Konten dari Pengguna

Dari Permainan, Tumbuh Keberanian dan Cita-cita di Kampung Pasir Katulampa

Foto Mahasiswa KKNT Inovasi IPB University kelompok Katulampa bersama anak-anak Kampung Pasir, Minggu (2/8/2026). Foto: KKNT Inovasi IPB University Katulampa.
zoom-in-whitePerbesar
Foto Mahasiswa KKNT Inovasi IPB University kelompok Katulampa bersama anak-anak Kampung Pasir, Minggu (2/8/2026). Foto: KKNT Inovasi IPB University Katulampa.

Bogor, 9 Agustus 2026 — Bagi sebagian orang, cita-cita mungkin terdengar seperti sesuatu yang sederhana. Seorang anak mungkin hanya perlu menjawab, "Aku ingin jadi dokter," "Aku ingin jadi guru," atau "Aku ingin jadi polisi." Namun, di balik jawaban sederhana tersebut, terdapat sebuah harapan tentang masa depan. Memiliki cita-cita berarti seorang anak mulai membayangkan apa yang ingin ia lakukan dan menjadi di kemudian hari.

Berangkat dari hal tersebut, Kelompok KKNT Inovasi IPB University Kelurahan Katulampa menghadirkan program Cerdas Ceria di Kampung Pasir, Kelurahan Katulampa. Dilaksanakan pada 2 dan 9 Agustus 2026, kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar sambil bermain, mengenal berbagai profesi, melatih keberanian, mengasah kemampuan dasar, serta mulai menuangkan harapan dan cita-cita mereka.

Program Cerdas Ceria menyasar anak-anak kelas 1 hingga 3 sekolah dasar. Kegiatan dirancang berdasarkan kondisi yang ditemui tim di lapangan, di mana kemampuan belajar anak cukup beragam. Sebagian anak telah memiliki keinginan untuk belajar dan cita-cita, sementara sebagian lainnya masih belum memiliki gambaran mengenai apa yang ingin mereka capai di masa depan.

Oleh karena itu, kegiatan tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk berani mencoba, berbicara, berpendapat, dan memiliki harapan.

Belajar Tidak Harus Selalu di Dalam Kelas

Permainan ular tangga raksasa dengan kartu tantangan interaktif bersama anak-anak Kampung Pasir, Katulampa, Bogor, Minggu (2/8/2026). Foto: KKNT Inovasi IPB University Katulampa.

Pada pertemuan pertama, anak-anak diajak bermain menggunakan ular tangga berukuran besar yang dirancang khusus sebagai media pembelajaran. Setiap kelompok memiliki pion yang dibuat dari jaring-jaring bangun ruang dan dirakit bersama oleh anak-anak sebelum permainan dimulai.

Permainan kemudian dilengkapi dengan berbagai kartu tantangan yang dirancang berdasarkan beberapa aspek. Ada tantangan yang mengasah pengetahuan dan kemampuan dasar anak, tantangan yang mendorong mereka untuk aktif bergerak dan berani mencoba, tantangan yang melatih kekompakan dan kerja sama, serta tantangan pengenalan berbagai profesi untuk membuka wawasan anak mengenai cita-cita.

Dengan demikian, setiap langkah dalam permainan tidak hanya menjadi bagian dari perlombaan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar, bergerak, berinteraksi, dan mengenal lebih banyak hal tentang dirinya maupun dunia di sekitarnya.

Antusiasme anak terlihat tidak hanya selama permainan berlangsung. Setelah kegiatan selesai, media ular tangga dan kartu pembelajaran yang dititipkan kepada Posyandu dan PKK bahkan langsung kembali digunakan oleh anak-anak untuk bermain bersama sambil belajar.

Dari Malu Menjadi Lebih Berani

Pada awal kegiatan, sebagian anak masih terlihat malu untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Ketika diminta memperkenalkan diri, menjawab pertanyaan, atau melakukan sesuatu di depan teman-temannya, beberapa anak masih membutuhkan dorongan dari pendamping.

Kondisi tersebut menjadi perhatian tim dalam merancang pertemuan kedua.

Kumpulan foto kegiatan pos to pos bersama anak-anak Kampung Pasir, Minggu (9/8/2026). Foto: KKNT Inovasi IPB University Katulampa

Pada 9 Agustus 2026, kegiatan dikembangkan melalui sistem pos to pos yang terdiri atas empat permainan, yaitu Susun Kata, Balon Berani, Tebak Siapa Aku, dan Buang Sampahku.

Melalui Susun Kata, anak diajak mengasah kemampuan membaca dengan menyusun huruf menjadi kata. Balon Berani dirancang untuk melatih keberanian berbicara melalui berbagai tantangan sederhana. Dalam Tebak Siapa Aku, anak mengenal berbagai profesi dengan memperagakannya di depan teman-teman. Sementara itu, Buang Sampahku mengajak anak bergerak sekaligus mengenal pemilahan sampah organik, anorganik, dan B3.

