Di Sidang Umum PBB, Rusia Sebut Siap Bantu Jaga Stabilitas Selat Hormuz

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menghadiri pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Myanmar Wunna Maung Lwin di Naypyidaw, Myanmar, Rabu (3/8/2022). Foto: Kementerian Luar Negeri Rusia/Handout via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menghadiri pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Myanmar Wunna Maung Lwin di Naypyidaw, Myanmar, Rabu (3/8/2022). Foto: Kementerian Luar Negeri Rusia/Handout via REUTERS

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan di Sidang Umum PBB ke-81 bahwa Rusia siap membantu menstabilkan situasi di Selat Hormuz dan kawasan teluk seiring konflik AS-Iran yang terus berlanjut.

"Kita membutuhkan kepercayaan dalam hubungan antara negara-negara Teluk, negara-negara Arab, dan Iran. Kita membutuhkan arsitektur regional yang stabil," kata Lavrov kepada para pemimpin dalam Sidang Umum PBB, New York, Sabtu (26/9) dikutip dari AFP.

"Rusia, bersama dengan negara-negara lain yang bertanggung jawab, siap berkontribusi secara konstruktif untuk menstabilkan kawasan yang strategis dan penting ini," tambahnya.

Sebelumnya, negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait perang yang mempengaruhi Selat Hormuz terus berlanjut. Terbaru, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak kesepakatan gencatan senjata yang diusulkan Iran. Iran mengatakan kesepakatan tersebut dapat membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran dalam waktu satu pekan.

Jalur perairan tersebut merupakan jalur penting bagi pasokan energi dunia dan kini menjadi pusat konflik antara AS dan Iran, yang mengalami kebuntuan setelah hampir tujuh bulan.

"Saya menolak proposal mereka," kata Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih pada Sabtu (26/9), dikutip dari AFP.

"Mereka ingin membuat kesepakatan yang membuat Selat Hormuz segera dibuka karena mereka kalah telak," lanjutnya.

"Mereka ingin membuat kesepakatan dan saya pikir itu bagus. Saya juga suka membuat kesepakatan," ujarnya.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang dalam perjalanan kembali ke Teheran setelah menghadiri Sidang Umum PBB di New York, mengatakan kepada CBS News bahwa proposal tersebut telah disusun "dalam koordinasi" dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut rencana Iran mencakup penghentian seluruh permusuhan di Timur Tengah, termasuk di Lebanon.

Dia mengatakan persyaratan tersebut sama dengan yang tercantum dalam nota kesepahaman yang ditandatangani dengan AS awal tahun ini. Kesepakatan itu mencakup pencairan aset Iran yang dibekukan, pencabutan sanksi terhadap minyak Iran, dan penghentian blokade laut oleh AS.