Konten dari Pengguna

Di Kopi Pensiunan, Aku Belajar Mensyukuri Gelasku Sendiri

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Entah kenapa, pagi ini, secangkir kopi terasa berbeda ketika dinikmati di tepi sungai. Di tempat sederhana bernama Kopi Pensiunan, suara gemericik air berpadu dengan aroma kopi yang mengepul perlahan. Tidak ada yang perlu dikejar, tidak ada yang harus dibandingkan. Duduk menghadap sungai, saya seperti diingatkan bahwa hidup sebenarnya tidak serumit yang sering kita pikirkan. Kadang, kita hanya perlu berhenti sejenak dan menikmati apa yang sudah Allah letakkan di hadapan kita.

Ngopi di Kopi Pensiunan di Kp. Cipancar Desa Sirnajaya kawasan Puncak 2 Sukamakmur ternyata indah dan reflektif. Selama ini, manusia sering sibuk melihat “gelas” orang lain. Melihat rumahnya, pekerjaannya, hartanya, perjalanannya, bahkan kebahagiaannya. Tanpa sadar, kita lupa menikmati kopi di gelas sendiri atau makanan yang tersaji di piring sendiri. Padahal, di hadapan kita mungkin sudah ada rezeki yang cukup, keluarga yang menyayangi, tubuh yang masih diberi kesehatan, dan kesempatan untuk menyeruput kopi sambil mendengarkan sungai mengalir. Di Kopi Pensiunan, secangkir kopi sederhana pun terasa seperti pengingat: tidak semua kenikmatan harus mahal untuk membuat hati bahagia.

Ngopi pagi di Kopi Pensiunan

Di tepi sungai pagi ini, saya belajar bahwa menikmati hidup bukan berarti memiliki segala sesuatu, melainkan mampu mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Kita tidak harus menunggu kaya untuk bahagia, tidak harus menunggu pensiun untuk menikmati ketenangan, dan tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk mengucapkan alhamdulillah. Ada kebahagiaan yang tumbuh justru ketika kita berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan mulai merawat kehidupan sendiri—menjaga kesehatan, mencintai keluarga, mengabdi sosial, memperbanyak silaturahmi, dan memberi ruang bagi hati untuk tenang.

Maka pagi ini, ngopi di Kopi Pensiunan bukan sekadar minuman, melainkan sebuah pelajaran kehidupan. Sungai terus mengalir tanpa pernah sibuk membandingkan dirinya dengan sungai lain; ia hanya menjalankan jalannya menuju tujuan. Begitu pula manusia. Nikmati saja gelas kita sendiri, syukuri rezeki kita hari ini, pelihara kesehatan kita, dan rayakan ketenangan sekecil apa pun yang Allah berikan. Sebab bisa jadi, hidup yang selama ini kita cari ternyata sudah ada di depan mata—dalam secangkir kopi, suara sungai, udara pagi, dan hati yang akhirnya belajar berkata: “Cukup. Aku bersyukur dengan hidupku hari ini.” Alhamdulillah, yuk kita ngopi!

Tempat ngopi asyik di Puncak 2 Sukamakmur