Fluktuasi IQ, Kitab Gundul, dan Otak Santri yang Berjuang Menolak Kalah

Eks. Imam Besar Masjid NU At-Taqwa, Jepang. Dai Internasional dan pengajar pesantren di Probolinggo asal Temanggung, yang pernah aktif berdakwah di Korea, Taiwan, dan Jepang.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Muhammad Riza Diponegoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jam tiga pagi di sebuah pesantren di Jawa, seorang santri duduk bersila menghadap kitab kuning yang huruf Arabnya polos tanpa harakat. Di luar masih gelap. Udara dingin menembus sarung tipisnya. Ia membaca ulang baris yang sama untuk ketiga kalinya, mencoba menarik kembali kaidah nahwu yang diajarkan minggu lalu, sebab sebentar lagi nanti tepat setelah salat Subuh, namanya akan dipanggil maju untuk sorogan di hadapan kiai. Tidak ada kamus digital yang bisa dibuka diam-diam di balik sarung. Tidak ada aplikasi terjemah yang bisa menyelamatkannya kalau tiba-tiba lupa. Yang ia punya cuma ingatannya sendiri, dan rasa gugup yang aneh, campuran antara takut dan penasaran, yang justru membuat otaknya bekerja lebih keras dibanding kapan pun sepanjang hari itu.
Adegan semacam ini terjadi hanpir tiap hari di ribuan pesantren di Indonesia, dan nyaris tidak pernah dianggap istimewa. Tapi dibaca lewat kacamata riset kognitif terbaru, momen sunyi dan tidak nyaman itu sedang mengerjakan sesuatu, yang oleh dunia pendidikan modern, baru saja disadari hilang.
Awal tahun 2026 ini, seorang neurosaintis bernama Jared Cooney Horvath duduk di hadapan Komite Perdagangan, Sains, dan Transportasi Senat Amerika Serikat. Ia menyampaikan satu kalimat yang kemudian menyebar cepat ke media, bahwa anak-anak generasi sekarang secara kognitif tidak lebih mampu dibanding orang tuanya pada usia yang sama. Ini bukan pernyataan yang lahir dari opini pribadi. Horvath merujuk pada apa yang belakangan disebut reverse Flynn effect, kebalikan dari tren yang selama hampir satu abad memperlihatkan skor IQ rata-rata manusia naik sekitar tiga poin tiap dekade. Gizi membaik, pendidikan meluas, skor tes kecerdasan ikut naik, begitu pola yang berlaku sejak awal abad ke-20 sampai sekitar tahun sembilan puluhan.
Lalu tren itu berbalik arah. Riset Bratsberg dan Rogeberg di Norwegia yang menelusuri lebih dari 700 ribu hasil tes IQ pria muda menemukan skor mulai menurun pada mereka yang lahir setelah pertengahan 1970-an. Pola serupa muncul di Denmark, Inggris, dan Prancis. Karena penurunan ini terjadi bahkan di antara saudara kandung dari keluarga yang sama, para peneliti menyimpulkan penyebabnya bukan genetik, melainkan lingkungan, cara hidup, dan cara otak dibiasakan bekerja tiap hari.
Gejala itu bukan cuma angka di atas kertas. Di Amerika Serikat, Jessica Hooten Wilson, guru besar sastra klasik di Pepperdine University, bercerita kepada majalah Fortune bahwa mahasiswanya bukan sekadar kesulitan berpikir kritis, melainkan kesulitan membaca satu kalimat utuh. Kelas yang dulu meminta mahasiswa membaca sendiri di rumah kini diubah jadi sesi membaca bersama di kelas, baris demi baris, pelan-pelan, karena nyaris tidak ada yang benar-benar membaca sebelum masuk kelas. Yang lebih meresahkan, alih-alih menaikkan standar, banyak kampus memilih jalan pintas dengan melonggarkan nilai. Di Harvard misalnya, lebih dari enam dari sepuluh nilai yang diberikan sekarang adalah A, sesuatu yang oleh sebagian pengamat pendidikan disebut cara menyembunyikan kemerosotan di balik transkrip yang kelihatan baik-baik saja. Survei YouGov akhir 2025 terhadap lebih dari dua ribu orang dewasa Amerika menambahkan potret yang sama suram, empat dari sepuluh orang tidak membaca satu buku pun sepanjang tahun itu.
