Di Forum Menlu ASEAN, Sugiono Desak Aturan Laut China Selatan Rampung Tahun Ini

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menlu Sugiono menghadiri Pertemuan Pleno AMM dalam 59th ASEAN Foreign Ministers Meeting, Post-Ministerial Conferences and Related Meetings di Manila (21/7/2026). Foto: Dok. Kemlu RI
zoom-in-whitePerbesar
Menlu Sugiono menghadiri Pertemuan Pleno AMM dalam 59th ASEAN Foreign Ministers Meeting, Post-Ministerial Conferences and Related Meetings di Manila (21/7/2026). Foto: Dok. Kemlu RI

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono mendesak ASEAN segera merampungkan Code of Conduct (CoC) Laut China Selatan pada tahun ini.

Menurutnya, kredibilitas ASEAN akan ditentukan oleh kemampuannya mewujudkan berbagai komitmen menjadi hasil nyata bagi masyarakat dan menjaga stabilitas kawasan.

Pernyataan tersebut disampaikan Sugiono dalam sesi pleno Pertemuan ke-59 Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) di Manila, Filipina, Selasa (21/7).

"ASEAN telah membuktikan bahwa organisasi ini mampu berkembang. Sekarang pertanyaan yang lebih menantang: apakah ASEAN mampu memenuhi janji-janjinya?" ujar Sugiono, sebagaimana dilansir dalam laman resmi Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI.

Menlu Sugiono menghadiri Pertemuan Pleno AMM dalam 59th ASEAN Foreign Ministers Meeting, Post-Ministerial Conferences and Related Meetings di Manila (21/7/2026). Foto: Dok. Kemlu RI

Menurut Sugiono, ujian pertama ASEAN terletak pada kemampuannya menjaga perdamaian dan memastikan kawasan tetap berlandaskan aturan.

Karena itu, Indonesia mendorong penyelesaian CoC Laut China Selatan tahun ini secara efektif, substantif, dan berlandaskan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982.

Ilustrasi laut China Selatan. Foto: Shutterstock

"Masyarakat kita telah menunggu selama 24 tahun untuk hadirnya aturan di laut. Mereka tidak seharusnya menunggu satu tahun lagi. Kawasan yang diatur berdasarkan hukum akan selalu lebih kuat daripada kawasan yang diatur berdasarkan kekuatan," tegasnya.

Selain penyelesaian CoC, Indonesia juga mengusulkan pembentukan ASEAN Heads of Consular Affairs Division Forum untuk memperkuat koordinasi perlindungan warga negara ASEAN di luar negeri, khususnya dalam situasi konflik dan keadaan darurat.

Para diplomat ASEAN dan Sekretaris Jenderal ASEAN berfoto bersama dalam upacara pembukaan Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN di Philippine International Convention Center, Pasay, Filipina, Selasa (21/7/2026). Foto: Aaron Favila/REUTERS

Sugiono juga mendorong agar kemitraan ASEAN dengan negara mitra lebih difokuskan pada kebutuhan konkret kawasan, mulai dari respons krisis hingga ketahanan pangan, energi, dan rantai pasok.

Dalam pertemuan tersebut, para menteri luar negeri ASEAN juga secara resmi menerima Turkiye sebagai Mitra Wicara ASEAN. Indonesia berharap status baru itu dapat menghasilkan kerja sama konkret yang mendukung pembangunan Komunitas ASEAN.

Pertemuan AMM ke-59 dan rangkaian pertemuan terkait berlangsung di Manila pada 20-24 Juli 2026.

Tahun ini, Filipina memegang Keketuaan ASEAN dengan tema "Navigating Our Future, Together".

Ketua ASEAN sekaligus Menteri Luar Negeri Filipina Theresa Lazaro menyampaikan pernyataan pembuka dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN di Philippine International Convention Center di Pasay, Metro Manila, Filipina, Selasa (21/7/2026). Foto: Eloisa Lopez/REUTERS

Forum tersebut juga mengesahkan sejumlah dokumen penting, di antaranya Joint Communiqué sebagai dokumen konsensus pandangan bersama kerja sama negara-negara ASEAN, Pernyataan Menlu ASEAN soal situasi terkini di Timur Tengah, panduan hubungan dan aksesi terhadap Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC), serta daftar kriteria dan indikator Kemitraan Wicara ASEAN.

Pada pertemuan ini, para Menlu ASEAN juga secara resmi menerima Turki sebagai Mitra Wicara ASEAN.

Menjelang peringatan 60 tahun ASEAN pada 2027, Indonesia turut mendorong penguatan mandat dan sumber daya organisasi agar sejalan dengan Visi Komunitas ASEAN 2045.

"Dokumennya sudah lengkap. Pekerjaan sesungguhnya baru dimulai. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan seberapa jauh ASEAN telah melangkah, tetapi apakah masyarakat kita benar-benar dapat merasakan manfaatnya," tutup Sugiono.