Dinkes Bantah Salah Suntik Vaksin Jadi Penyebab Bayi di Bekasi Kena Radang Otak

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bayi baru lahir di rumah sakit. Foto:  TheVisualsYouNeed/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi baru lahir di rumah sakit. Foto: TheVisualsYouNeed/Shutterstock

Dugaan kesalahan pemberian vaksin terhadap bayi perempuan berusia 9 bulan berinisial NR di Puskesmas Bintara Jaya, Kecamatan Bekasi Barat, memasuki babak baru.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi mengakui telah terjadi penyuntikan vaksin ganda, namun menegaskan kondisi radang otak atau meningitis yang dialami bayi tersebut tidak berkaitan dengan vaksin yang diberikan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti Anggraini, menjelaskan bahwa hasil evaluasi bersama Tim Komisi Daerah Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Jawa Barat menyimpulkan memang terjadi pemberian vaksin ganda akibat pencatatan riwayat imunisasi yang tidak lengkap pada buku vaksinasi pasien.

"Memang kita akui terjadi double vaksinasi karena riwayat imunisasi pada buku vaksinasi tidak tertulis sebagaimana mestinya. Namun berdasarkan kajian ilmiah dan literatur, pemberian vaksin ganda tidak menimbulkan bahaya maupun efek samping yang menyebabkan radang otak," ujarnya, Kamis (2/7).

Menurut Satia, Dinkes telah berkoordinasi dengan Tim KIPI Jawa Barat yang melibatkan para dokter dan pakar imunisasi, termasuk Prof. Herman, untuk mengkaji kasus tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, drh. Satia Sriwijayanti Anggraini, M.M. Foto: Dok. kumparan

Hasil kajian menyatakan tidak ditemukan bukti ilmiah yang menghubungkan penyuntikan vaksin dengan munculnya encephalitis maupun meningitis.

"Belum pernah ditemukan literatur yang menyatakan vaksin menyebabkan radang otak. Kemungkinan pasien sudah terpapar infeksi sebelumnya, tetapi belum terdeteksi. Vaksinasi hanya bertepatan dengan munculnya gejala penyakit itu," katanya.

Ia menjelaskan, radang otak maupun meningitis umumnya disebabkan infeksi virus atau bakteri yang dapat menular melalui berbagai paparan. Menurutnya, kondisi tersebut bisa saja sudah berkembang sebelum imunisasi dilakukan.

Dinkes, lanjut Satia, juga memastikan pemerintah siap menanggung biaya pengobatan apabila terdapat biaya yang tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan milik keluarga pasien. Saat ini kondisi bayi disebut telah membaik dan sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

"Pasien sudah pulang dalam kondisi sehat. Kami juga melakukan medical check-up untuk memastikan kondisinya baik dan akan terus melakukan pemantauan bersama dokter yang merawat," ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Dinkes menarik tenaga kesehatan yang bertugas saat kejadian untuk menjalani pembinaan dan evaluasi internal agar pelayanan imunisasi lebih teliti sehingga kasus serupa tidak terulang.

Keluarga Pertanyakan Tanggung Jawab

Andin, ibu seorang bayi berusia sembilan bulan berinisial NR yang diduga menerima vaksin tidak sesuai di Puskesmas Bintara Jaya, Kecamatan Bekasi Barat. Foto: Dok. Istimewa

Di sisi lain, keluarga korban tetap mempertanyakan tanggung jawab Puskesmas maupun Dinas Kesehatan atas insiden tersebut.

Ibu korban, Andin (33), mengaku datang ke Puskesmas Bintara Jaya pada 13 Juni 2026 untuk memberikan imunisasi campak kepada putrinya. Sejak pendaftaran hingga penimbangan, menurutnya seluruh petugas mengetahui tujuan kedatangannya. Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) juga telah diserahkan sebagai acuan riwayat imunisasi.

Namun saat penyuntikan berlangsung, ia mengaku terkejut karena anaknya disuntik dua kali.

"Saya langsung bertanya, kok disuntik dua kali? Bukannya vaksin campak hanya satu kali? Setelah saya tunjukkan buku imunisasi bahwa DPT sudah pernah diberikan, petugas hanya saling melihat dan berdiskusi. Tidak ada penjelasan maupun permintaan maaf," kata Andin.

Beberapa jam setelah imunisasi, kondisi bayi disebut terus memburuk. NR mengalami demam tinggi, muntah, rewel, sulit makan hingga akhirnya kejang lebih dari 30 menit pada dini hari dan harus dilarikan ke rumah sakit.

Berdasarkan hasil CT Scan, dokter menyampaikan terdapat peradangan pada selaput otak atau meningitis sehingga bayi harus menjalani perawatan intensif selama beberapa hari.

Andin mengaku hingga kini masih dihantui kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang yang mungkin dialami putrinya. Ia juga menyayangkan belum adanya penjelasan resmi mengenai jenis vaksin yang diberikan maupun dugaan kesalahan prosedur saat imunisasi.

"Kami hanya ingin penjelasan yang terbuka dan tanggung jawab yang jelas. Kami tidak tahu sebenarnya vaksin apa yang disuntikan karena tidak pernah diperlihatkan kepada kami," ujarnya.

Ia juga mengaku selama masa perawatan keluarga menanggung sendiri biaya transportasi dan kebutuhan pendamping pasien.