Dari Rimba ke Kota, Potret dan Jejak Macan Tutul Jawa Titipkan Pesan Kelestarian
·waktu baca 4 menit

Di balik gemerlap gedung pencakar langit dan keriuhan gaya hidup urban Jakarta, terselip sebuah pesan sunyi namun mendesak dari jantung hutan Jawa.
Di koridor ASHTA District 8, sebuah booth pameran menyedot perhatian pengunjung dalam gelaran ARTCYCLE, sebuah ruang eksplorasi yang mempertemukan seni, desain, dan praktik keberlanjutan.
Bukan sekadar estetika, instalasi yang dihadirkan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersama Yayasan SINTAS Indonesia ini menghadirkan potret nyata "sang penjaga rimba" yang kian terhimpit waktu: Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas).
Melalui deretan foto hasil jepretan camera trap dan dokumentasi peluh tim konservasi, pameran ini menitipkan pesan bahwa melestarikan si kucing besar terakhir di Jawa adalah upaya menjaga warisan masa depan.
Sinergi Melindungi Macan Tutul Jawa, Sang Predator Puncak
Eksistensi Macan Tutul Jawa kian menurun dalam dua dekade terakhir. Laporan Yayasan SINTAS Indonesia tahun 2025 memperkirakan predator puncak ini hanya tersisa sekitar 350 individu dewasa di alam liar.
Angka yang mengkhawatirkan ini memicu lahirnya sinergi kolaboratif melalui program Java-Wide Leopard Survey (JWLS), yang mempertemukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, BLDF dan SINTAS.
Bagi Jemmy Chayadi, Program Director BLDF, pelestarian Macan Tutut bentuk tanggung jawab terhadap "rumah" tempat manusia berpijak. Ia menekankan keberadaan predator puncak ini berkaitan langsung dengan stabilitas sosial dan ekonomi Pulau Jawa.
Ia menjelaskan jika Macan Tutul Jawa punah, dampaknya akan merusak ekosistem dan memicu bencana alam yang menghambat roda ekonomi. Ia pun mencontohkan eksistensi Macan Tutul Jawa di Gunung Muria, Kudus.
“Untuk menjaga Gunung Muria, kita harus menjaga penjaganya. Nah, penjaga Gunung Muria apa? Yaitu adalah Macan Tutul Jawa. Kalau predator apex ini punah, dampaknya ke kehidupan saya sendiri, ke sosial, ekonomi, itu dampaknya sangat besar sekali,” jelas dia dalam sesi diskusi, Kamis (30/4).
Program JWLS bertujuan membedah status serta struktur populasi Macan Tutul Jawa sekaligus memahami preferensi satwa mangsanya. Hariyo T. Wibisono selaku Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, menjelaskan betapa vitalnya data sains dalam upaya ini.
“Kita tidak banyak tahu sebenarnya tentang Macan Tutul Jawa. Hanya dengan pengetahuan yang baik, atau evidence-based, baru kita bisa merancang pendekatan pengelolaan yang memadai sesuai kondisi riil di lapangan,” ujar pria yang akrab disapa Bibah ini.
Realita di Balik Lensa
Salah satu fakta mengejutkan yang diangkat dalam pameran ini adalah betapa tipisnya ruang yang tersisa bagi satwa liar. Bibah menceritakan tantangan besar saat timnya melakukan survei di pulau terpadat di Indonesia ini.
“Di Jawa itu manusia tidak hanya di kota, sampai ke puncak gunung, di hutan masih ada juga. Tidak ada cerita kami pasang kamera tidak ada bekas manusia, itu pasti ada,” kata dia menggambarkan realita di lapangan.
Melalui 1.200 titik camera trap yang tersebar di sisa hutan Jawa, tim bekerja keras mengumpulkan data untuk membangun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (Stratak) 2024-2034.
Perjuangan fisik tim konservasi ini digambarkan lewat foto-foto tim yang menembus rimba, membawa peralatan berat, hingga menghadapi cuaca ekstrem.
Jemmy Chayadi pun menceritakan pengalamannya saat ikut terjun langsung dalam pemasangan camera trap di Gunung Papandayan.
“Ini field survey-nya dibilang katanya paling gampang, cuma setengah mati naiknya. Kita yang dari perusahaan ikut, termasuk saya, jalannya setengah mati, ada yang jatuh, pas lagi hujan dan lain-lain. Itu pun sudah dipilih medan yang paling gampang,” kenangnya.
Menitipkan Harapan Lewat Duplikasi Model
Tujuan akhir dari kolaborasi ini adalah menciptakan model konservasi yang dapat diduplikasi. BLDF berharap aksi nyata yang dilakukan di Gunung Muria bisa menjadi rujukan bagi pihak untuk turut menjaga lingkungan dan pelestarian satwa liar.
“Harapannya itu nanti kalau misalnya model-model aksinya itu sudah berhasil, itu bisa di dikloning lah, bisa diimplementasi di gunung-gunung lain,” terang Jemmy.
Melalui pameran ARTCYCLE dan booth BLDF dan SINTAS, kampanye kepedulian lingkungan ini sengaja dibalut secara estetik agar relevan bagi masyarakat urban, guna membangun kesadaran kolektif bagi generasi muda.
“Masih ada waktunya untuk bisa melakukan (konservasi) saat ini, tapi memang perlu awareness yang lebih tinggi, perlu data, perlu pengetahuan, dan perlu lagi saintis-saintis yang lebih muda untuk melanjutkan perjuangan Pak Bibah,” tutup Jemmy.
Di sela-sela instalasi desain ARTCYCLE, tatapan Macan Tutul Jawa dari bingkai foto seolah menitipkan pesan: agar totol mereka tetap ada dan tak lekang oleh waktu, menjaga hutan Jawa tetap lestari untuk masa depan yang lebih baik.
