Fenomena Food Waste sebagai Persoalan Budaya Konsumsi era Perubahan Iklim

Anthropology I Jurnalisme. Jurnalis. Eks Antropologi Budaya ISI Padang Panjang.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Atthoriq Chairul Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Makanan merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia, bukan sekadar untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi, namun terdapat pola yang dipergunakan menjadi kebiasaan masuk menjadi gaya hidup dalam kehidupan sosial. Di tengah kemudahan dalam pengelolaan hingga mendapatkan makanan serba cepat, ada persoalan tidak bisa diabaikan, ketika makanan berakhir menjadi sampah (food waste). Penyebabnya berupa makanan tidak habis di meja makan, penggunaan produk dan barang belum sepenuhnya merupakan bagian dari fenomena tersebut. Krisis semakin meluas saat makanan tidak lagi sebagai bahan konsumsi semata, melainkan berpengaruh terhadap pemanfaatan sumber daya serta pengelolaan sistem pangan.

Terjadinya fenomena food waste dapat dilihat dari cara masyarakat mengonsumsi makanan. Budaya konsumsi masa kini merupakan pilihan dari cara mendapatkan hingga mengelola, salah satu seperti diskon, promosi hingga pelayanan yang membuat konsumen tertarik. Keadaan saat makanan mudah diperoleh lalu dikonsumsi berpotensi untuk dibuang. Merujuk pada fenomena food waste, ini bukan hanya persoalan pengelolaan sampah, perlu ditilik dari aspek sosial budaya. Ketika makanan terbuang sia-sia maka berdampak terhadap situasi ekologis, seperti penggunaan sumber daya air, tanah juga lahan menjadi tidak optimal. Dikaitkan dengan perubahan iklim, berpengaruh besar dari bagaimana manusia membentuk pola kebiasaan dalam mengonsumsi pangan.
Food Waste dalam Kehidupan Masyarakat Kontemporer
Istilah food waste tidak lepas kaitannya dengan budaya konsumsi era kontemporer ini. Menggambarkan pada gaya hidup dan cara memilih untuk memudahkan mendapatkan makanan hingga pertimbangan sosial. Kemudahan dalam memperoleh serta menggunakan fasilitas layanan pesan antar makanan, lain hal adanya strategi marketing dapat mempengaruhi daya tarik pelanggan mengakibatkan meningkatnya intensitas budaya konsumsi. Penting dipahami food waste bukan hanya konsekuensi, tetapi makanan dijadikan sebagai gaya hidup dalam meningkatkan pengalaman konsumsi. Sebab itu, persoalan makanan tidak hanya berfokus pengelolaan sampah, tetapi dapat memahami nilai konsumsi dapat membentuk kebiasaan masyarakat terhadap sebuah makanan.
Food waste awalnya merujuk pada bahan pangan yang dikonsumsi manusia, namun akhir tidak dikonsumsi lalu dibuang karena berbagai sebab. Fokusnya ketika bahan makanan digunakan sudah mengalami degredasi (kehilangan manfaat) serta faktor lain termasuk kerusakan atau serangan hama. Memaknai konsep ini sederhananya merujuk kepada bahan berpotensi untuk dikonsumsi manusia, kemudian dengan pertimbangan indikator maka dihilangkan atau dibuang bahkan dikonversi ke dalam bentuk lain lebih berdampak. Ketentuan regulasi Indonesia ia memiliki ketentuan khusus, dapat dikategorikan sampah mudah terurai (organik). Sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 menekankan pengelolaan menempatkan sampah rumah tangga sejenisnya perlu dikelola berkelanjutan untuk menghindari emisi berlebihan berdampak terhadap sumber daya ekologis (Lestari dkk, 39: 2022).
