Kumparan Logo
Konten Media Partner

Film The Last Supper Rekam Trauma Penyintas Operasi Trisula 1968

Pandangan Jogjaverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dok. Istimewa

Peristiwa Operasi Trisula pada 1968 di Blitar Selatan, Jawa Timur, menjadi salah satu babak kelam dalam sejarah konsolidasi kekuasaan Orde Baru yang hingga kini belum banyak diketahui publik. Dalam operasi tersebut, ribuan warga sipil yang sebagian besar merupakan petani biasa ditangkap dan disiksa tanpa proses hukum karena dituduh sebagai simpatisan komunis.

Lebih dari setengah abad berlalu, para penyintas yang masih hidup kini semakin terpojok oleh usia. Mereka membawa trauma seorang diri, sementara dokumentasi visual mengenai kekerasan yang mereka alami sangat terbatas. Kondisi itu membuat upaya merawat ingatan kolektif tentang para korban semakin mendesak, bukan hanya untuk mengenang apa yang terjadi, tetapi juga untuk terus menyuarakan tuntutan keadilan bagi penyintas kekerasan massal tersebut.

kumparan post embed

Persoalan itu menjadi salah satu pokok pembahasan dalam pemutaran dan diskusi film dokumenter The Last Supper (Whisper) (2026) yang diselenggarakan PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesuit) di Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Film karya sutradara Daniel Rudi Haryanto itu mengangkat kisah tiga mantan tahanan politik korban Operasi Trisula, yakni Markus Talam (87), Suyatman (76), dan Soekiman yang meninggal pada 2020 dalam usia 72 tahun.

Ketiganya merupakan petani biasa yang dituduh sebagai simpatisan komunis dan ditahan tanpa melalui proses pengadilan. Soekiman dan Suyatman dibebaskan setelah mengalami penyiksaan di penjara Blitar, sedangkan Talam harus menjalani satu dekade kerja paksa di kamp konsentrasi Pulau Buru.

Ketiganya kemudian menerima surat pembebasan. Namun, dokumen tersebut secara resmi bernama “Surat Pelepasan Sementara”, bukan surat pembebasan penuh.

Pengalaman tersebut meninggalkan trauma yang mereka bawa selama puluhan tahun. Bagi Talam, misalnya, harmoni suara gamelan justru membangkitkan memori getir tentang gedoran aparat militer di pintu rumahnya.

Sementara itu, Suyatman terus dibayangi rahasia kelam tentang Goa Tikus, tempat saudarinya bersama puluhan warga lainnya dieksekusi. Penderitaan mereka juga tidak berhenti setelah keluar dari tahanan. Stigma sebagai “komunis”, perampasan tanah dan kebun, serta larangan bekerja di instansi pemerintah terus mengikuti kehidupan mereka dan keluarganya.

“Akibat operasi militer Trisula, mereka dan keluarga mereka mengalami penderitaan fisik dan psikologis yang berkepanjangan,” kata Rudi, panggilan akrab Daniel Rudi Haryanto.

kumparan post embed

Dalam The Last Supper (Whisper), ketiga penyintas digambarkan berkumpul pada usia senja untuk mengadakan sebuah “santap malam terakhir”. Mereka berbagi pengalaman dengan berbisik. Tak jarang, percakapan tersebut diiringi tetesan air mata.

Melalui pertemuan itu, mereka berusaha merawat ingatan agar pengalaman tersebut tidak ikut terkubur dalam sunyinya hutan jati. Pada saat yang sama, ketiganya tetap menunggu kabar baik yang mungkin tak akan pernah datang.

Rudi mengatakan film tersebut didedikasikan kepada ketiga orang yang menjadi subjek film maupun korban lain kekerasan negara terhadap masyarakat sipil. Menurut dia, banyak di antara mereka sampai sekarang masih memperjuangkan hak-haknya.

“Mereka dipandang tidak bersih lingkungan; keluarga mereka tak dapat bekerja pada instansi pemerintah,” ujar Rudi.

Ia mengatakan dampak kekerasan juga menyentuh kepemilikan ekonomi keluarga para korban.

“Tanah, kebun, dan aset keluarga mereka banyak yang dirampas dan digunakan untuk fasilitas umum atau tempat tinggal orang lain,” katanya.

Animasi dan Suara untuk Mendekati Trauma

Foto: Dok. Istimewa

The Last Supper (Whisper) diproduksi dalam rentang panjang, sejak 2017 hingga 2025. Film ini memadukan animasi dan desain suara yang detail dan jeli dengan berbagai simbol budaya Jawa khas Blitar Selatan.

Pendekatan artistik tersebut digunakan untuk menciptakan suasana yang lebih ringan sehingga penonton dapat ikut menyelami trauma mendalam yang dialami para subjek film tanpa kehilangan konteks kekerasan yang melatarbelakanginya.

Rudi merupakan sutradara alumnus Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Ia pernah meraih Directors Guild of Japan Award di Yamagata International Documentary Film Festival (YIDFF) serta penghargaan di CinemAsia Amsterdam.

The Last Supper (Whisper) pertama kali ditayangkan di Jogja-NETPAC Film Festival 2025. Pada April 2026, film tersebut diputar di Festival International de Cinéma Asiatique de Tours (FICAT), Prancis, dan meraih predikat