Epostika Kelana: Daur Ulang sebagai Simbol Bertahan Hidup

Mahasiswa aktif program studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Naila Faaiza Daanesh Marpaung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama tiga hari berturut-turut, Kawan Kelana disuguhkan dengan berbagai acara imersif di Semarang melalui program Epostika Kelana. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara pengrajin lokal Sigur.id dan 40 mahasiswa Universitas Diponegoro yang tergabung dalam Tim Epostika Kelana.
Acara berlangsung pada 26–28 Agustus 2026 di Art Center Universitas Diponegoro. Pemilihan lokasi ini menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan berbagai karya ciamik dari Tim Sigur.id, mulai dari aksesoris, lukisan, tas, cermin, hingga lampu tidur.
Perjalanan Epostika Kelana dimulai dengan lokakarya Epostika Rakit, di mana peserta berkesempatan membuat kerajinan tangan berbahan dasar olahan limbah kayu dan epoxy resin.
Dari lokakarya tersebut, peserta menghasilkan gantungan kunci dan tatakan gelas yang diharapkan dapat memberikan fungsi praktikal. Selama prosesnya, peserta dipandu langsung oleh owner Sigur.id, Mas Janu, bersama timnya yang turut membantu peserta sepanjang acara.
Setiap karya dari seorang pengrajin tentunya memiliki makna tersendiri. Oleh karena itu, Kawan Kelana juga diajak untuk memahami cerita dan makna di balik karya-karya yang dipamerkan melalui Epostika Bhasya.
Acara yang berlangsung pada hari kedua ini menghadirkan Mas Janu sebagai narasumber. Para peserta diajak mengenal lebih dekat tiga karya Mas Janu, yaitu "The Eclipse," "Bergolak," dan "I Wish." Ketiganya memiliki kesamaan dalam penggunaan bahan utama, yaitu olahan limbah daur ulang dan epoxy resin.
Secara garis besar, Mas Janu ingin menyampaikan tentang pentingnya bertahan hidup melalui karya-karyanya. Kesalahan-kesalahan kecil yang muncul selama proses pembuatan justru dapat ditampilkan sebagai bagian dari ciri khas karya, sebab kegagalan merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Karya-karya berbahan daur ulang ini juga menjadi pengingat bahwa kita sebagai manusia selalu memiliki kesempatan untuk mencoba kembali dalam menata kehidupan, seperti halnya limbah kayu yang semula tidak berbentuk dapat diolah menjadi mahakarya indah yang memiliki nilai dan fungsi.