Rangkaian permainan tersebut memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk mengambil peran. Bukan hanya anak yang paling aktif yang tampil, tetapi setiap anggota kelompok didorong untuk mendapatkan giliran.

Perubahan mulai terlihat pada pertemuan kedua. Anak-anak menjadi lebih terbuka dan berani berinteraksi. Mereka mulai berani bertanya ketika mengalami kesulitan, meminta bantuan, menjawab pertanyaan, hingga menawarkan diri ketika dibutuhkan seorang volunteer.

Bagi tim KKNT, perubahan tersebut menjadi salah satu capaian yang paling berarti dari kegiatan Cerdas Ceria.

Helmi, selaku PIC Cerdas Ceria, menjelaskan bahwa sejak awal program ini tidak ditujukan untuk menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan yang ada di lingkungan tersebut.

"Kami sadar bahwa ada banyak hal yang tidak mungkin diselesaikan hanya dalam dua kali pertemuan. Karena itu, kami mencoba mengambil bagian yang memang bisa kami lakukan. Kami ingin memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar dengan cara yang menyenangkan, berani berbicara, mengenal berbagai profesi, dan yang paling penting, berani memiliki cita-cita. Harapannya, pengalaman kecil ini bisa menumbuhkan semangat yang mereka bawa terus setelah kegiatan KKNT selesai," ujarnya.

Menanam Harapan Melalui Pohon Harapan

Penempelan buah harapan anak-anak Kampung Pasir pada pohon harapan, MInggu (8/9/2026). Foto: KKNT Inovasi IPB University Katulampa.

Seluruh rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan Pohon Harapan. Setelah menyelesaikan empat pos permainan, seluruh anak berkumpul dan mendapatkan bentuk buah yang dapat mereka isi dengan cita-cita atau harapan masing-masing.

Anak-anak dapat menuliskan maupun menggambarkan apa yang mereka inginkan di masa depan. Satu per satu, buah tersebut kemudian ditempelkan pada pohon yang telah disiapkan.

Bagi tim KKNT, kegiatan ini bukan sekadar aktivitas penutup. Pohon Harapan menjadi ruang bagi anak untuk berhenti sejenak dan memikirkan apa yang mereka inginkan.

Cita-cita yang dituliskan tidak harus besar. Yang terpenting adalah anak mulai menyadari bahwa mereka boleh memiliki harapan untuk masa depan.

Pak Ijo, selaku Ketua Posyandu sekaligus tokoh masyarakat setempat, turut mengapresiasi kegiatan yang diberikan kepada anak-anak.

"Terima kasih banyak ya, udah mau datang dan bikin kegiatan buat anak-anak di sini. Anak-anak kita ini kan masih banyak yang perlu dibimbing, masih malu-malu, kadang ditanya juga masih diem. Mudah-mudahan ke depannya bisa lebih maju, lebih berani. Ya mudah-mudahan apa yang udah dibuat adik-adik KKNT ini bisa bagus, bisa bermanfaat buat anak-anak kita,"

Menurutnya, kegiatan yang memberikan ruang kepada anak untuk belajar dan berinteraksi menjadi salah satu bentuk pendampingan yang berarti bagi perkembangan mereka.

Tidak Berhenti Setelah KKN Berakhir

Penyerahan media pembelajaran oleh Koordinator Kelompok Rafly kepada Ketua Posyandu Pak Ijo, Kampung Pasir, Minggu (9/8/2026). FOto: KKNT Inovasi IPB University Katulampa

Cerdas Ceria tidak berhenti ketika kegiatan KKNT selesai. Media pembelajaran yang telah dibuat, seperti ular tangga dan kartu-kartu permainan, dititipkan kepada Posyandu dan PKK agar dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat.

Keberlanjutan tersebut menjadi bagian penting dari program. Tim berharap media yang telah dibuat dapat digunakan kembali oleh penggerak setempat untuk menciptakan ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak.

Sebab, Cerdas Ceria tidak dibangun dengan tujuan untuk menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan dalam waktu singkat. Program ini berangkat dari hal yang lebih sederhana, tetapi diharapkan memiliki makna yang panjang: memberikan anak kesempatan untuk belajar, berani mencoba, mengenal dunia di luar dirinya, dan percaya bahwa mereka juga memiliki masa depan yang layak untuk diimpikan.

Kebersamaan kelompok KKNT IPB bersama anak-anak Kampung Pasir pada Cerdas Ceria hari kedua, Minggu (9/8/2026). Foto: KKNT Inovasi IPB University Katulampa.

Pada akhirnya, sebuah cita-cita mungkin hanya tertulis di selembar kertas kecil. Tetapi bagi seorang anak, tulisan itu bisa menjadi awal dari sebuah harapan yang jauh lebih besar.

Dari permainan, tumbuh keberanian. Dari keberanian, tumbuh harapan. Dan dari harapan, anak-anak mulai berani membayangkan masa depan mereka sendiri.