.

“Sehari-hari saya kalau weekdays jualan roti di Stasiun Sudirman dari pagi sampai sore. Dan kalau setiap weekend itu jualan pagi doang. Sorenya ngelukis di HI,” kata Yusuf saat ditemui di Bundaran HI, Jakarta, Sabtu (12/9).

Kegemarannya menggambar sudah muncul sejak kecil. Yusuf aktif menekuni aktivitas menggambarnya itu. Namun, ketika kondisi ekonomi keluarganya memburuk, ia mulai berpikir untuk menjadikan kemampuan menggambarnya sebagai sumber penghasilan tambahan.

“Waktu kecil memang hobi gambar. Cuma sejak ekonominya mulai down, saya mikir buat jadiin bakat saya sebagai sampingan gitu, Bang,” ungkap Yusuf.

Dari Ngamen hingga Jualan Roti di Stasiun

Kondisi ekonomi tersebut bermula setelah orang tua Yusuf berpisah. Saat itu, keluarganya tidak memiliki penghasilan sama sekali. Sebelum berjualan roti, Yusuf sempat mengamen menggunakan darbuka, alat musik yang berasal dari Timur Tengah. Ia juga pernah mencoba berjualan makanan di sekolah.

“Awal mulanya karena orang tua pisah, dan ekonominya saat itu mulai down dan nggak ada penghasilan sama sekali. Jadi, awal mulanya tuh saya ngamen dulu,” kata Yusuf.

“Terus dari situ coba jualan di sekolahan. Jualan donat, roti goreng, martabak. Terus karena di sekolahan nggak laku, akhirnya coba terjun ke lapangan, ke Stasiun Sudirman,” tambahnya.

Yusuf mulai berjualan di Stasiun Sudirman sejak duduk di bangku kelas 7 SMP pada 2023. Baginya, berjualan di sekolah bukan perkara mudah. Makanan yang dibawanya kerap tak habis sehingga ia harus menanggung kerugian.

“Saya jualin keliling kelas atau saya titipin ke kantin gitu. Cuma sering banget nggak laku. Maksudnya sering nombok,” ungkapnya.

Berbeda dengan di sekolah, Stasiun Sudirman memberinya lebih banyak pelanggan. Menurut Yusuf, para pembeli di stasiun memiliki kebutuhan yang berbeda dengan teman-temannya di sekolah.

Beberapa hasil karya Muhammad Yusuf di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu (12/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

“Dari pelanggan lebih banyak di Sudirman. Karena di sekolahan tuh anak-anak lebih pilih yang murah dan kenyang," ungkapnya.

Meski begitu, berjualan di jalanan juga menghadirkan tantangan tersendiri. Yusuf mengaku pernah mengalami berbagai kejadian, mulai dari dimintai uang oleh preman hingga berhadapan dengan Satpol PP.

“Suka itu kalau ada pelanggan terus ada tip gitu, nah itu senang banget. Tapi dukanya ada banyak dari Satpol PP, dari preman-preman. Dari pedagang lain yang iri gitu,” kata Yusuf.

Ia bahkan pernah dimintai uang Rp 5.000 oleh preman setiap hari. Namun, hal itu kini sudah tidak terjadi lagi.

“Dari preman pernah dipalakin Rp 5.000 sehari. Cuma sekarang sudah enggak, alhamdulillah,” tutur dia.

Salah satu kejadian yang paling membekas baginya terjadi ketika ada penertiban. Saat itu, kotak yang digunakannya untuk memajang roti direbut hingga roti yang dibawanya jatuh.

“Saya lagi jalan, tahu-tahu Satpol datang ngerebut boks saya buat nge-display roti. Terus saya tahan, akhirnya roti jatuh-jatuhan tuh, Bang. Satpol nginjak satu roti,” tutur Yusuf.

“Waktu itu agak sedih sih, Bang. Terus sempat adu mulut juga sama Satpol-nya, sempat kata-kataan gitu. Saling maki-maki. Cuma ya sudahlah ridho-ridho aja,” lanjutnya.

