Dari Kebebasan ke Tanggung Jawab: Menjaga Etika Komunikasi di Media Sosial

Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhamad Panji Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat, membagikan informasi, dan berinteraksi. Namun, kebebasan tersebut seharusnya tidak membuat kita lupa bahwa setiap pesan yang disampaikan dapat memberikan dampak kepada orang lain.
Penelitian Stepanus Angga, Antonius Alfredo Poa, dan Fabianus Rikardus (2023) mengenai etika komunikasi netizen Indonesia menunjukkan bahwa komentar di media sosial sering disampaikan tanpa pertimbangan yang rasional. Pengguna juga dapat memberikan komentar tanpa memahami persoalan secara utuh. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebebasan berkomunikasi perlu disertai kesadaran dan tanggung jawab.
Menurut saya, hal tersebut masih sering ditemukan ketika sebuah isu menjadi viral. Banyak pengguna langsung memberikan komentar berdasarkan informasi yang mereka lihat tanpa mencari tahu konteksnya. Padahal, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam komunikasi, tetapi cara menyampaikannya tetap harus memperhatikan etika.
Etika komunikasi penting karena media sosial bukan hanya ruang pribadi. Apa yang kita tulis dapat dibaca dan dibagikan oleh banyak orang. Karena itu, pengguna perlu memeriksa kebenaran informasi, menggunakan bahasa yang sopan, serta menghargai orang lain meskipun memiliki pandangan yang berbeda.
Kebebasan berpendapat bukan berarti bebas mengabaikan dampak dari perkataan kita. Sebelum mengunggah atau memberikan komentar, kita dapat membiasakan diri untuk memahami informasi dan mempertimbangkan akibat dari pesan yang disampaikan.
Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi ruang untuk bertukar gagasan, bukan tempat untuk saling menjatuhkan. Kebebasan memberikan kita hak untuk berbicara, sedangkan etika mengajarkan kita bagaimana menggunakan hak tersebut secara bertanggung jawab.
