Dari Gerobak Sederhana, Kakek Pedagang Nasgor di Kudus Punya Mimpi ke Tanah Suci

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jamaluddin (63) melayani pesanan nasi goreng di pinggir jalan yang berada di Jalan Sunan Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Rabu (2/9/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Jamaluddin (63) melayani pesanan nasi goreng di pinggir jalan yang berada di Jalan Sunan Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Rabu (2/9/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Jamaluddin (63) tampak sibuk memasak nasi goreng (nasgor) di sebuah gerobak sederhana. Gerobak pembawa rezeki itu menjadi tempat untuk mewujudkan mimpinya agar bisa umrah ke tanah suci suatu saat nanti.

Jamaluddin sudah puluhan tahun berjualan nasgor. Kemudian, dia mulai berjualan nasgor di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, selama sepuluh tahun atau sejak 2016 silam.

Gerobak sederhana yang terparkir di bahu jalan di Jalan Sunan Kudus nomor 122, Kabupaten Kudus, menjadi saksi perjuangannya. Jamaluddin masih menggunakan kayu bakar untuk memasak nasgor. Menu nasgor yang ditawarkan beragam. Mulai dari harga Rp 16 ribu sampai Rp 26 ribu.

Awal pertama berjualan nasgor di Kota Kretek, gerobak Jamaluddin masih berupa kayu dan tampak sederhana. Kemudian setahun lalu ia mendapatkan gerobak yang lebih layak oleh Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN UP3 Kudus.

Di usianya yang semakin senja, ia tak mau berpangku tangan di rumah. Alasannya agar tak merepotkan anak-anaknya. Selain itu ia ingin menabung demi mewujudkan mimpinya ke tanah suci untuk menjalankan ibadah umrah.

"Saya ingin umrah. Alhamdulillah tabungan saya sedikit lagi cukup untuk umrah. Setidaknya kalau belum berkesempatan untuk berhaji, saya berniat untuk umrah," katanya kepada kumparan, Rabu (2/9) siang.

Jamaluddin (63) melayani pesanan nasi goreng di pinggir jalan yang berada di Jalan Sunan Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Rabu (2/9/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Keinginan untuk umrah karena menjalankan ibadah sebagai seorang muslim. Oleh karena itu, Jamaluddin selalu bersemangat bolak-balik dari Kabupaten Jepara ke Kabupaten Kudus.

"Saya asli Semarang tetapi sudah menetap di Jepara. Setiap hari selepas subuh saya ke Kudus untuk berjualan nasi goreng sampai sore hari. Kemudian pulang ke Jepara lagi. Gerobaknya saya titipkan di rumah warga di Kudus," sambungnya.

Semangat berjualan dijalaninya setiap hari. Ia mulai meracik bumbu malam hari. Kemudian menyiapkan dagangan pukul 03.00 WIB. Lalu berangkat ke Kudus untuk berdagang selepas menunaikan ibadah salat subuh.

Ia berangkat ke Kudus menggunakan sepeda motor. Lama perjalanan ditempuhnya sekitar 45 menit hingga satu jam. Waktu tempuh Jepara ke Kudus bisa lebih lama ketika macet.

"Capek sih tidak. Paling mengantuk saja. Tidak apa saya jalani dengan ikhlas," terangnya.

Setidaknya sudah ada dua pembeli hari ini, Rabu (2/9) selama kumparan berbincang dengan kakek dua anak ini. Perjuangannya merintis usaha jualan nasgor tidak langsung seramai ini.

Awal mula berdagang nasgor di Kabupaten Kudus, ia harus promosi terlebih dahulu. Setiap ada pembeli, ia selalu memberikan nomor ponselnya. Ponselnya yang saat ini digenggamnya masih model lama atau jadul, bahkan tidak bisa digunakan untuk sosial media.

"Dulu saya berjualan keliling. Kalau ada pembeli saya kasih nomor saya supaya bisa dikontak kalau berminat lagi. Sampai saat ini alhamdulillah ramai bisa 40 sampai 50 porsi sehari," ujarnya.

Menu nasi goreng buatan Jamaluddin (63) di pinggir jalan yang berada di Jalan Sunan Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada Rabu (2/9/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan

Menurutnya, banyak pembeli yang akhirnya menjadi langganan. Ia menjelaskan, beberapa pelanggan ada yang memviralkan dirinya lewat media sosial TikTok dua tahun terakhir. Hal itu dikarenakan nasgor buatannya menggugah selera.

Pengalaman menjual nasgor di pinggir jalan tak luput dari berbagai kisah pahit. Dia pernah beberapa kali ditipu pembeli dengan dalih tidak punya uang nominal kecil.

"Seringnya bilang tidak punya uang kecil, kemudian berjanji akan bayar besok. Tetapi besoknya tidak kembali lagi. Ya sudah saya ikhlaskan saja. Saya percaya biasanya ada penggantinya," ujarnya.

Tak berhenti di situ, tantangan lainnya datang kala hujan. Sebab, gerobaknya belum dilengkapi dengan penutup anti air. Kekhawatiran dagangan nasgornya tak laku sering muncul kala hujan tiba. Meski begitu, ia mengaku tak pernah mengeluh.

"Ke depannya akan terus berjualan nasi goreng. Semoga mimpi untuk umrah ke tanah suci bisa terwujud," imbuhnya.