Sketsa Wajah Dibayar Seikhlasnya

Di sela perjuangannya berjualan, Yusuf tetap mempertahankan kemampuan menggambar yang telah menjadi hobinya sejak kecil. Saat akhir pekan, selain berjualan ia juga mengasah kemampuannya melalui kertas gambar.

Di sana, Yusuf menawarkan jasa sketsa wajah dengan sistem pembayaran seikhlasnya. Ia sengaja tidak menetapkan tarif agar orang-orang tetap bisa menggunakan jasanya sesuai kemampuan.

“Karena di HI sini kan banyak orang-orang yang kelas menengah kan, yang mungkin pengin dapat lukisan tapi dengan budget yang rendah gitu. Jadi saya atur budget mereka sesuai yang mereka pengenin gitu, Bang. Biar nggak keberatan mereka juga” kata Yusuf.

Sistem tersebut membuat penghasilannya dari menggambar tidak menentu. Rata-rata orang yang menggunakan jasanya memberikan sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu. Bahkan, Yusuf pernah menerima bayaran hanya Rp 5.000.

“Paling rendah itu pernah bayar Rp 5.000, itu sakit banget,” ungkap Yusuf.

Sementara dari berjualan roti, penghasilannya juga bergantung pada jumlah roti yang terjual. Dalam sehari, Yusuf membawa 30 roti, masing-masing 15 pada pagi dan sore hari.

“Sehari itu bawa roti 2 kali 15 biji kan, pagi-sore. Jadi kira-kira bisa menghasilkan Rp 300.000 sehari, itu masih kotor. Kalau bersih itu kisaran Rp 100.000-an kalau nggak salah,” ujar Yusuf.

Beberapa hasil karya Muhammad Yusuf di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu (12/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Bertahan untuk Ibu

Bagi Yusuf, sang ibu memiliki peran penting dalam kehidupannya. Selain menjadi sosok yang menghidupinya, ibu Yusuf juga membuat sendiri roti yang kemudian dijualnya setiap hari.

“Selain dari buat kesehatan mental, Ibu juga yang menghidupi saya, Bang. Jadi itu roti-roti semua Ibu yang bikin tuh. Misalkan nggak ada Ibu, saya mau hidup pakai gimana gitu," ujar Yusuf.

Karena itu, ketika merasa lelah atau berada dalam kondisi sulit, sosok ibunya pula yang membuat Yusuf tetap bertahan.

"Karena harus menghidupi Ibu, harus tetap hidup,” katanya.

Meski harus bekerja untuk membantu kebutuhan keluarga, Yusuf tidak sepenuhnya meninggalkan pendidikan. Setelah sebelumnya tidak melanjutkan sekolah formal, kini ia mengikuti pendidikan Paket C di PKBM Muslimin di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Pendidikan bahkan menjadi salah satu hal yang ingin lebih ia dalami jika suatu hari kondisi ekonominya sudah tercukupi. Selain sekolah, Yusuf juga ingin kembali mendalami seni.

“Kalau tercukupi, saya fokus ke pendidikan sih. Lebih fokus ke sekolah, ke mendalami seni juga sih,” katanya.

Namun, Yusuf tidak membayangkan dirinya menjadikan menggambar sebagai pekerjaan utama. Ia justru memiliki mimpi yang berbeda.

“Pengin yang utama itu jadi bos perusahaan. Perusahaan roti Ibu saya, gitu,” ungkap dia.

“Yang jelas saya pengin bahagiain Ibu, saya pengin berangkatin Ibu umrah dan haji sekalian. Saya pengin buatin Ibu perusahaan, pengin buatin Ibu rumah di luar negeri, di Makkah, sebagai ucapan terima kasih,” pungkasnya.

Bagi Yusuf, perjalanan hidupnya saat ini belum selesai. Di satu sisi ia masih harus membawa roti untuk membantu ibunya. Di sisi lain, pensil tetap berada di tangannya sebagai kemampuan yang ia rawat sejak kecil.

Dan di balik semua itu, Yusuf masih menyimpan satu harapan lain: terus belajar dan mengembangkan dirinya. Sebab, jika kelak kebutuhan hidupnya telah tercukupi, ia ingin memiliki lebih banyak ruang untuk pendidikan dan seni yang sejak kecil telah menjadi bagian dari dirinya.