Konten dari Pengguna

Eropa Semakin Kaya, Mengapa Warganya Justru Makin Kesepian?

Faiz Al Ahsan D Zikri

Faiz Al Ahsan D Zikri

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya. Menulis tentang politik global, isu sosial, dan fenomena masyarakat modern. Percaya bahwa hal kompleks bisa dijelaskan dengan sederhana.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faiz Al Ahsan D Zikri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kesepian di tengah kehidupan perkotaan modern. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kesepian di tengah kehidupan perkotaan modern. Foto: Unsplash

Eropa selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan dengan tingkat kesejahteraan tertinggi di dunia. Banyak negara di kawasan ini memiliki pendapatan per kapita tinggi, sistem kesehatan yang maju, dan standar hidup yang menjadi acuan global.

Namun di balik tingkat kesejahteraan tersebut, Eropa justru menghadapi persoalan sosial yang semakin mengkhawatirkan: kesepian.

Survei pertama Uni Eropa mengenai kesepian—yang dilakukan pada 2022—menemukan bahwa sekitar 13 persen responden merasa kesepian hampir sepanjang waktu. Sementara itu, lebih dari 75 juta orang dewasa di Eropa tercatat hanya bertemu keluarga atau teman paling banyak satu kali dalam sebulan.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang lebih besar tentang hubungan antara kemakmuran dan kualitas kehidupan sosial: Mengapa kawasan dengan tingkat kesejahteraan tinggi justru menghadapi krisis koneksi sosial yang semakin besar?

Kesepian Tidak Lagi Identik dengan Lansia

Selama ini, kesepian sering diasosiasikan dengan kelompok lanjut usia yang tinggal sendiri atau kehilangan pasangan hidup. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru, tetapi data terbaru menunjukkan pola yang lebih kompleks.

Ilustrasi OECD. Foto: Gil C/Shutterstock

Laporan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 2025 menemukan bahwa anak muda dan laki-laki menjadi kelompok yang mengalami penurunan koneksi sosial paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sebanyak delapan persen responden dari 22 negara Uni Eropa bahkan mengaku tidak memiliki satu pun teman dekat.

Temuan serupa juga muncul dalam survei Uni Eropa mengenai kesepian. Tingkat kesepian pada kelompok usia muda tercatat lebih tinggi dibandingkan sebagian kelompok usia yang lebih tua. Generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi komunikasi paling maju justru menjadi salah satu kelompok yang paling rentan merasa terisolasi secara sosial.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesepian tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai persoalan usia. Dalam banyak kasus, ia berkaitan dengan perubahan pola hidup, cara masyarakat membangun relasi, hingga menurunnya kualitas interaksi sosial sehari-hari.

Koneksi Digital Tidak Selalu Mengurangi Kesepian

Perkembangan teknologi digital memang mempermudah komunikasi jarak jauh. Selama pandemi COVID-19, berbagai platform komunikasi daring membantu banyak orang tetap terhubung ketika interaksi tatap muka terbatas.

Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa peningkatan komunikasi digital tidak selalu diikuti oleh meningkatnya kedekatan sosial. Data OECD mencatat bahwa meskipun kontak daring meningkat setelah pandemi, frekuensi pertemuan langsung dengan keluarga dan teman justru terus menurun dibandingkan periode sebelumnya.

Bendera Uni Eropa. Foto: REUTERS/Yves Herman

Survei Uni Eropa mengenai kesepian juga menemukan bahwa penggunaan media sosial secara intens berkorelasi dengan meningkatnya rasa sepi pada sebagian responden. Interaksi digital dapat membantu menjaga komunikasi, tetapi tidak selalu mampu menggantikan kedalaman hubungan sosial secara langsung.

Seseorang dapat memiliki ratusan kontak di media sosial, tetapi tetap merasa tidak memiliki hubungan yang benar-benar dekat. Dalam banyak kasus, koneksi digital menjaga komunikasi tetap berjalan, tetapi tidak selalu membangun kedekatan emosional yang nyata.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa kesepian bukan sekadar persoalan individu yang kurang bersosialisasi. Ia juga berkaitan dengan perubahan struktur kehidupan modern, mulai dari ritme kerja, mobilitas yang tinggi, hingga berkurangnya ruang sosial untuk membangun hubungan yang stabil dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika Kesepian Menjadi Masalah Sosial

Meningkatnya angka kesepian membuat sejumlah negara mulai memperlakukannya sebagai persoalan kesehatan publik, bukan lagi sekadar masalah pribadi.

Inggris menjadi salah satu negara pertama yang menunjuk menteri khusus untuk menangani isu kesepian pada 2018. Setelah itu, sejumlah negara lain seperti Jepang, Denmark, Finlandia, Belanda, Swedia, dan Spanyol mulai menyusun strategi nasional untuk mengatasi persoalan serupa.

Ilustrasi Inggris. Foto: Tomas Marek/Shutterstock

Perhatian terhadap isu ini terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada Mei 2025, Majelis Kesehatan Dunia bahkan secara resmi mengakui koneksi sosial sebagai salah satu isu kesehatan global yang mendesak.

Langkah tersebut muncul karena dampak kesepian tidak hanya berkaitan dengan kondisi emosional seseorang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa individu yang mengalami kesepian berkepanjangan memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, gangguan kesehatan jantung, penurunan fungsi kognitif, hingga kematian dini.

OECD memperkirakan kesepian berkontribusi terhadap sekitar 871 ribu kematian setiap tahun secara global. Dalam konteks ini, kesepian tidak lagi dipahami hanya sebagai persoalan perasaan, tetapi juga sebagai tantangan sosial dan kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup masyarakat secara luas.

Karena itu, semakin banyak pemerintah mulai melihat pentingnya membangun kembali koneksi sosial di tengah masyarakat modern yang semakin individualistis dan terfragmentasi.

Kemakmuran Tidak Selalu Menghilangkan Kesepian

Munculnya krisis kesepian di Eropa memperlihatkan bahwa kesejahteraan ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan kuatnya hubungan sosial di dalam masyarakat.

Ilustrasi masyarakat. Foto: Dmitry Nikolaev/Shutterstock

Mobilitas yang tinggi memang membuka lebih banyak peluang pendidikan dan pekerjaan, tetapi pada saat yang sama juga dapat melemahkan ikatan komunitas. Banyak orang harus berpindah kota atau negara untuk bekerja, lalu membangun kembali hubungan sosial dari awal dalam lingkungan yang sepenuhnya baru.

Di kota-kota besar Eropa, ritme kerja yang padat dan biaya hidup yang terus meningkat juga membuat interaksi sosial menjadi semakin terbatas. Waktu untuk membangun hubungan yang mendalam sering kali kalah oleh tuntutan pekerjaan dan kebutuhan ekonomi sehari-hari.

Selain itu, budaya individualisme yang berkembang di banyak negara Eropa turut memengaruhi cara masyarakat memandang hubungan sosial. Kemandirian sering dianggap sebagai nilai utama, sementara ketergantungan emosional terhadap orang lain kadang dipandang sebagai kelemahan pribadi.

Dalam kondisi seperti itu, banyak orang mengalami kesepian tanpa benar-benar membicarakannya secara terbuka. Kesepian menjadi pengalaman yang dialami secara diam-diam, meskipun terjadi di tengah masyarakat yang secara ekonomi terlihat stabil dan maju.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pembangunan sosial tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi atau kualitas infrastruktur. Rasa memiliki komunitas, hubungan sosial yang sehat, dan keberadaan ruang untuk membangun koneksi antarmanusia juga menjadi bagian penting dari kualitas hidup masyarakat modern.