Konten dari Pengguna

Filosofi Gunting Rambut dan Etika Pelayanan ASN

Doni Kandiawan

Doni Kandiawan

ASN Pemda Bangka

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Doni Kandiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu, sebuah kabar duka datang mengetuk pintu rumah dengan teramat dingin. Istri membangunkan saya saat matahari belum lagi meninggi. “Bang Badar meninggal dunia, semalam,” bisiknya. Saya tertegun di tepi tempat tidur, membiarkan ingatan saya meluncur bebas menembus waktu, mengenang kembali momen saat saya terakhir kali duduk di atas kursi hidrolik besinya yang mulai berkarat tipis. Tempat di mana kepala saya—dan mungkin ratusan kepala laki-laki lintas generasi di kota ini—pernah duduk untuk dirapikan oleh tangan terampil Bang Badar.

Di bawah atap asbes teras rumahnya di Parit Padang, status kedinasan kita seolah luruh. Bagi seorang ASN yang kesehariannya diatur oleh jam kerja dan aturan kedinasan, pangkas rambut Bang Badar adalah ruang yang jujur. Di hadapan cermin besarnya yang mulai buram dimakan usia, tidak ada sekat pangkat, tidak ada disposisi atasan, dan tidak ada lobi-lobi jabatan. Duduk di kursi hidroliknya yang bersahaja, semua orang berada di posisi yang setara: manusia sipil yang pasrah rambutnya dipotong sembari diajarkan arti integritas lewat kesederhanaan ruang hidup.

Bang Badar adalah saksi hidup sejarah lisan Pulau Bangka yang bergerak melintasi zaman. Melalui jemarinya yang terampil memegang sisir dan pisau silet, beliau pernah mencukur rambut para pekerja tambang pada masa timah menjadi denyut ekonomi daerah, hingga para petani sahang ketika lada putih menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Bangka. Di sela-sela sapuan kuas bedak di leher, beliau sering kali melontarkan bait pantun Melayu Bangka yang jenaka namun sarat satir sosial: "Lempah darat lempah kuning, hidup melarat kepala ge pening." Di balik tawa renyah para pelanggan yang mengantre, pantun Bang Badar adalah cerminan realitas masyarakat yang telanjang. Pangkas rambut kampung yang dahulu menjadi pusat diskusi warga kini akan menjadi ruang sunyi yang merekam kenangan bersama almarhum.

Beliau memilih mempertahankan tempat usahanya tetap sederhana, tanpa mengubahnya menjadi barbershop modern ber-AC dengan interior mahal. Fungsinya tetap sama: menjadi ruang komunal bagi tetangga dan masyarakat sekitar, tempat siapa pun dari berbagai latar belakang bisa datang tanpa merasa sungkan.

Kesetiaan Bang Badar pada jalan kesederhanaan ini menuntun refleksi pada pilihan hidup saya sendiri. Sebagai abdi negara, saya memilih tetap membumi: merawat kebun durian, alpukat, serta mempertahankan tiga ratus batang pohon karet di sela waktu luang. Kebun mengajarkan saya bahwa hidup tidak selalu harus diukur dari seberapa jauh seseorang menaiki tangga karier. Dari kilau gunting dan untaian pantun Bang Badar, saya belajar sebuah filosofi hidup yang mahal: bahwa untuk merapikan hidup yang berantakan, kita tidak perlu memotong habis semuanya sekaligus, melainkan memangkas ego perlahan, helai demi helai, bagian demi bagian, dengan ketelitian penuh kesabaran.

Ingatan saya kemudian melompat jauh ke belakang, ke tahun 2002. Tahun di mana saya baru saja menikahi istri saya dan resmi menjadi bagian dari warga Parit Padang. Setahun setelah menikah, ada tradisi untuk menggunduli bayi agar rambutnya kelak tumbuh lebat dan hitam. Kami membawa anak pertama kami yang masih bayi mungil berusia sekitar 3 atau 4 bulan ke hadapan beliau. Di tengah kecemasan kami sebagai orang tua baru menghadapi bayi yang terus gelisah, tangan kekar Bang Badar bergerak dengan kelembutan yang tak terduga. Sembari jemarinya yang terampil menggerakkan pisau silet tipis di atas kepala mungil itu, bibir Bang Badar lamat-lamat melantunkan bait-bait sholawat yang teduh dan berirama. Gema sholawat itu seolah menjadi mantra penenang, mengalirkan rasa aman ke dalam dada kami yang menyaksikannya dengan tegang. Tradisi yang meneduhkan itu terus berlanjut hingga anak-anak kami yang lain lahir.

Siang itu, ba'da Dzuhur pada Minggu, 6 September 2026, ruang utama Masjid Nurul Huda Parit Padang mendadak penuh sesak. Saf-saf menyatu erat mengantarkan sholat jenazah untuk beliau. Di tempat pemakaman, saya melihat wajah-wajah akrab warga kampung, pelanggan setia dari berbagai latar belakang, hingga barisan pensiunan ASN yang saya kenal dekat, semuanya hadir melepas kepergiannya. Beliau berpulang di usia 59 tahun. Tubuh bersahajanya mungkin menyerah kalah, namun dedikasi seorang pemangkas rambut legendaris di Parit Padang akan selalu membekas.

Ketika kembali mengenakan seragam cokelat khaki dan duduk di balik meja birokrasi, saya tersadar bahwa yang dirapikan oleh Bang Badar bukan sekadar penampilan luar kita, melainkan cara kita memandang sesama. Tugas pelayanan publik seorang ASN sejatinya mengadopsi ketulusan cara Bang Badar dalam menyambut pelanggannya: ruang yang merangkul siapa saja tanpa memandang kasta. Sebab pada akhirnya, inti dari reformasi pelayanan bukan terletak pada kecanggihan fasilitas yang memukau mata, melainkan pada kemanusiaan yang hadir dengan tulus di tengah bersahajanya ruang hidup warga.

Sumber: Ilustrasi AI Kreator Doni Kandiawan / Dokumentasi Pribadi

Selamat jalan, Bang Badar Ruslan. Terima kasih telah merapikan hidup kami, helai demi helai, generasi demi generasi. Tanah Parit Padang siang ini menjadi saksi, abang tidak kalah digilas zaman. Abang menang dengan penuh kehormatan, dan doa-doa terbaik kami mengiringi kepulanganmu ke haribaan-Nya.

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.