Data Egosentris, Kunci China Unggul Ciptakan Robot Humanoid AI

Robot untuk menyapu, melipat baju, hingga membukakan tutup botol kini aktif diperdagangkan. Robot ini disebut robot humanoid, dan China menjadi salah satu negara yang paling aktif mengembangkan teknologi ini.
Menurut laporan The Japan Times pada 14 Agustus 2026, China kini mendominasi rantai pasok robot humanoid. Startup seperti Unitree memproduksi ribuan robot humanoid yang dijual dengan harga kurang dari 5.000 USD (Rp 88 juta). Dengan harga dan kecepatan produksi tersebut, China berhasil menggeser dominasi Jepang dalam produksi robot humanoid.
Dalam membangun robot humanoid yang cerdas, China juga menggunakan teknik yang lebih murah dan cepat dibandingkan Amerika Serikat.
Perlu diketahui, robot humanoid memerlukan pasokan data massal untuk memahami informasi visual dan gerakan yang kompleks. Kebutuhan data tersebut menyebabkan permintaan besar terhadap rekaman sudut pandang manusia atau data egosentris untuk melatih kecerdasan artifisial (AI) pada robot.
Data egosentris adalah rekaman yang diambil dari sudut pandang orang pertama, biasanya menggunakan kamera yang dipasang di kepala atau kacamata pintar, sehingga menangkap persis apa yang dilihat dan dilakukan tangan seseorang saat beraktivitas.
Jenis data ini penting bagi pengembangan robot humanoid karena membantu AI mempelajari cara manusia bergerak dan berinteraksi dengan benda sehari-hari secara alami. Misalnya bagaimana tangan memegang gelas, melipat kain, atau membuka tutup botol.
Untuk proses pengumpulan data, perusahaan asal Amerika Serikat harus berhadapan dengan biaya tenaga kerja yang tinggi. Karena itu, banyak perusahaan AS mengalihdayakan pengumpulan data ini kepada pekerja di negara-negara berkembang, seperti India, Filipina, hingga Indonesia.
Sementara di China, perusahaan dapat mengumpulkan data masif secara lokal. Mengutip artikel Rest of World berjudul "China is training a robot future—one folded shirt at a time", perusahaan robotik di China memiliki banyak keunggulan dalam mengumpulkan data: mulai dari tenaga kerja yang murah, dukungan pemerintah, hingga antusiasme masyarakat terhadap pengembangan robot, yang membuat perusahaan mudah melibatkan banyak orang dalam proses pengumpulan data.
Kampung untuk Mengumpulkan Data di Suqian
Laporan Rest of World pada 3 Juni 2026 menjelaskan bahwa e-commerce JD.com menjalankan program pelatihan data robot selama dua tahun ke depan di sebuah "lingkungan pengumpulan data" khusus.
Di lingkungan tersebut, warga setempat, pekerja pusat perawatan lansia, hingga petani kiwi dibayar untuk merekam aktivitas kerja dan pekerjaan rumah tangga sehari-hari menggunakan kamera yang dipasang di kepala. Lewat program ini, JD.com menargetkan pengumpulan 10 juta jam data pelatihan robot dalam dua tahun ke depan.
JD.com berencana melibatkan hingga 100.000 karyawan dan 500.000 pekerja eksternal dalam program pengumpulan data ini. Perusahaan mempromosikan program tersebut sebagai sarana bagi warga setempat untuk memperoleh penghasilan tambahan.
Akses terhadap beragam data pelatihan menjadi keuntungan tersendiri bagi industri robotika Tiongkok. Mengutip Rest of World, analis robotika di Interact Analysis, Marco Wang, menyebut China unggul dalam hal perangkat keras dan ekosistem data.
"Dalam hal perangkat keras dan ekosistem data, Tiongkok berada di posisi terdepan," kata Wang kepada Rest of World, dikutip kumparan, Rabu (27/8).
China Uji Robot Langsung ke Konsumen
Alih-alih hanya melatih robot di dalam laboratorium, perusahaan-perusahaan China menempatkan robot langsung ke tempat-tempat yang tak terjangkau internet. Langkah ini dilakukan guna mendapatkan variasi data dari lingkungan sekitar.
Mengutip laporan The Straits Times, perusahaan robotika X Square bermitra dengan platform 58.com untuk meluncurkan layanan pembersih rumah komersial menggunakan robot di Beijing dan Shenzhen.
Meski kemampuan robot tersebut masih terbatas, layanan komersial ini pada dasarnya diluncurkan sebagai latihan pengumpulan data langsung di lapangan.
Contoh lain, perusahaan GigaAI berencana menyebarkan 100 unit robot humanoid ke rumah-rumah di Wuhan untuk uji coba gratis. Ada pula uji coba robot yang mengatur lalu lintas di Hangzhou, serta robot yang bekerja di lantai pabrik.
Pengumpulan Data di AS
Kebutuhan data ini membuka lapangan pekerjaan baru. Banyak orang dari berbagai belahan dunia kini menjadi pekerja paruh waktu untuk menyumbang data.
Mengutip artikel CNN berjudul "How filming your chores could train the android butlers of the future", sejumlah perusahaan memanfaatkan peluang ini dengan bertindak sebagai jembatan penyedia data fisik yang dibutuhkan para pengembang robot.
Perusahaan rintisan seperti Micro1 asal Palo Alto, Amerika Serikat, merekrut ribuan pekerja lepas (gig workers) yang disebut "robotics generalists" di berbagai negara untuk merekam aktivitas harian mereka. Menurut laporan CNN, Micro1 memiliki sekitar 4.000 pekerja di 71 negara yang mengirimkan lebih dari 160.000 jam video setiap bulan.
Para pekerja dikirimi instruksi serta tali pengikat kepala (headstrap) untuk memasang kamera—seperti iPhone 12 Pro ke atas yang dilengkapi sensor LiDAR, GoPro, atau kacamata pintar. Mereka lalu diminta merekam daftar tugas harian seperti melipat pakaian, menyapu, mencuci piring, atau menuangkan air.
Selain skema pekerja lepas berkontrak, ada pula platform seperti Waffle Video yang memungkinkan pekerja memilih "misi" rumah tangga tertentu.
Merujuk artikel WIRED yang terbit pada 8 Juni 2026, Waffle Video adalah aplikasi yang berfokus pada pengumpulan data pelatihan berformat video. Didirikan pada 2024 oleh Joey Newfield dan Joshua Mesnik, aplikasi ini menghubungkan perusahaan pembeli data dengan pekerja untuk menyelesaikan misi tertentu.
Misi tersebut mencakup aktivitas seperti mengikat tali sepatu, mencuci piring, atau menuangkan cairan. Hasil rekaman kemudian diproses dengan teknologi Maple (Media Asset Processing and Labeling Engine) untuk memastikan video bersih dari unsur hak cipta, terstruktur, diberi anotasi (label), dan dilengkapi metadata deskriptif sebelum diserahkan ke pengembang AI.
Waffle Video menawarkan bayaran yang jauh lebih tinggi dan jelas, yaitu sebesar USD 25 (Rp 450 ribu) per jam video. Karena video misi yang diminta biasanya sangat pendek—hanya berdurasi sekitar 20 detik per video—upah dihitung secara akumulatif berdasarkan total durasi video yang berhasil disetujui.
