Konten dari Pengguna

Dari Naksa hingga Penjara Terbuka

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bebaskan Palestina!  (Sumber: Net)
zoom-in-whitePerbesar
Bebaskan Palestina! (Sumber: Net)

Gelombang pengusiran kedua tahun 1967, Intifada, dan transformasi Gaza menjadi wilayah terkepung. Berdasarkan data resmi PCBS, UNRWA, dan laporan PBB 2025

Al-Naksa: Ketika Bencana Berulang

Jika Nakba 1948 adalah luka yang membelah masyarakat Palestina untuk pertama kalinya, maka al-Naksa 1967 adalah konfirmasi pahit bahwa luka itu tidak akan dibiarkan sembuh. Kata "Naksa" (النكسة) dalam bahasa Arab berarti "kemunduran" atau "kekalahan" — namun bagi rakyat Palestina, ia merupakan Nakba kedua: sebuah gelombang pengusiran yang menyelesaikan apa yang dimulai pada 1948.

Perang Enam Hari pada Juni 1967 antara Israel dan negara-negara Arab (Mesir, Yordania, Suriah) menghasilkan pendudukan militer Israel atas seluruh wilayah Palestina bersejarah yang tersisa, termasuk Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Jalur Gaza, serta Semenanjung Sinai dari Mesir dan Dataran Tinggi Golan dari Suriah. Dalam waktu kurang dari seminggu, peta politik Timur Tengah berubah secara fundamental.

Data Pengungsian Naksa

Akibat Perang Enam Hari, lebih dari 200.000 hingga 300.000 warga Palestina mengungsi. Pengungsian ini mencakup penduduk Tepi Barat dan Jalur Gaza yang melarikan diri ke Yordania, Suriah, dan negara-negara lain. Yang menjadikan Naksa begitu tragis secara manusiawi adalah fakta bahwa sekitar sepertiga dari jumlah tersebut merupakan pengungsi yang sebelumnya telah terusir pada tahun 1948 — yang berarti mereka mengalami pengusiran untuk kedua kalinya dalam satu generasi.

"Sepertiga dari pengungsi Naksa adalah mereka yang sudah pernah terusir pada 1948 — mengalami pengusiran untuk kedua kali dalam satu generasi."

Naksa menandai dimulainya kolonisasi dan pendudukan militer di seluruh wilayah Palestina yang tersisa, serta dimulainya pembangunan permukiman (koloni) di wilayah-wilayah tersebut. Apa yang bermula sebagai pendudukan militer, secara bertahap berubah menjadi proyek kolonial yang permanen.

Kolonisasi Gaza: Geografi Kontrol

Setelah 1967, Israel mulai membangun permukiman di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Di Jalur Gaza, antara tahun 1970 hingga 2000, dibangun 17 koloni yang dihuni kurang dari 10.000 kolonis. Namun, dengan kendali militer Israel, mereka menguasai geografi Gaza, akses ke sebagian besar air, pantai, dan tanah terbaik — sebuah paradoks di mana minoritas kecil menguasai sumber daya mayoritas besar.

Intifada: Ketika Rakyat Melawan

Intifadah Pertama (1987–1993)

Intifada pertama justru meletus di Kamp Pengungsi Jabalia, Gaza utara, pada 1987 — dipicu oleh pembunuhan empat pekerja Palestina yang ditabrak truk militer. Bahwa perlawanan lahir dari kamp pengungsian bukan kebetulan; ia adalah ekspresi dari akumulasi ketidakadilan yang tak tertahankan. Pemberontakan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel ini menelan korban jiwa yang didokumentasikan, meskipun angka pastinya bervariasi antar sumber.

Intifadah Kedua (2000–2005)

Gelombang konflik kedua ini mencatatkan jumlah korban yang lebih tinggi di pihak Palestina. Intifada kedua pecah menyusul kunjungan provokatif Ariel Sharon ke Masjid Al-Aqsa yang dikawal ratusan polisi, dan berakhir dengan korban sipil Palestina yang jauh melampaui pihak Israel.

Blokade: Mengubah Gaza Menjadi "Penjara Terbesar di Dunia"

Antara 2005–2007, Israel menarik tentara dan koloninya dari Gaza — dengan biaya yang sangat mahal secara politis — namun kemudian mengisolasi Jalur Gaza dan mengubahnya menjadi apa yang oleh banyak pengamat internasional disebut sebagai "penjara terbesar di dunia". Dengan alasan Hamas berkuasa, Israel memberlakukan embargo melalui darat, laut, dan udara. Blokade ini bukan hanya membatasi pergerakan manusia, tetapi juga mengontrol apa yang boleh masuk dan keluar: bahan makanan, obat-obatan, bahan bangunan, bahkan biji-bijian.

Israel kemudian memulai pemboman berkala atas wilayah tersebut: Operasi "Cast Lead" pada 2008–2009; Operasi "Pillar of Defense" pada 2012; Operasi "Protective Edge" pada 2014; serangan besar pada 2021; serta penembakan terhadap peserta "Great March of Return" pada 2018, yang mengakibatkan ribuan korban, mayoritas warga sipil dan anak-anak.

"Pada tahun 2008, mantan pelapor khusus PBB Richard Falk sudah menganggapnya sebagai 'prelude to genocide' — pendahuluan genosida."

Signifikansi Filosofis: Normalisasi Kekerasan

Dari perspektif filsafat sains sosial, periode antara 1967 hingga 2023 adalah sebuah studi kasus tentang bagaimana kekerasan dapat dinormalisasi melalui berulangnya pola yang sama. Setiap putaran agresi diikuti oleh gencatan senjata yang rapuh, rekonstruksi parsial, blokade yang dilanjutkan, dan agresi berikutnya. Siklus ini menciptakan kondisi yang oleh para ahli kesehatan masyarakat disebut sebagai "chronic trauma" — trauma kronis yang tertanam dalam struktur sosial dan biologis sebuah populasi.

Ketika sebuah populasi tidak pernah diberi waktu untuk benar-benar pulih — karena ancaman berikutnya selalu datang sebelum luka sebelumnya menutup — maka yang kita saksikan bukan hanya kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan terhadap kemungkinan itu sendiri: kemungkinan untuk bermimpi, merencanakan masa depan, dan hidup sebagai manusia yang utuh.

Artikel keempat dalam seri ini akan membahas agresi Oktober 2023 hingga kini: data terkini tentang korban jiwa, pengungsian massal, kelaparan yang disengaja, dan penghancuran infrastruktur di Gaza.