Indonesia punya cermin yang tidak kalah muram. Skor literasi membaca dalam PISA 2022, tes yang mengukur kemampuan anak usia 15 tahun dari sekitar 80 negara, tercatat 359, turun dari 371 pada 2018. Angka itu menempatkan Indonesia di kisaran peringkat 70, dan yang lebih menyayat, sekitar 75 persen pelajar Indonesia belum mencapai level literasi minimum. Bukan berarti mereka tidak bisa membaca kata, tapi belum cukup mampu memahami dan menafsirkan apa yang mereka baca. Sepuluh anak duduk di satu kelas, tujuh atau delapan di antaranya membaca tanpa benar-benar mengerti.
Horvath membagi tugas kognitif ke dalam dua jenis, yang strukturnya sudah tersedia dari luar dan yang harus dibangun sendiri di dalam kepala. Contohnya naik ojek online dengan penunjuk arah menyala di layar termasuk jenis pertama. Otak tinggal mengikuti, tidak perlu membangun peta di kepala, tidak perlu mengingat jalan mana yang tadi dilewati. Tapi begitu sinyal hilang dan layar mati, orang yang terbiasa dituntun itu bisa benar-benar tersesat, sebab tidak pernah melatih diri menyimpan arah sendiri. Data Horvath menunjukkan generasi muda justru tumbuh pesat pada tugas jenis pertama, pengenalan pola, pemrosesan visual cepat, segala yang strukturnya sudah tersedia di layar. Yang merosot adalah tugas jenis kedua, yang menuntut ingatan, bahasa, dan penalaran abstrak tanpa bantuan apa pun. Justru di titik inilah generasi sekarang paling keteteran.
Kemerosotan semacam itu punya nama, yaitu cognitive offloading, kebiasaan memindahkan beban berpikir ke alat di luar kepala. Michael Gerlich, peneliti di SBS Swiss Business School, mengujinya secara sistematis lewat riset yang terbit di jurnal Societies awal 2025, mensurvei sekaligus mewawancarai 666 partisipan lintas usia. Hasilnya konsisten, makin sering seseorang memakai alat AI, makin rendah skor berpikir kritisnya, dan pola itu paling tajam pada kelompok usia muda, yang ternyata paling bergantung sekaligus paling rendah skornya dibanding kelompok yang lebih tua.
Pola ini bukan kecelakaan desain. Sean Parker, presiden pertama Facebook, pernah mengaku sendiri di hadapan pewarta Axios bagaimana platform yang ia bangun sengaja dirancang untuk menyedot waktu dan perhatian penggunanya sebanyak mungkin, lewat notifikasi kecil dan validasi sosial yang memicu dopamin sedikit demi sedikit. Ia menutup pengakuannya dengan satu kalimat yang sampai sekarang masih terasa mengganjal, "Tuhan saja yang tahu apa yang sedang terjadi pada otak anak-anak kita."
Untungnya cerita ini tidak melulu suram. Horvath sendiri buru-buru meluruskan tafsir yang terlanjur ngeri-ngeri sedap dari testimoninya. Generasi muda, tulisnya, tidak bodoh secara menyeluruh, otak mereka sedang beradaptasi ke ekosistem yang berbeda, tumbuh subur di tugas visual dan pengenalan pola, sementara melemah di tugas yang menuntut ingatan dan penalaran tanpa bantuan. Ini kabar yang lebih jujur dibanding klaim populer bahwa mata manusia memproses gambar puluhan ribu kali lebih cepat dari teks, angka yang beredar luas di dunia presentasi bisnis tapi ternyata tidak pernah punya sumber ilmiah yang sahih, hanya berawal dari iklan majalah tahun 1982 yang terus disalin ulang tanpa pernah diverifikasi siapa pun.
Sekarang kembali ke santri yang duduk sendirian sebelum subuh tadi. Apa yang tadi terlihat seperti kesulitan yang menyusahkan, sebetulnya sedang melatih persis apa yang menurut riset kognitif, hilang dari generasi sekarang. Robert Bjork, psikolog dari UCLA yang menciptakan istilah desirable difficulties, kesulitan yang justru diinginkan, membuktikan lewat puluhan tahun riset bahwa belajar yang terasa mudah dan lancar sering paling cepat menguap dari ingatan. Yang bertahan lama justru belajar yang terasa berat di awal, yang memaksa otak menarik kembali informasi dari dalam kepala tanpa bantuan, bukan sekadar membaca ulang catatan yang sudah tersedia.
