Konten dari Pengguna

Dakwah Islam dan Proximate Reality: Membaca Arah Baru Kondisi Indonesia Hari Ini

Afidatul Asmar

Afidatul Asmar

Akademisi Bidang Dakwah dan Komunikasi Institut Agama Islam Negeri Parepare

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Afidatul Asmar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi integrasi dakwah Islam, kearifan lokal, teknologi digital, dan pemberdayaan masyarakat sebagai pilar utama dalam mewujudkan pembangunan sosial yang berkelanjutan dan berdaya saing di era transformasi digital. Photo: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi integrasi dakwah Islam, kearifan lokal, teknologi digital, dan pemberdayaan masyarakat sebagai pilar utama dalam mewujudkan pembangunan sosial yang berkelanjutan dan berdaya saing di era transformasi digital. Photo: Gemini AI

Berbicara tentang kondisi Indonesia hari ini berarti kita sedang berhadapan dengan tumpukan dinamika sosial yang berlari lebih cepat dari jarum jam. Mulai dari ketimpangan ekonomi, segregasi sosial, krisis moral, hingga disrupsi budaya akibat arus informasi tanpa filter. Dalam kacamata sosiologi, inilah yang disebut sebagai fenomena determinasi proximate causation atau proximate reality yakni faktor-faktor langsung dan terdekat (seperti interaksi simbolik, milieu individu, dan lingkungan sosial jarak dekat) yang secara nyata dan seketika membentuk perilaku masyarakat kita sehari-hari.

Pertanyaannya, di tengah pusaran proximate reality yang kerap kali bising dan problematik ini, di manakah posisi dakwah Islam?

Selama ini, narasi dakwah sering kali terjebak pada pendekatan yang sifatnya tekstual dan normatif . Dakwah lebih banyak berbicara tentang "surga dan neraka" atau ritual ibadah, namun terkadang gagap ketika diminta merespons fenomena kemiskinan struktural atau konflik intoleransi di depan mata. Padahal, dakwah tidak seharusnya berhadapan dengan realitas masyarakat yang statis. Dakwah harus hadir sebagai problem solver, bukan sekadar penyampai dogma.

Mengkonfrontasikan Teks Suci dengan Realitas Nyata

Di sinilah kita perlu menarik kembali esensi Al-Quran dan Hadis melalui pendekatan hermeneutika atau tafsir sosial. Al-Quran dan Hadis tidak diturunkan ke ruang hampa, melainkan untuk merespons masalah manusia . Membaca teks-teks suci ini tanpa melihat proximate reality hanya akan melahirkan pemahaman agama yang inklusif namun tidak membumi.

Para cendekiawan dan mufasir Indonesia, seperti M. Dawam Rahardjo melalui tafsir tematik-sosialnya, telah mengingatkan bahwa penafsiran agama harus menjadikan realitas sosial sebagai titik tolak utamanya. Demikian pula dalam kajian hadis, pemahaman yang tekstualis harus digeser menjadi kontekstual agar hadis-hadis Nabi berfungsi sebagai landasan moral dan etika sosial yang menjawab masalah seperti keadilan, kemanusiaan, dan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai contoh, realitas proksimat berupa kemiskinan atau ketimpangan ekonomi di Indonesia tidak bisa diselesaikan hanya dengan seruan bersabar. Dalam pendekatan tafsir kontekstual, pesan Al-Quran dan Hadis tentang kepedulian sosial diterjemahkan menjadi keadilan distributif, seperti optimalisasi instrumen zakat produktif yang bertujuan memberdayakan masyarakat secara terstruktur. Islam memandang bahwa kemiskinan adalah masalah nyata yang harus ditanggulangi melalui reaktualisasi maqashid al-syariah (tujuan syariat) demi kemaslahatan umum.

Fikih Sosial: Arah Baru Dakwah Keindonesiaan

Merespons proximate reality bangsa, paradigma dakwah kita harus berevolusi menuju apa yang oleh KH. Sahal Mahfudh disebut sebagai "Fikih Sosial". Fikih tidak boleh sekadar menjadi hukum yang kaku (legal-formal), melainkan harus menjadi etika sosial yang responsif dan solutif terhadap perubahan zaman.

Dakwah di era modern tidak cukup lagi hanya mengandalkan lisan (tabligh) dari atas mimbar. Dakwah harus bertransformasi menjadi dakwah kultural yang menyentuh akar budaya masyarakat secara persuasif, dan dakwah struktural yang mampu menginternalisasi nilai-nilai universal Islam ke dalam kebijakan publik yang mengentaskan kebodohan dan ketidakadilan

Pada akhirnya, membaca arah baru kondisi Indonesia berarti menuntut umat Islam untuk membumikan ajaran agamanya. Al-Quran dan Hadis adalah pedoman abadi, namun cara kita menerjemahkannya harus selalu berdialog dengan proximate reality. Hanya dengan cara inilah, dakwah Islam benar-benar mewujud sebagai rahmatan lil 'alamin sebuah rahmat yang tak hanya diyakini di dalam hati, tetapi wujud dan bekerja menyelesaikan masalah nyata di tengah-tengah bangsa Indonesia.