Praktiknya dapat dikelompokkan dalam upaya mencegah terjadinya pembuangan. Pertama, avoidable food waste merujuk pada makanan sebenarnya masih dapat dikonsumsi, namun tidak dimakan lagi karena alasan tertentu hingga mengalami kerusakan lalu dibuang. Kedua, unavoidable food waste merupakan bagian umumnya sulit bahkan tidak dikonsumi, ini biasanya merupakan sisa dari bahan pangan telah diolah, contohnya cangkang telur, kulit, dan tulang. Pembedaan tersebut menjadi penting karena belum tentu seluruh sampah makanan memiliki karateristik atau pengurangan sama. Jika dalam pengelolaan sehari-harinya jenis-jenis sampah masih dicampur, misalkan dikelompokkan ke dalam sampah organik, sehingga peluang dalam pengelolaan seperti mengidentifikasi makanan masih bisa dikonsumsi akan sulit dikenali sejak dari sumbernya.
Selanjutnya persoalan food waste selain bukan sekadar makanan terbuang, namun perlu mempertimbangkan dampak ekologis dalam pengelolaan sebagai sampah. Makanan dibuang membawa jejak sumber daya sejak proses produksi hingga sampai pada konsumen. Ketika bahan makanan berakhir di tempat pembuangan jika dibiarkan begitu saja dapat menghasilkan gas metana yang menyebabkan pemanasan global jauh lebih besar dari pada karbondioksida. Kasus di Indonesia, Bappenas (2021) memperkirakan selama periode 20 tahun menghasilkan emisi cukup besar dengan rata-rata setara emisi gas rumah kaca 7,29% tiap tahunnya. Lain hal, tingginya timbulan sampah dapat mempersempit tempat pengelolaan akhir sampah serta dapat meningkatkan beban dalam pengelolaanya. Persoalan food waste memiliki keterkaitan langsung dalam pengelolaan sampah berdampak langsung terhadap krisis ekologis, bukan sekadar alasan kenapa bahan makanan tersebut tidak digunakan lagi (Lestari dkk, 38: 2022).
Pandangan lain, perlunya pengurangan food waste pertimbangan ketahanan pangan dan ketersediaan sumber daya. Stuart (2009) menegaskan pemborosan makanan semakin problematis ketika terjadinya kesulitan akses makanan. Pengurangannya disertai pemilahan juga pengelolaan sampah dengan optimal, berdampak terhadap layanan pembuangan akhir dalam sistem beban sampah, dan dapat lebih menghemat penggunaan sumber daya dalam mendukung ketahanan pangan. Fokus penyelesaian sekarang tidak hanya pengelolaan makanan setelah menjadi sampah. Perlu adanya adaptasi demi memahami perubahan pola konsumsi, pengurangan makanan terbuang sehingga dapat dipilah untuk pemanfaatan pangan sisa yang masih layak untuk digunakan.
Budaya Konsumsi di balik Makanan yang Terbuang
Makanan terbuang terjadi ketika seseorang membeli atau memasak terlalu banyak, namun cara memandang terhadap pola konsumsi seperti memilih dan mengelolah dalam keseharian. Adanya referensi gaya hidup dalam memperoleh bahan konsumsi secara cepat serta pemanfaatan fasilitas untuk menciptakan kemudahan sesaat. Sekarang makanan dibeli bukan karena berdasarkan kebutuhan (pokok), tetapi sebagian mengikuti tren global yang menjadi ukuran, ini berakibat makanan berlebih dapat berakhir menjadi sampah. Berhubungan dengan food waste merupakan bagian dari budaya konsumsi kontemporer, memiliki hubungan erat terhadap cara manusia dalam menggunakan makanan sebagai hasil sumber daya pangan.
Masyarakat era kontemporer, makanan tidak lagi sebagai pemenuhan kebutuhan pokok, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari bertransformasi menjadi gaya hidup serta tren untuk mencapai kepuasan batin. Budaya konsumsi dewasa ini dipengaruhi kemudahan dalam memperoleh dan kecanggihan platform pengguna. Beragamnya inovasi dan kreativitas ditawarkan terhadap makanan juga media branding mempengaruhi minat konsumen dalam mengambil keputusan.
