Konten dari Pengguna

Dari Ruang Kelas Menuju Ruang Kebijakan

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tatang Muttaqin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Dok: Istimewa

Buku “Dari Ruang Kelas Menuju Ruang Kebijakan; Gagasan untuk Reformasi Pendidikan Indonesia” karya Arif Jamali Muis menghadirkan sesuatu yang jarang kita temui dalam wacana pendidikan: suara yang lahir dari pengalaman nyata di ruang kelas, lalu bergerak masuk ke ruang kebijakan.

Buku ini terasa hidup karena ditulis oleh seseorang yang pernah menjadi guru di SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta dan SMAN 5 Yogyakarta, sebelum kemudian berkiprah di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Perpindahan peran ini membuat perspektifnya utuh, tidak hanya memahami teori kebijakan, tetapi juga merasakan denyut persoalan di lapangan.

Buku ini berisi 20 tulisan yang sebelumnya telah dipublikasikan di berbagai media lokal dan nasional. Tulisan-tulisan tersebut merangkum refleksi tentang pendidikan, kebudayaan, dan isu sosial keindonesiaan dalam bingkai reformasi pendidikan. Dalam pengantarnya, penulis menegaskan bahwa karya ini bukan sekadar kumpulan opini, melainkan ikhtiar untuk membaca ulang perjalanan pendidikan nasional dari sudut pandang praktisi yang terlibat langsung dalam prosesnya.

Buku ini semakin istimewa karena dibersamai prolog dari Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed dan epilog oleh Prof. (Em) Suyanto, M.Ed., Ph.D., sehingga memiliki landasan akademik sekaligus arah moral yang kuat. Pendidikan dipandang bukan sekadar sistem administratif, tetapi ruang pembentukan manusia yang utuh, yang terus bergerak antara nilai, praktik, dan kebijakan.

Gagasan dalam buku ini dibagi dalam empat kelompok besar pemikiran. Pertama, pendidikan dipahami sebagai proses yang berakar pada filsafat, nilai, dan jiwa kebangsaan. Pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi upaya membangun manusia yang bermakna dan berkarakter.

Kedua, reformasi sekolah dan kepemimpinan pendidikan menjadi perhatian penting. Kepala sekolah tidak cukup hanya berperan sebagai administrator, tetapi harus menjadi pemimpin perubahan yang mampu membaca tantangan zaman dan menggerakkan ekosistem pendidikan di sekolahnya.

Ketiga, transformasi guru dan pembelajaran menjadi inti dari perubahan pendidikan. Guru ditempatkan sebagai aktor utama yang menentukan kualitas pendidikan. Tanpa guru yang berdaya, reformasi hanya akan menjadi jargon. Keempat, arah kebijakan pendidikan masa depan dibahas secara lebih luas, termasuk bagaimana negara merancang sistem yang responsif terhadap perubahan sosial, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja.

Ilustrasi koper bekas diubah menkadi scholar panel di sekolah dasar. Foto: Dok. Istimewa

Salah satu gagasan kuat dalam buku ini adalah pentingnya pendidikan bermutu untuk semua. Penulis menekankan bahwa setiap anak, dari desa terpencil hingga kota besar, memiliki hak yang sama untuk mengakses pengetahuan dan menggunakannya sebagai alat kehidupan. Pendidikan tidak boleh berhenti sebagai formalitas, tetapi harus menjadi sarana pembebasan manusia dari keterbatasan sosial, ekonomi, dan intelektual.

Inspirasi Pembelajaran Mendalam juga diangkat dengan pemikiran dan praktik KH Ahmad Dahlan melalui pembelajaran berbasis nilai QS Al-Maun, yang menegaskan bahwa pendidikan harus berorientasi pada praksis sosial. Dengan demikian, belajar bukan hanya memahami, tetapi juga mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menyentuh realitas, bukan hanya ruang kelas.

Penulis juga menekankan pentingnya memuliakan guru. Guru yang dihargai akan melahirkan generasi yang lebih berkualitas. Dari ruang kelas, masa depan bangsa dibentuk secara perlahan melalui dedikasi dan keteladanan guru. Oleh karena itu, membela martabat guru sama artinya dengan membela masa depan Indonesia.

Dalam aspek kebijakan, buku ini menyoroti pentingnya penguatan kepemimpinan kepala sekolah. Kepala sekolah diharapkan tidak hanya mengelola administrasi, tetapi mampu menjadi motor perubahan yang menginspirasi. Program penguatan kepemimpinan sekolah menjadi sangat penting karena kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas pemimpin di tingkat satuan pendidikan.

Isu integritas juga menjadi perhatian serius dengan merujuk survei KPK, penulis menekankan bahwa pendidikan harus kembali pada nilai kejujuran. Generasi masa depan tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga fondasi moral yang kuat. Integritas tidak lahir dari aturan semata, tetapi dari budaya, keteladanan, dan keberanian untuk jujur dalam sistem yang sering kali tidak sempurna.

Buku ini juga membahas revitalisasi satuan pendidikan berbasis swakelola, di mana sekolah diberi kepercayaan lebih besar dengan melibatkan masyarakat secara aktif. Negara berperan sebagai fasilitator, bukan sekadar pengendali sehingga revitalisasi pendidikan bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan karakter dan budaya belajar.

Dalam konteks kebijakan yang lebih luas, penulis mengangkat dinamika pendidikan gratis dan implikasinya bagi sekolah swasta. Kebijakan ini dipandang sebagai langkah progresif, namun tetap memerlukan keseimbangan antara kemampuan fiskal negara dan keberlanjutan ekosistem pendidikan secara keseluruhan.

Kekuatan utama buku ini terletak pada jembatan yang dibangun antara pengalaman lapangan dan pengalaman kebijakan. Penulis tidak hanya bercerita dari ruang kelas, tetapi juga memahami kompleksitas perumusan kebijakan di tingkat nasional. Perpaduan ini membuat gagasan yang disampaikan terasa realistis sekaligus visioner.

Sebagai kumpulan tulisan yang berasal dari berbagai media, memang terdapat tantangan dalam alur dan sistematika. Namun demikian, benang merah pemikiran tetap terjaga dengan baik, sehingga pembaca masih dapat mengikuti arus besar gagasan yang disampaikan.

Buku setebal 186 halaman ini layak dibaca oleh guru, kepala sekolah, praktisi pendidikan, dan para pengambil kebijakan. Ia bukan hanya menawarkan kritik atau analisis, tetapi juga ajakan untuk bergerak bersama memperbaiki pendidikan Indonesia. Pesan buku ini mengingatkan bahwa perubahan besar pendidikan tidak selalu lahir dari ruang kebijakan yang megah, tetapi justru dari ruang kelas sederhana tempat masa depan bangsa sedang dibentuk setiap hari.