Konten dari Pengguna

Dari Badawi ke Hadari: Ibnu Khaldun, Solidaritas, dan Masyarakat Modern

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faiz Romzi Ahmad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

The Mukaddimah/archive.org
zoom-in-whitePerbesar
The Mukaddimah/archive.org

Badawi dan Hadari: Dua Wajah Kehidupan Masyarakat

Ketika membaca Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, saya menemukan pembahasan menarik mengenai dua bentuk kehidupan masyarakat, yaitu Umran Badawi dan Umran Hadari.

Secara sederhana, Umran Badawi menggambarkan kehidupan masyarakat yang masih sederhana, dekat dengan alam, dan memiliki ikatan sosial yang kuat. Sementara Umran Hadari menggambarkan masyarakat yang telah hidup menetap, membangun kota, serta mengembangkan kehidupan ekonomi, politik, dan kebudayaan yang lebih kompleks.

Pada pandangan pertama, kita mungkin menganggap bahwa masyarakat Hadari merupakan bentuk perkembangan dari masyarakat Badawi: dari kehidupan yang sederhana menuju kehidupan yang lebih maju dan kompleks. Namun bagi Ibnu Khaldun, perubahan tersebut tidak hanya membawa kemajuan. Ia juga membawa persoalan baru dalam kehidupan masyarakat.

Ketika Kemajuan Mengubah Solidaritas

Masyarakat Badawi yang hidup dalam kondisi sederhana memiliki ketergantungan yang kuat satu sama lain. Mereka membutuhkan kelompoknya untuk bertahan hidup. Dari kondisi semacam itu tumbuh ashabiyah, yaitu ikatan solidaritas yang membuat suatu kelompok mampu bertahan dan bergerak bersama.

Ketika masyarakat berkembang menjadi masyarakat Hadari, kehidupan menjadi lebih nyaman. Kekayaan bertambah, kebutuhan hidup semakin mudah dipenuhi, pembagian kerja semakin kompleks, dan manusia tidak lagi bergantung secara langsung kepada kelompoknya sebagaimana sebelumnya.

Di sinilah pemikiran Ibnu Khaldun menjadi menarik. Kemajuan kehidupan dapat meningkatkan kesejahteraan, tetapi pada saat yang sama dapat mengubah hubungan antarmanusia. Masyarakat menjadi semakin kompleks, tetapi belum tentu semakin erat.

Ashabiyah di Tengah Masyarakat Modern

Kita hidup dalam zaman yang jauh lebih maju dibandingkan masyarakat yang diamati Ibnu Khaldun. Kota-kota semakin besar, teknologi berkembang pesat, komunikasi semakin mudah, dan banyak kebutuhan hidup dapat dipenuhi secara individual. Namun, apakah kemajuan tersebut selalu membuat kita semakin terhubung?

Kita dapat berkomunikasi dengan siapa saja melalui telepon genggam, memiliki ratusan bahkan ribuan teman di media sosial, tetapi belum tentu mengenal tetangga sendiri atau memiliki banyak orang yang benar-benar hadir ketika menghadapi kesulitan. Di sinilah ashabiyah menjadi relevan untuk dibicarakan kembali, bukan sebagai ajakan untuk kembali hidup seperti masyarakat Badawi, melainkan sebagai pengingat bahwa sebuah masyarakat membutuhkan rasa kebersamaan untuk tetap kuat.

Baduy: Cermin dari Banten

Menariknya, kita memiliki contoh yang dekat di Banten: masyarakat Baduy. Tentu masyarakat Baduy tidak bisa begitu saja disamakan dengan konsep Umran Badawi Ibnu Khaldun. Keduanya lahir dari konteks sejarah dan kebudayaan yang berbeda. Tetapi kehidupan masyarakat Baduy memberi kita ruang untuk melihat bagaimana kesederhanaan, keterikatan pada komunitas, dan penghormatan terhadap nilai-nilai yang diwariskan dapat menjadi kekuatan untuk menjaga keberlangsungan sebuah masyarakat.

Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistik, masyarakat Baduy menarik bukan semata-mata karena mereka mempertahankan pola hidup yang berbeda dari masyarakat kebanyakan, tetapi karena di sana kita dapat melihat bagaimana perubahan memiliki batas dan tidak semua hal harus diterima hanya karena disebut kemajuan. Ada nilai yang dijaga, ada aturan yang dipatuhi, dan ada kepentingan bersama yang tetap menjadi bagian penting dari kehidupan komunitas.

Apa yang Harus Kita Pertahankan?

Karena itu, pertanyaannya bukan apakah masyarakat modern harus kembali menjadi seperti masyarakat Baduy. Tentu tidak. Pertanyaannya justru, ketika kita bergerak menuju masyarakat yang semakin maju dan kompleks, apa yang harus tetap kita pertahankan?

Ibnu Khaldun mengingatkan bahwa kekuatan sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kekayaan dan kemajuan material, tetapi juga oleh kekuatan ikatan yang membuat manusia mampu hidup bersama. Negara pun demikian. Jalan, gedung, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi penting, tetapi semua itu membutuhkan kepercayaan, rasa memiliki, dan kesediaan untuk memikirkan kepentingan bersama.

Barangkali di situlah Muqaddimah tetap relevan untuk dibaca hari ini. Ibnu Khaldun tidak sedang meminta kita kembali ke masa lalu. Ia justru mengajak kita memahami bagaimana masyarakat tumbuh, berkembang, menjadi kuat, dan pada akhirnya dapat mengalami kemunduran.

Masyarakat Baduy di Banten memberi kita sebuah cermin kecil tentang hal itu. Bukan tentang siapa yang lebih maju dan siapa yang lebih tertinggal, melainkan tentang pertanyaan yang lebih mendasar: ketika peradaban semakin maju, apakah kita masih mampu mempertahankan nilai-nilai yang membuat kita tetap menjadi sebuah masyarakat?

Sebab peradaban tidak hanya dibangun oleh apa yang berhasil kita miliki, tetapi juga oleh seberapa kuat kita masih merasa menjadi bagian dari kehidupan bersama.