Pola tersebut menunjukkan budaya konsumsi menggambarkan tidak seberapa banyak makanan dikonsumsi, lebih bagaimana masyarakat mengambil keputusan pra dan pasca makanan digunakan. Melihat kebiasaan (pola) konsumsi, ia dipesan berdasarkan tren atau kemasan sehingga menjadi populer. Namun menjadi permasalahan ketika menjadi budaya konsumtif seperti melakukan pembelian tanpa pemikiran panjang membeli tidak sesuai kebutuhan (porsi terlalu besar), atau selera berubah, jika belum ditemukan alternatif dalam proses berakhir pada tempat pembuangan (Rahman dkk, 56: 2023)
Munculnya food waste muncul sebagai akibat pola konsumsi pangan kontemporer. Persoalanya bukan hanya sisa makanan, lebih lanjut berfokus dalam pengelolaan makanan dari proses pembelian hingga berakhir di tempat pembuangan. Ketika makanan mudah diperoleh orientasi pada kepuasan atau gaya hidup perlu dipertimbangkan dalam upaya menghargai sumber daya pangan. Memahami food waste perlu diperhatikan indikator budaya konsumsi masyarakat, demi menciptakan cara adaptif terhadap dampak dari keputusan konsumsi terhadap lingkungan.
Dampak Food Waste Terhadap Lingkungan
Pembahasan mengenai food waste tidak berhenti pada aspek makanan terbuang, namun perlu dikaji dampak pembuangan tersebut terhadap lingkungan. Prosedurnya, setiap makanan membutuhkan berbagai sumber daya untuk memberikan kualitas baik seperti penggunaan lahan, air hingga aspek-aspek produksi, lalu dapat dinikmati oleh konsumen. Menjadi pertimbangan adalah ketika makanan sudah diolah dengan baik, apabila dibuang maka secara tidak langsung sumber daya digunakan ikut terbuang. Makanan mengalami pembusukan di tempat pembuangan akhir dapat menghasilkan gas rumah kaca berupa metana jika tidak dikelola dengan baik dapat berdampak terhadap perubahan iklim. Semakin besar makanan terbuang tanpa pengelolaan baik, maka akan menjadi beban cukup berat pada sistem bahkan lingkungan lebih luas. Fokusnya food waste bukan hanya konsumsi dan sampah rumah tangga, tetapi pengaruhnya terhadap pemborosan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan.
Sebelumnya makanan telah menjadi persoalan lingkungan di tingkat global, penyebabnya jumlah pangan tidak dikonsumsi akhirnya dibuang. FAO (2013) memperkirakan sekitar 1,6 gigaton makanan terbuang di dunia. Persoalan tersebut semakin rumit saat pola produksi dan konsumsi dengan intensitas tinggi tetapi belum benar-benar dimanfaatkan. Sederhananya, jika makanan banyak terbuang, maka sumber daya alam tidak dapat digunakan secara produktif. Dampak ekologis dari food waste belum dapat ditentukan hanya saat makanan menjadi sampah, tetapi dilihat dari proses produksi berujung konsumsi untuk memahami detail pengurangan makanan terbuang sejak dari sumbernya (Prasetyo dkk, 278: 2020).
Dampak tersebut berlanjut, ketika sampah makanan masuk ke dalam sistem pengelolaan sampah, khususnya tempat pembuangan akhir. Alurnya dapat dijabarkan sebagai berikut; makanan terbuang-menumpuk menjadi sampah organik-pembusukan-menghasilkan gas dan cairan pencemar-berdampak terhadap lingkungan. Keadaan lingkungan minim oksigen, pembusukan sampah organik dapat menghasilkan gas metana dan menghasilkan gas rumah kaca, dapat meningkatkan suhu di atas rata-rata (perubahan iklim) menjadi penyebab rusaknya ekosistem lingkungan lainnya jika dibiarkan terus-menerus. Konteks ini, food waste memperjelas hubungan sebab-akibat perilaku konsumsi, manusia juga dampaknya terhadap keadaan ekologis.
