Di Usia 45 Tahun, Seniman Jogja Ini Kembali Jadi Mahasiswa S1 di Sanata Dharma

Bagi Andy Sri Wahyudi, usia 45 tahun bukan hanya tentang bertambah tua. Seniman pantomim asal Yogyakarta yang juga berkecimpung dalam seni lukis dan teater itu memilih kembali menjadi mahasiswa S1 setelah lebih dari dua dekade meninggalkan bangku kuliah. Pengalaman tersebut ia sebut sebagai proses untuk "tumbuh meremaja".
"Saya menjalaninya dengan sukacita, dengan senang hati, dengan spirit muda lagi, meremaja. Jadi, saya tidak tumbuh menua tapi tumbuh meremaja," kata Andy saat ditemui tim Pandangan Jogja, Kamis (17/9).
Andy kini tercatat sebagai mahasiswa baru Program Studi Sejarah Universitas Sanata Dharma (USD). Ia kembali menempuh pendidikan sarjana setelah menyelesaikan S1 pertamanya pada 2004. Dalam penerimaan mahasiswa baru melalui jalur tes S1 Sanata Dharma, persyaratan yang tercantum tidak menetapkan batas usia maksimal bagi pendaftar.
Kembali ke bangku kuliah bagi Andy bukan tentang mengejar gelar untuk mencari pekerjaan. Ia ingin mempelajari sejarah secara akademik dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk mewujudkan keinginannya membuat sebuah museum kecil.
"Mindset saya dari dulu kuliah itu bukan untuk kerja. Menambah pengetahuan saya dan pengetahuan itu untuk membuat sesuatu. Saya ingin membuat sebuah museum, museum kecil sesuai dengan pikiran saya," katanya.
Menjadi mahasiswa lagi juga membawa Andy ke ruang kelas dengan jarak generasi yang cukup jauh. Sebagian teman kuliahnya terpaut usia lebih dari dua dekade. Bahkan, seorang mahasiswa pernah menghampirinya dan ternyata merupakan anak dari temannya sendiri.
"Kadang ada yang tanya tiba-tiba nyalamin saya, 'Om, Om itu temannya mamaku ya?' 'Mamamu siapa?' Oh, iya iya, temanku dia," ujar Andy.
Namun, perbedaan usia tidak membuat Andy menempatkan dirinya sebagai orang yang lebih tahu. Baginya, memasuki ruang belajar yang baru berarti kembali menjadi seseorang yang belajar.
"Jam lebih tua itu tidak menjamin lebih pandai, tidak menjamin lebih bijaksana. Ketika berada di tempat baru, saya menjadi baru," katanya.
Perbedaan generasi juga hadir antara Andy dan dosennya. Dosen Program Studi Sejarah USD Galih Adi Utama berusia delapan tahun lebih muda dari Andy. Galih mengatakan kondisi tersebut tidak membuat proses belajar di kelas berjalan satu arah.
"Bukan saya yang mengajari dia sebenarnya. Justru malah saya yang belajar dari dia. Terus juga dari teman-teman yang satu kelas yang lain," kata Galih.
Menurut Galih, pengalaman Andy menunjukkan bahwa proses belajar tidak harus berhenti pada usia tertentu.
"Saya kira dari Mas Andi kita bisa mengambil satu contoh, yaitu tentang bagaimana kesediaan seorang putra daerah mempelajari daerahnya sendiri, mempelajari sejarah daerahnya sendiri tanpa memperdulikan batasan usia. Bahwa mempelajari sesuatu itu tidak dibatasi oleh usia berapa, tapi belajar adalah belajar sepanjang waktu," kata Galih.
