Desil Naik Lansia Sakit di Yogya Kehilangan Bansos, Wali Kota Jamin Kesehatan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo di Kepatihan Pemda DIY, Kamis (30/4/2026). Foto: Panji/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo di Kepatihan Pemda DIY, Kamis (30/4/2026). Foto: Panji/kumparan

Kasus warga miskin naik desilnya dan kehilangan bantuan sosial (bansos) banyak terjadi di Kota Yogyakarta.

Baru-baru ini kasus ini terjadi pada Yoyok Sunaryo (67) lansia sebatang kara yang tinggal di sebuah kontrakan di Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta.

Yoyok tak lagi mendapat bansos beberapa bulan terakhir. Setelah dibantu cek oleh tetangga, ternyata desil Yoyok naik dari 1 atau 2 ke desil 6-10.

Sakit komplikasi yang dialami Yoyok juga membuatnya tidak bisa beraktivitas fisik berat.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan sudah mendapat laporan soal hal ini. Dia berkomitmen agar warga miskin tetap dijamin kesehatannya meski desil naik dan terancam tidak tercover BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI).

"Jadi kalau yang seperti itu bisa saya cover dari Jamkesda. Kalau BPJS-nya tidak tercover, nanti kita aktifkan dengan dana Jamkesda," kata Hasto ditemui usai acara Peringatan Amanat 5 September 1945 di Ndalem Poenokawan Cafe Resto & Gallery, Sabtu (5/9).

Yoyok Sunaryo (67) lansia sebatang kara dengan penyakit komplikasi yang tinggal di sebuah rumah kontrakan di Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta. Yoyok tak lagi dapat bansos karena desilnya naik. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Hasto mengatakan sudah memerintahkan ke puskesmas-puskesmas untuk memperhatikan hal ini.

"Kesehatan itu ya orang tuh arep duwe opo liyane nek ora sehat, arep disekolahke nek ora sehat ya ora iso nyekolahke, dikei jalan ape nek ora sehat ya ora ono gunane, dikei lampu padang nek ora sehat ya ora ono gunane (mau punya lainnya kalau nggak sehat, mau sekolah kalau tidak sehat gimana nyekolahkan, diberi jalan terang kalau tidak sehat tidak ada gunanya). Sehat itu nomor 1 dulu," bebernya.

Anggaran Kesehatan Melonjak

Hasto mengakui untuk mengcover warga yang terlempar dari BPJS PBI akibat desil ini membuat anggarannya membengkak.

" Ya memang kita anggaran kesehatan sudah over. Kita kan normalnya mandatory 10 persen anggaran kesehatan, tapi kita sudah sampai lebih dari 24 persen. Sudah dua kali lipat. Jadi kita sudah over lah, sudah over," katanya.

Selain membantu mencover kesehatan, perbaikan data juga dilakukan dengan verifikasi dan validasi atau verval. Harapannya data desil di pusat bisa berubah sehingga bisa mengurangi beban daerah.

"Selalu kita verval dan saya selalu laporkan, sampaikan juga ke pusat. Setiap tiga bulan sekali saya berharap mudah-mudahan bisa di-approve ya. Bisa di-approve hingga ngenteng-ngentengi (meringankan) daerah," pungkasnya.