Doktrin Hamilton, Chang dan Subianto: How To Make Indonesia Rich

Special Assistant to President Prabowo. Indonesia evangelist. University of Oxford & University of Melbourne alumnus. Co-founder Akademi Kader Bangsa IB schools network.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Dirgayuza Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malam itu udara mulai menggigit. Angin musim gugur berembus di antara bangunan-bangunan tua kota yang selama berabad-abad menjadi pusat perdagangan, keuangan, dan pemikiran ekonomi dunia.
Beberapa hari sebelumnya, Pak Prabowo, waktu itu Menteri Pertahanan, meminta saya menghubungi seseorang yang karya-karyanya sudah lama beliau baca dan diskusikan. Namanya Ha-Joon Chang.
Bagi pembaca buku-buku ekonomi, nama itu hampir seperti legenda. Profesor asal Korea Selatan yang mengajar di Cambridge itu dikenal karena keberaniannya menantang banyak dogma ekonomi yang selama puluhan tahun dianggap sebagai kebenaran mutlak.
Karena tidak punya nomor teleponnya, saya pun mengirim email kepadanya. 11 Oktober 2022. Saya bertanya, apakah ia berkenan bertemu Pak Prabowo tanggal 14 Oktober di malam hari. Balasan yang datang membuat saya tersenyum.
“My dinner after the LSE talk should end by 8pm, so I should be able to meet the general at 8:30pm.”
Dan beberapa hari kemudian, pertemuan itu terjadi.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya pertemuan biasa. Tetapi bagi saya, melihat keduanya bertemu seperti menyaksikan sebuah adegan dalam film tentang sejarah ekonomi dunia.
Karena yang sedang berbincang malam itu bukan seorang ekonom dan seorang politisi. Yang berbincang adalah dua orang yang sama-sama menghabiskan puluhan tahun membaca sejarah kebangkitan bangsa-bangsa.
Banyak hal yang mereka bicarakan. Namun yang buat saya paling tertegun adalah ketika mereka membicarakan kisah seorang anak yatim dari Karibia bernama Alexander Hamilton.
Hamilton adalah Menteri Keuangan pertama Amerika Serikat. Wajah Hamilton ada di uang kertas 1 Dolar Amerika. Ketika kita bicara nilai tukar mata uang terhadap 1 Dolar, kita membandingkan secarik kertas dengan wajah Hamilton.
Ketika Amerika baru merdeka, sebagian besar rakyatnya adalah petani. Industrinya hampir tidak ada. Inggris jauh lebih maju dalam teknologi, manufaktur, dan perdagangan.
Banyak orang saat itu berkata: “biarkan pasar bekerja.”
Hamilton berpikir sebaliknya. Ia percaya negara harus intervensi membantu membangun industri nasional. Negara harus membangun sistem keuangan yang kuat. Negara harus melindungi industri-industri muda (infant industries) sampai cukup kuat untuk bersaing.
Dua abad kemudian, Ha-Joon Chang menghabiskan sebagian besar karier akademiknya menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Hamilton sebenarnya adalah pola yang hampir selalu muncul dalam sejarah pembangunan negara-negara maju.
Dalam bukunya yang terkenal, Kicking Away the Ladder, Chang berargumen bahwa hampir semua negara kaya menggunakan tarif, subsidi, pembiayaan negara, perlindungan industri, dan kebijakan industri aktif ketika mereka masih berkembang. Namun setelah menjadi kaya, mereka justru menyarankan negara-negara berkembang untuk tidak melakukan hal yang sama.
Ia menyebutnya sebagai “menendang tangga” setelah berhasil memanjatnya.
Ha-Joon Chang kemudian memperluas gagasan tersebut melalui buku-buku seperti Bad Samaritans, 23 Things They Don’t Tell You About Capitalism, Economics: The User’s Guide, hingga Edible Economics.
Salah satu kutipannya yang paling terkenal berbunyi:
“Making rich people richer doesn’t make the rest of us richer.”
Membuat orang kaya semakin kaya tidak otomatis membuat seluruh masyarakat menjadi lebih sejahtera.
Dalam buku lain, ia bahkan menulis bahwa mesin cuci memiliki dampak yang lebih besar terhadap perubahan masyarakat dibanding internet, karena teknologi yang meningkatkan produktivitas masyarakat secara luas sering kali jauh lebih penting daripada teknologi yang paling glamor.
Ketika saya membaca karya-karya Chang, saya sering teringat pada dua buku yang ditulis Prabowo: Paradoks Indonesia dan Strategi Transformasi Bangsa.
Jika Hamilton bertanya dan mengupayakan bagaimana Amerika berhenti menjadi koloni ekonomi Inggris, dan Ha-Joon Chang bertanya bagaimana negara-negara berkembang mengejar negara maju, maka pertanyaan yang selalu muncul dalam pemikiran Prabowo adalah: Bagaimana Indonesia bisa jadi negara kaya?
Inilah benang merah yang menghubungkan Hamilton, Chang, dan Prabowo. Ketiganya percaya bahwa kemakmuran tidak datang dengan sendirinya.
Kemakmuran harus dibangun. Bukan hanya melalui perdagangan, tetapi melalui produksi. Bukan hanya melalui konsumsi, tetapi melalui produktivitas.
Bukan hanya dengan mengandalkan sumber daya alam, tetapi dengan mengubah sumber daya alam menjadi industri, teknologi, dan lapangan kerja.
Karena itulah saya sering tersenyum ketika akhir-akhir membaca kritik bahwa “Pemerintahan Prabowo hari ini terlalu aktif dalam perekonomian.”
Bahwa “Negara atas arahan Presiden terlalu banyak campur tangan.”
Bahwa “Danantara terlalu berperan.” Bahwa “Pemerintah terlalu agresif membangun industri, ketahanan pangan, ketahanan energi, dan menciptakan lapangan kerja.”
Jika kita membaca sejarah ekonomi dunia, membaca buku-buku Prof. Chang, kritik tersebut sesungguhnya bukan hal baru.
Perdebatan yang sama pernah terjadi pada masa Alexander Hamilton lebih dari 200 tahun yang lalu. Perdebatan yang dipelajari dan dijelaskan kembali oleh Ha-Joon Chang dalam puluhan buku dan penelitiannya.
Dan kini perdebatan yang sama muncul kembali di Indonesia.
Negara sebagai penonton. Atau negara sebagai arsitek pembangunan. Hamilton memilih yang kedua.
Ha-Joon Chang memilih yang kedua. Dan jelas, Prabowo juga memilih yang kedua. Malam itu, di London yang dingin, tidak ada perjanjian besar yang ditandatangani. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada pidato resmi. Hanya sebuah percakapan hangat antara dua pembaca sejarah ekonomi dunia.
Empat tahun kemudian, saya menjadi saksi di garis terdepan transformasi ekonomi Indonesia, saya sering teringat kembali malam tersebut. Karena mungkin yang saya bantu atur malam itu bukan sekadar sebuah pertemuan biasa.
Melainkan pertemuan antara tiga arus pemikiran yang terhubung melintasi dua abad. Pemikiran Hamilton membangun Amerika.
Pemikiran Ha-Joon Chang dan pemikiran Prabowo yang sekarang berusaha menerapkan pelajaran yang sama untuk Indonesia jadi kaya, walau ditentang oleh para penganut doktrin yang berbeda.
