Ekskul Korps Kadet RI Diluncurkan: Bukan Militerisme, tapi Bela Negara

Kementerian Pertahanan (Kemhan), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dan Kementerian Agama (Kemenag) resmi meluncurkan Ekstrakurikuler Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) di SMKN 26, Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (23/9).
Peluncuran KKRI tersebut dihadiri perwakilan dari 26 sekolah tingkat SMA, SMK, MA, dan sederajat.
Pada kesempatan itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat, memastikan KKRI tidak berkaitan dengan militerisme di sekolah. Menurutnya, kegiatan tersebut lebih menekankan pada pembinaan kesadaran bela negara.
“KKRI ini sama sekali dan tidak benar ada semacam kesan militerisme di sekolah. Jauh daripada pandangan yang seperti itu. Akan tetapi justru yang ditekankan di sini adalah bela negaranya,” kata Atip.
Dia menjelaskan, keterlibatan perwira dalam kegiatan KKRI di sekolah ditujukan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada siswa.
“Kalaupun hadir para perwira di sekolah, itu adalah sharing bagian dari pengalaman, sharing ilmu pengetahuan, karena para perwira adalah mereka yang berdiri di garis depan di dalam membela negara ini,” ujarnya.
Atip juga menegaskan, siswa yang mengikuti KKRI tidak diwajibkan menjadi prajurit. Mereka tetap dapat berkontribusi dalam upaya pertahanan negara sebagai warga negara.
“Kepesertaan adik-adik dalam ekstrakurikuler untuk KKRI ini bukan berarti harus atau wajib menjadi prajurit,” kata Atip.
“Akan tetapi wajib kita menjadi elemen untuk mempertahankan negara ini,” lanjutnya.
Atip menilai, pembinaan kesadaran bela negara menjadi semakin relevan karena ancaman terhadap negara tidak hanya bersifat militer.
“Apalagi sekarang, ancaman bahkan mungkin boleh dikatakan yang terbesar itu justru bersifat nirmiliter atau non-traditional defense, non-traditional threat,” bebernya.
“Oleh karenanya, kehadiran ekstrakurikuler KKRI ini menurut saya sangat tepat di tengah meningkatnya dan beragamnya ancaman terhadap negara kita,” sambung Atip.
Atip juga memastikan KKRI merupakan ekstrakurikuler pilihan bagi siswa tingkat SMA. Dia menyebut hanya Pramuka yang menjadi ekstrakurikuler wajib.
“Iya, ini peluncuran KKRI, kan? Yang merupakan ekstrakurikuler ya di tingkat SMA dan bersifat pilihan. Jadi ekstrakurikuler yang wajib itu kan hanya Pramuka, jadi untuk KKRI ini sifatnya pilihan,” tutur Atip saat ditemui wartawan.
Menurutnya, ekskul KKRI itu bertujuan untuk memberikan bekal kepemimpinan sekaligus memfasilitasi talenta siswa.
“Ya untuk memberikan bekal-bekal kepemimpinan, kemudian juga memfasilitasi talenta yang dimiliki, agar mereka menjadi bagian elemen, ya, generasi muda untuk mempertahankan dan membangun Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Cadangan Nasional (Kabacadnas) Kemhan Letjen TNI Gabriel Lema menyampaikan, KKRI merupakan program prioritas nasional yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto.
Namun, dia turut menegaskan bahwa mengikuti KKRI bukan berarti siswa harus menjadi prajurit.
“Menjadi anggota Korps Kadet ini bukan harus menjadi seorang prajurit, no,” tegasnya.
Gabriel mengatakan KKRI merupakan wadah pembentukan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, dan tanggung jawab sebagai warga negara.
“KKRI adalah wadah pembentukan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, dan tanggung jawab sebagai warga negara,” ujarnya.
“Apa pun cita-cita kelak, nilai-nilai yang diperoleh melalui KKRI ini akan menjadi kekuatan dalam rangka terus adik-adikku berkarya dan memberikan pengabdian terbaik tentunya sesuai dengan bidang masing-masing,” lanjutnya.
Dalam pelaksanaannya, KKRI juga memiliki aktivitas fisik yang akan ditangani bersama kementerian melalui sekretariat di sekolah.
“Aktivitas fisik nanti penyatuan setiap satu minggu di setiap bulan, ini dia langsung ditangani secara bersama kementerian lewat sekretariat itu di sekolah-sekolah,” katanya.
Ketika ditanya apakah aktivitas tersebut melibatkan prajurit, Gabriel membenarkannya.
“Iya prajurit, sampai Koramil, Kodim di seluruh wilayah,” ungkap Gabriel.
Pelaksanaan KKRI juga dilengkapi platform pembelajaran sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ekstrakurikuler tersebut. Di dalamnya, siswa dapat mengikuti sejumlah kelas, mulai dari kepemimpinan, komunikasi empatik, negosiasi dan penyelesaian konflik, hingga pemecahan masalah dan kepedulian terhadap lingkungan.
Siswa juga bisa mengikuti tes minat bakat dan IQ secara gratis, serta mengakses pembelajaran, kuis, webinar, seminar, kemah, hingga festival melalui ponsel. Setelah menyelesaikan kelas, siswa akan mendapat sertifikat dengan nomor unik dan kode QR yang dapat diverifikasi guru.
Platform tersebut dapat diakses melalui kkri.id.
