Filipina Tuduh China Pukul Pelaut Pakai Tongkat di Laut China Selatan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penjaga Pantai Filipina melakukan misi pasokan untuk pasukan Filipina yang ditempatkan di kapal perang yang mendarat di Laut Cina Selatan, pada 4 Oktober 2023. Foto: Adrian Portugal/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Penjaga Pantai Filipina melakukan misi pasokan untuk pasukan Filipina yang ditempatkan di kapal perang yang mendarat di Laut Cina Selatan, pada 4 Oktober 2023. Foto: Adrian Portugal/REUTERS

Militer Filipina menuduh personel Penjaga Pantai China atau China Coast Guard (CCG) memukul seorang pelaut Filipina dengan tongkat kayu dalam insiden di Laut China Selatan, Senin (20/7).

Dilansir AFP, kejadian ini terjadi saat kapal China mendekati BRP Sierra Madre, kapal perang tua yang menjadi pos militer Filipina di Beting Second Thomas.

Militer Filipina mengatakan sebuah perahu karet milik CCG yang membawa delapan personel mengitari BRP Sierra Madre sambil mengambil foto dan video.

Filipina kemudian mengerahkan dua perahu karet untuk mengusir kapal tersebut.

Namun, menurut Manila, situasi berubah menjadi bentrokan.

"Personel CCG bereaksi secara keras dan agresif dengan memukul seorang personel Angkatan Laut Filipina di kepala menggunakan tongkat kayu, sehingga menyebabkan luka serta merusak perahu karet Angkatan Laut Filipina," demikian pernyataan militer Filipina, dikutip AFP.

Kapal Penjaga Pantai China menggunakan meriam air ditembakkan ke arah kapal Biro Perikanan dan Sumber Daya Perairan Filipina di Laut Cina Selatan, Minggu (12/10/2025). Foto: Philippine Coast Guard/ HO REUTERS

Kementerian Pertahanan Filipina menyebut insiden itu menambah daftar panjang tindakan yang dianggap provokatif dan bermusuhan oleh China di Laut China Selatan.

Kedutaan Besar China di Manila belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.

Diketahui, Beting Second Thomas merupakan salah satu titik sengketa utama di Kepulauan Spratly.

China mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan meski Mahkamah Arbitrase Permanen pada 2016 menyatakan klaim tersebut tidak memiliki dasar hukum.

Sebuah kapal Penjaga Pantai China terlihat di Second Thomas Shoal yang disengketakan, bagian dari Kepulauan Spratly, di Laut Cina Selatan. Foto: Erik De Castro/REUTERS

Pada Juni 2024, personel penegak hukum China yang membawa pisau, tongkat, dan kapak juga bentrok dengan pasukan Filipina saat misi pengiriman logistik ke BRP Sierra Madre.

Sebulan kemudian, kedua negara sempat menyepakati mekanisme sementara untuk misi pasokan ke kapal tersebut.

Insiden terbaru ini terjadi hanya beberapa hari setelah Filipina melayangkan protes diplomatik terhadap video media pemerintah China yang menggambarkan Filipina sebagai seekor monyet kartun. Pemerintah Filipina menyebut video tersebut bernuansa rasis.