Fast Fashion : Murah Di Kantong, Mahal Bagi Bumi
Tulisan dari melissachandra107 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fast fashion merupakan fenomena yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut seringkali disebabkan oleh pengaruh media sosial. Secara singkat, fast fashion adalah strategi bisnis dimana suatu perusahaan menciptakan pakaian yang murah untuk meniru tren sehingga dapat merilis koleksi baru dalam waktu yang singkat. Sedihnya, banyak orang masih kurang mengetahui dampak buruk dari fast fashion tersebut. Ia tidak hanya memberi dampak negatif terhadap kehidupan sosial, namun juga kepada lingkungan kita. Oleh karena itu, masyarakat perlu bersikap lebih bijak dan kritis sebelum membeli pakaian baru.
Salah satu dampak negatif dari fast fashion adalah munculnya budaya konsumtif. Kebiasaan membeli pakaian baru menyebabkan pakaian lama menumpuk dan tidak terpakai. Pakaian yang sudah tidak dianggap trendy lagi sering kali tidak digunakan dan akhirnya dibuang, sehingga menambah jumlah limbah tekstil. Meskipun terlihat seperti hal yang sepele, tanpa kita sadari, tumpukan pakaian tersebut dapat menjadi limbah yang sulit terurai dan pada akhirnya mencemari lingkungan. Menurut Ellen MacArthur Foundation, setiap detik, jumlah tekstil yang setara dengan satu truk sampah dibuang ke tempat pembuangan akhir atau dibakar. Penyataan ini menunjukkan bahwa fast fashion masih relevan dan berlanjut dalam kehidupan kita.
Sikap FOMO juga dapat menyebabkan perkembangan fast fashion semakin meningkat. Banyak orang mengikuti tren karena takut ketinggalan atau merasa kurang keren jika tidak membeli pakaian baru. Padahal, tren berubah dengan cepat, sehingga mengikuti tren yang muncul terus-menerus hanya akan mendorong perilaku konsumtif dan membuat kita terus membeli pakaian baru. Oleh karena itu, seharusnya masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh tren dan lebih bijak lagi dalam menentukan kebutuhan.
Pada zaman sekarang, dampak negatif fast fashion terhadap lingkungan kurang diketahui oleh masyarakat. Fenomena yang dapat mendorong perilaku konsumtif dalam fast fashion adalah Black Friday. Banyak toko menawarkan diskon besar-besaran sehingga meningkatkan minat masyarakat untuk membeli pakaiannya, meskipun pakaian tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan. Buktinya, masih banyak orang yang membuang pakaian yang sudah tidak terpakai tanpa menyadari bahwa limbah tersebut dapat mencemari lingkungan. Pakaian ini umumnya terbuat dari poliester berbasis plastik yang sangat sulit terurai, sehingga akan bertahan hingga ratusan tahun. Ini menunjukkan bahwa penumpukan limbah tekstil tersebut sangat berbahaya. Selain itu, limbah pewarna dari produksinya meresap dan mencemari sungai, hingga merusak kualitas air sumur yang biasa kita gunakan untuk mandi dan mencuci sehari-hari.
Meskipun banyak transaksi pada zaman sekarang dilakukan melalui toko online, hal tersebut tetap dapat memberikan dampak yang sama, yaitu meningkatnya jumlah pakaian yang tidak terpakai dan menumpuk sebagai limbah tekstil. Dengan memahami dampak tersebut, masyarakat dapat mengurangi pembelian yang tidak diperlukan dan menggunakan pakaian lebih lama. Oleh karena itu, literasi mengenai fast fashion sangat penting agar masyarakat tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga dapat membuat pilihan yang lebih bijak dan membantu menjaga lingkungan.

