Dari "Mager" jadi "Manager": Mengapa Gen Z Wajib Punya Kemampuan Manajemen?

Penulis dan mahasiswa Universitas Pamulang yang aktif menulis tentang isu sosial dan gaya hidup.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Cyrilla Nur Khulaida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasakan bahwa satu hari berlalu tanpa menyelesaikan pekerjaan apapun? Awalnya hanya ingin membuka media sosial selama lima menit, tapi tiba-tiba sudah satu jam berlalu. Tugas kuliah masih menumpuk, pekerjaan belum dikerjakan, dan pada akhirnya semuanya diselesaikan di saat-saat terakhir. Jika kamu mengalami situasi ini, jangan khawatir, kamu tidak sendirian.
Fenomena ini cukup lazim bagi Generasi Z. Kita hidup di zaman yang menawarkan banyak kemudahan. Pembelajaran dapat dilakukan secara online, berbelanja hanya memerlukan beberapa klik, bahkan hiburan tersedia sepanjang waktu. Namun, di balik segala kemudahan itu, muncul tantangan baru, yaitu bagaimana cara mengelola diri agar tidak terperangkap dalam rasa malas, menunda-nunda pekerjaan, atau yang sering kita kenal sebagai "mager".
Padahal, seringkali masalahnya bukan karena kita tidak sanggup. Masalahnya ialah kita belum terbiasa untuk mengatur diri sendiri.
Banyak orang beranggapan bahwa kemampuan manajemen hanya diperlukan oleh seorang direktur, pemilik bisnis, atau manajer di tempat kerja. Namun, sebaliknya, setiap individu sebenarnya membutuhkan keterampilan ini, termasuk mahasiswa dan kaum muda yang baru memulai perjalanan karier mereka.
Manajemen pada hakikatnya adalah keterampilan untuk mengatur berbagai hal agar tujuan dapat dicapai dengan efisien. Apa yang diatur tidak selalu harus berupa perusahaan atau organisasi. Waktu, uang, tenaga, bahkan emosi juga memerlukan manajemen yang tepat.
Coba bayangkan dua orang mahasiswa yang memiliki jadwal kuliah serupa. Mahasiswa yang pertama selalu menyelesaikan tugasnya secara bertahap, sehingga ia dapat menyisihkan waktu untuk kegiatan organisasi, berolahraga, dan istirahat. Sebaliknya, mahasiswa yang kedua sering kali menunda pekerjaannya hingga harus begadang mendekati batas waktu pengumpulan. Keduanya memiliki 24 jam dalam sehari, tetapi hasil yang mereka capai berbeda akibat cara mereka mengelola waktu yang tidak sama.
Situasi ini juga terjadi dalam mengelola keuangan. Banyak anak muda yang merasa uang bulanan mereka cepat habis. Namun, setelah dianalisis, mayoritas dari pengeluaran tersebut dipakai untuk hal-hal yang sebenarnya tidak mendesak, seperti belanja impulsif atau mengikuti tren di media sosial. Kemampuan dalam mengelola keuangan membantu kita untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Selain waktu dan uang, ada elemen penting lainnya, yaitu manajemen diri. Di era info yang melimpah dan persaingan yang ketat, kemampuan untuk tetap fokus, berpikir disiplin, dan mengontrol emosi menjadi sangat berharga. Saat ini, banyak perusahaan tidak hanya mencari individu yang cerdas, tetapi juga mereka yang bisa berkolaborasi, memiliki rasa tanggung jawab, dan dapat menyelesaikan masalah dengan efektif.
Kemampuan ini tidak datang begitu saja. Semuanya berawal dari kebiasaan kecil, seperti menyiapkan daftar tugas harian, menetapkan sasaran mingguan, mengurangi waktu menggunakan media sosial saat belajar, dan memiliki keberanian untuk menolak hal-hal yang mengganggu produktivitas.
Menariknya, kemampuan manajemen juga berhubungan erat dengan kesehatan mental. Mengelola pekerjaan dengan baik dapat membantu mengurangi stres karena tugas yang menumpuk. Sebaliknya, kebiasaan menunda-nunda pekerjaan justru akan memperburuk kecemasan seseorang karena tekanan dari deadline yang terus mengintai.
Generasi Z sering dianggap sebagai kelompok yang inovatif, fleksibel, dan cepat dalam menguasai teknologi. Namun, potensi tersebut akan lebih optimal jika disertai dengan keterampilan pengelolaan diri. Teknologi memang dapat membuat pekerjaan menjadi lebih efisien, tetapi hanya individu yang dapat memutuskan bagaimana cara memanfaatkan waktu dan peluang.
Pada akhirnya, menjadi "manajer" tidak selalu identik dengan memimpin organisasi yang besar. Menjadi seorang manajer juga berarti memiliki kemampuan untuk memimpin diri sendiri. Mampu mengatur prioritas, membuat keputusan yang cerdas, mengelola keuangan dengan bijak, dan tetap konsisten dalam mengejar sasaran yang telah ditetapkan.
Di dunia yang semakin cepat berubah, keterampilan manajemen bukan hanya sekadar pelajaran di universitas. Keterampilan ini telah menjadi kemampuan hidup yang menentukan bagaimana seseorang menanggapi tantangan, memanfaatkan kesempatan, dan merancang masa depan.
Mungkin inilah saatnya kita berubah dari sekadar bersikap pasif menjadi individu yang dapat menjadi "manajer" terbaik bagi diri kita sendiri. Karena kesuksesan tidak selalu dimulai dengan langkah besar, melainkan dari kemampuan untuk mengelola hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari.
