Kumparan Logo
Konten Media Partner

Dari Bertanam Jagung, Petani di Gunungkidul Sekolahkan 4 Anaknya sampai Kuliah

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kartono (71) petani asal Gunungkidul yang mengikuti Program Desa Binaan Imigrasi dari Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Yogyakarta. Foto: Pandangan Jogja/Arif UT.
zoom-in-whitePerbesar
Kartono (71) petani asal Gunungkidul yang mengikuti Program Desa Binaan Imigrasi dari Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Yogyakarta. Foto: Pandangan Jogja/Arif UT.

Hampir 50 tahun Kartono (71) mengandalkan tanah di Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin, Gunungkidul, untuk menghidupi keluarganya. Dari hasil bertani, ia mampu menyekolahkan empat anaknya hingga kuliah.

"Alhamdulillah, saya petani bisa membiayai anak-anak saya. Anak saya empat bisa sekolah semua. Ada yang pegawai negeri, ada yang swasta. Itu hasilnya, cuma hasilnya tani," kata Kartono.

Kartono mengembangkan lahannya dengan menanam jagung melalui Program Desa Binaan Imigrasi yang dijalankan Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Yogyakarta. Ia mendapatkan dukungan benih, pupuk, dan obat tanaman untuk mendukung penanaman jagung yang kemudian panen dalam waktu sekitar tiga bulan.

Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Yogyakarta menggelar Panen Raya Jagung Serentak Desa Binaan Imigrasi, pada Selasa (29/9). Foto: Pandangan Jogja/Arif UT.

Dari satu kilogram benih, Kartono mengaku memperoleh sekitar enam kuintal jagung. Jagung tersebut merupakan jenis pakan ternak yang diharapkan dapat mendukung peternakan ayam di sekitar wilayah tersebut.

Kartono menjadi salah satu petani dari lima kalurahan yang masuk dalam program ini, yakni Kalurahan Semin, Bendung, Kemejing, Kalitekuk, dan Bulurejo. Masing-masing mendapat dukungan penanaman bibit jagung pada lahan sekitar 0,5 hektare, sehingga total lahan program mencapai sekitar 2,5 hektare.

Selasa (29/9), Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Yogyakarta menggelar Panen Jagung Raya Serentak Desa Binaan Imigrasi. Kegiatan dipusatkan di Tahunan, Kalurahan Bulurejo, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul.

Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI Yogyakarta menggelar Panen Raya Jagung Serentak Desa Binaan Imigrasi, pada Selasa (29/9). Foto: Pandangan Jogja/Arif UT.

Kepala Kanwil Ditjen Imigrasi DIY, Yuni Santi Nurani, menyebut produktivitas jagung diperkirakan mencapai 6,9 ton per hektare. Dengan total lahan 2,5 hektare, estimasi hasil panen mencapai 17,25 ton.

Menurutnya, ketahanan pangan menjadi salah satu cara memperkuat ekonomi warga dalam Desa Binaan Imigrasi. Pendekatan ini berkaitan dengan upaya pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan penyelundupan manusia (TPPM).

Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko di Panen Raya Jagung Serentak Desa Binaan Imigrasi, pada Selasa (29/9). Foto: Pandangan Jogja/Arif UT.

Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, mengatakan persoalan ekonomi perlu disentuh karena menjadi salah satu akar masalah dalam TPPO dan TPPM.

"Masalah pokoknya adalah masalah ekonomi. Oleh karena itu, langkah yang kami lakukan bukan hanya penyuluhan, tetapi mencari akar masalah dari TPPO dan TPPM itu sendiri. Akar masalahnya adalah masalah ekonomi,” ujar Hendarsam.

Salah-satu lahan pertanian yang dimanfaatkan untuk menanam Jagung. Foto: Pandangan Jogja/Arif UT.

Karena itu, Desa Binaan Imigrasi di Semin tidak hanya berisi kegiatan pertanian. Program tersebut juga mencakup literasi tentang modus perekrutan TPPO melalui pertunjukan wayang kulit, Immigration Goes to School di SMK Muhammadiyah Semin, serta bakti sosial berupa sembako dan layanan kesehatan gratis bagi 200 warga.

Hendarsam berharap hasil panen tersebut menjadi pijakan untuk melanjutkan program dan menjaga lahan tetap produktif.

"Saya berharap program ini tidak berhenti pada seremoni panen pada hari ini saja. Panen hari ini harus menjadi awal untuk menanam kembali,” pungkasnya.