Perlu dipahami alur untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebagai akibat dari banyaknya sampah terbuang, menimbang dampak yang ditimbulkan bukan sekadar unsur terkecil pada tumpukan sampah. Perubahan iklim (pancaroba) ketika suhu tidak normal menyebabkan kerusakan lingkungan seperti kondisi udara tercemar, bahkan ketika musim kemarau mudahnya terjadi kebakaran hutan salah satu dampak dari peningkatan emisi tersebut. Peranan food waste di sini, bukan hanya membuang sampah pada tahap ritel, namun adanya pengelolaan lebih lanjut untuk mengurangi sampah makanan terbuang begitu saja. Berikut, perlu diketahui hubungan sebab akibat dari unit terkecil hingga komunitas lebih luas pola konsumsi dan pengelolaan agar tidak berdampak terhadap kerusakan lingkungan.
Membangun Budaya Konsumsi Pangan Berkelanjutan
Berbagai dampak dari penerapan food waste menunjukkan persoalan makanan tidak sepenuhnya dapat diselesaikan melalui pengelolaan sampah setelah menjadi limbah. Ada upaya mendasar yang melandasi untuk membangun budaya konsumsi pangan berkelanjutan, maka perlu diperhatikan indikator ketika pangan tersebut diolah mempertimbangan kebutuhan, mendukungnya harga permintaan juga penawaran, setelah itu pangan tersebut diinovasikan untuk menarik konsumen dalam memenuhi gaya hidup, bahkan dampak setelah makanan tidak digunakan lagi karena fungsi pakai. Membangun konsumsi pangan berkualitas bukan sekadar pada aspek teknis pengurangan sampah makanan, namun membangun cara pandang baru memilih dan menggunakan makanan (pangan) demi menjaga keberlanjutan lingkungan.
Era maraknya budaya konsumsi beragam perlu diterapkannya konsep ketahanan pangan dalam mendukung ekosistem lingkungan. Konsep ketahanan pangan yaitu ketika unsur-unsur pemenuhan dari segi mutu, pemerataan distribusi dengan mempertimbangkan harga dapat dinikmati secara bersama. Berdasarkan UU No 18 Tahun 2012 ketahanan pangan menjadi penting untuk mewujudkan masyarakat sejahtera meliputi aspek kesehatan dan produktivitas berkelanjutan, sehingga pembuangan makan secara sia-sia dapat diminimalisir yang dapat berdampak pada kondisi lingkungan (Rahman dkk, 58-59: 2023).
Berkaitan dengan hal itu, jika sebaliknya pangan dikelola kurang maksimal, seperti tidak dikonsumsi lalu akhirnya dibuang, maka terjadinya pemborosan sumber daya serta pangan tidak dapat dikelola sepenuhnya. Berkaitan terhadap mekanisme food waste, ia memiliki kaitan erat terhadap ketahanan pangan, bukan hanya soal ketersediaan makanan tetapi bagaimana pangan diihargai juga digunakan dengan baik. Masa sekarang sebagian masyarakat masih menghadapi kendala dalam memperoleh akses makanan, baik dari segi cara pengelolaan, distribusi hingga persoalan harga memengaruhi persepsi masyarakat dalam membentuk budaya konsumsi.
Membangun budaya konsumsi berkelanjutan merupakan upaya meningkatkan mutu pangan sekaligus mengurangi timbulan dampak dari food waste. Orientasi budaya konsumsi berkelanjutan ini ketika masyarakat memiliki nilai untuk memilih juga mengelola makanan untuk kebutuhan disertai dampaknya terhadap lingkungan. Penerapannya mulai dari bijak memilih serta mengelola makanan dan menerapkan pengurangan kebiasaan membuang makanan masih layak dikonsumsi. Mekanisme tersebut diterapkan dengan baik dapat membantu mengurangi pemborosan sekaligus dapat memilah aktivitas dapat menyebabkan pemborosan sumber daya tidak diperlukan. Kolaborasi ketahan pangan dengan budaya konsumsi sangatlah penting, dimana ketahanan pangan memastikan terpenuhi kebutuhan makanan, sedangi aspek budaya konsumsi optimal dapat menciptakan pemanfaatan pangan juga sumber daya dengan bijak.
