Konten dari Pengguna

Fenomena Mahasiswa Indonesia ke Eropa: Antara Mimpi dan Realita

Erica Wulan Safina Lova

Erica Wulan Safina Lova

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya Angkatan 2023

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Erica Wulan Safina Lova tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang mahasiswa duduk sendiri di tangga, menggambarkan refleksi dan dilema dalam menentukan masa depan pendidikan dan karier.
zoom-in-whitePerbesar
Seorang mahasiswa duduk sendiri di tangga, menggambarkan refleksi dan dilema dalam menentukan masa depan pendidikan dan karier.

Setiap tahun, makin banyak mahasiswa Indonesia yang berangkat ke Eropa dengan satu keyakinan sederhana: masa depan yang lebih baik ada di sana. Negara seperti Belanda, Jerman, hingga Inggris jadi tujuan favorit, apalagi dengan dukungan beasiswa seperti LPDP. Fenomena ini bahkan terasa dekat di sekitar kita, semakin banyak teman atau kenalan yang mulai menjadikan Eropa sebagai tujuan utama pendidikan.

Tapi di tengah euforia itu, ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar dibahas: setelah semua ini, mereka akan pulang ke mana?

Selama ini, peningkatan jumlah mahasiswa ke luar negeri sering dianggap sebagai tanda kemajuan. Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi juga menunjukkan tren yang terus naik. Kita sering bangga melihat generasi muda Indonesia bisa menembus kampus-kampus global. Tapi anehnya, pembicaraan hampir selalu berhenti di keberangkatan bukan di kepulangan.

Yang lebih menarik, ketika ada yang memilih tidak kembali, responsnya sering langsung mengarah ke individu. Dibilang kurang nasionalis, terlalu nyaman di luar negeri, atau tidak punya rasa tanggung jawab. Padahal, kalau dipikir lagi, sesederhana itu kah?

Realitasnya tidak selalu ideal. Banyak lulusan dari Eropa justru menghadapi “shock” ketika kembali. Lingkungan kerja yang kurang fleksibel, ruang riset yang terbatas, sampai sistem yang belum sepenuhnya menghargai merit sering jadi kendala. Dalam kondisi seperti ini, keputusan untuk tetap tinggal di luar negeri sering kali bukan karena tidak cinta Indonesia tapi karena di sana mereka merasa lebih punya ruang untuk berkembang.

Di sisi lain, kita juga tidak bisa pura-pura bahwa kuliah ke Eropa sepenuhnya soal akademik. Jujur saja, ada nilai gengsi yang ikut bermain. Gelar dari kampus seperti University of Oxford atau Leiden University sering kali langsung mengangkat status seseorang di mata sosial. Tanpa sadar, kita masih menempatkan pendidikan Barat sebagai standar tertinggi sebuah cara pandang yang mungkin tidak sepenuhnya lepas dari sejarah panjang hubungan Indonesia dengan Eropa.

Akhirnya, fenomena ini jadi campuran yang rumit antara keinginan untuk berkembang, dorongan globalisasi, dan kebutuhan akan pengakuan sosial. Tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sesederhana yang sering dibayangkan.

Apalagi sekarang, cara pandang generasi muda juga sudah berubah. Dunia tidak lagi dilihat dalam batas negara. Karier, jaringan, bahkan identitas profesional jadi semakin global. Jadi, mungkin pertanyaannya bukan lagi “kenapa mereka tidak pulang”, tapi apakah Indonesia sudah cukup siap untuk jadi tempat pulang?

Karena pada akhirnya, belajar ke Eropa seharusnya bukan cuma soal pergi. Yang lebih penting adalah: apakah ada alasan yang cukup kuat untuk kembali?

Kalau tidak, maka “belajar ke Eropa” akan terus jadi cerita sukses individu tapi belum tentu jadi kemajuan bersama.