Dunia Kerja Itu Tidak Selalu Adil, Kenapa?

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banyak orang hanya dihargai saat sudah berhasil. Sebelum itu, sering diabaikan, diremehkan, bahkan dinomorduakan. Tapi justru dari situ, kita belajar jadi kuat tanpa bergantung pada siapa pun.
Ketahuilah, tidak semua orang akan percaya pada proses kita sekarang, dan itu tidak masalah. Biarlah apa kata mereka, asal kita terus berkembang dalam diam. Karena suatu hari nanti, hasil kita akan membuat mereka sadar siapa yang dulu mereka remehkan.
Fenomena dihargai setelah berhasil itu nyata, terutama dalam dunia kerja. Saat seseorang masih berproses: belajar, jatuh bangun, bahkan belum terlihat "hasilnya"---sering kali ia dipandang sebelah mata. Padahal justru fase itulah yang paling menentukan. Dalam pekerjaan, banyak orang hanya dilihat dari jabatan atau pencapaiannya, bukan dari usaha panjang yang sedang ia jalani. Dari sini, kita belajar bahwa validasi eksternal itu tidak bisa dijadikan sandaran utama.
Ketika kita tidak terlalu diakui di awal karier, sebenarnya itu adalah ruang untuk membangun fondasi yang kuat. Kita jadi terbiasa mengandalkan diri sendiri, meningkatkan skill, dan memperbaiki pola pikir tanpa harus menunggu pengakuan. Dalam konteks pekerjaan, ini penting karena dunia kerja tidak selalu adil atau objektif. Mereka yang tahan dalam proses biasanya justru lebih siap menghadapi tekanan dan perubahan di masa depan.
Kondisi ini juga berkaitan erat dengan bagaimana kita mempersiapkan hari tua. Gimana bisa siap untuk masa pensiun? Orang yang terbiasa berjuang tanpa banyak sorotan cenderung lebih disiplin dalam mengelola keuangan, termasuk menyiapkan masa pensiun. Tidak bergaya dalam hidup dan berani menyisihkan untuk dana pensiun, berapapun besarannya. Mereka tidak menunggu "nanti sukses dulu baru menabung", tapi mulai dari sekarang, meski kecil. Karena mereka paham, keberhasilan di masa depan bukan hanya soal karier, tapi juga soal keberlanjutan hidup setelah tidak lagi produktif. Tetap bisa mandiri secara finansial sekalipun sudah pensiun.
Sebaliknya, jika kita terlalu bergantung pada pengakuan atau kenyamanan saat ini, kita bisa lengah terhadap masa depan. Banyak orang terlihat "berhasil" di usia produktif, tapi tidak siap menghadapi hari tua karena tidak membangun sistem keuangan sejak awal. Faktanya, 8 dari 10 pensiunan hari ini sangat bergantung secara ekonomi pada anggota keluarga yang bekerja.
Tetap ikhtiar baik dalam kerja dan mau siapkan masa pensiun, itulah fase yang sering diremehkan orang lain. Justru bekerja adalah waktu terbaik untuk menanam, baik dari sisi kompetensi maupun aset keuangan.
Akhirnya, berkembang dalam diam bukan hanya tentang membuktikan sesuatu kepada orang lain, tapi tentang menyiapkan versi terbaik diri kita di masa depan. Dalam pekerjaan, itu berarti terus bertumbuh tanpa perlu banyak validasi. Dalam kehidupan jangka panjang, itu berarti memastikan hari tua kita tetap bermartabat, tidak bergantung, tidak menyesal, dan tetap punya kendali atas hidup kita sendiri. Selamat bekerja ... #YukSiapkanPensiun