Metode sorogan yang dipakai di pesantren, di mana santri menghadap kiai seorang diri dan membaca kitab gundul tanpa terjemahan siap pakai, adalah bentuk retrieval practice yang nyaris sempurna. Tidak ada kesempatan mengintip jawaban. Tekanan sosial di hadapan guru membuat ingatan bekerja pada level tertinggi. Metode bandongan, di mana puluhan santri duduk menyimak kiai membacakan kitab tanpa alat perekam, melatih ketahanan konsentrasi yang pada generasi sekarang nyaris punah, sebab tidak ada tombol ulang, tidak ada mundur tiga puluh detik. Sekali lewat, ya lewat. Dan hafalan, yang di pesantren dijaga lewat muroja'ah, mengulang ingatan lama pada jarak waktu tertentu, sebenarnya versi tertua dari apa yang dalam jurnal psikologi modern disebut spaced repetition, salah satu metode belajar paling efektif yang pernah diteliti.
Yang membuat semua ini berfungsi bukan cuma metodenya, tapi juga apa yang sengaja tidak ada di sana. Sebagian besar pesantren, baik yang memegang tradisi salaf maupun yang modern seperti Gontor dan turunannya, membatasi atau melarang sama sekali gawai pribadi bagi santri, setidaknya di tahun-tahun pertama. Bukan karena anti kemajuan, tapi karena tiap kali otak diberi jalan pintas sebelum sempat berjuang sendiri, kesempatan untuk tumbuh kuat keburu hilang. Larangan gawai yang sering dikira sekadar aturan disiplin, atau bahkan dianggap ketinggalan zaman, diam-diam sedang menjaga sesuatu yang oleh Bjork disebut jendela kesulitan yang diinginkan, ruang tempat otak dipaksa bekerja sebelum ada yang buru-buru menyelamatkannya.
Bahkan penelitian akademik dalam negeri sudah menemukan titik sambung ini. Beberapa kajian pendidikan pesantren membaca metode sorogan lewat kerangka zone of proximal development milik Vygotsky, mencatat bagaimana bimbingan langsung dari kiai membentuk kemandirian belajar, disiplin, dan kemampuan metakognitif santri, tiga hal yang justru paling dirindukan dunia pendidikan modern sekarang.
Belajar nahwu dan sharaf, tata bahasa Arab klasik yang membedah kalimat sampai ke akar katanya, juga bukan sekadar hafalan kaidah. Ilmu itu memaksa santri menalar struktur bahasa secara abstrak, tanpa gambar, tanpa highlight warna-warni, tanpa aplikasi apa pun yang menunjukkan jawabannya begitu saja. Ini persis definisi tugas yang distrukturkan dari dalam kepala, jenis tugas yang menurut riset Horvath paling merosot pada generasi yang tumbuh dengan layar. Anehnya, dunia pesantren sudah melatih ini ratusan tahun, jauh sebelum ada istilah bernama internally scaffolded task.
Ini bukan ajakan membenci teknologi. Yang keliru bukan alatnya, melainkan siapa yang akhirnya mengendalikan siapa. Masa depan bisa jadi akan terbelah antara mereka yang memakai kecerdasan buatan sebagai pengganda kemampuan, dan mereka yang memakai kecerdasan buatan sebagai pengganti otak. Santri yang terbiasa berjuang dulu sebelum dibantu punya modal lebih besar untuk masuk ke kelompok pertama, sebab otot berpikirnya sudah terlatih jauh sebelum alat bantu itu datang. Ini bukan cuma soal spiritualitas atau nostalgia pesantren tempo dulu, ini juga soal ekonomi. Produktivitas kerja Indonesia baru sekitar 14 dolar per jam, jauh di bawah Malaysia yang 26 dolar dan Singapura yang 74 dolar, dan angka itu susah naik kalau kualitas kognitif generasi mudanya terus merosot.
Subuh akhirnya berlalu. Santri tadi dipanggil maju. Ia membaca kitab gundulnya di hadapan kiai, tersendat sebentar di satu kata, lalu menemukan kembali kaidah yang sempat hilang dari ingatannya. Kiai mengangguk, memberi isyarat lanjut. Tidak ada yang istimewa dari adegan ini, tidak ada sorak-sorai, tidak ada notifikasi yang menandai pencapaian. Tapi di titik itu, tanpa disadari siapa pun di ruangan itu, sebuah otak baru saja tumbuh sedikit lebih kuat, dengan cara yang justru sedang dicari-cari ulang oleh dunia yang mengira dirinya sudah paling maju.
Pesantren barangkali tidak pernah bermaksud menjawab reverse Flynn effect, cognitive offloading, atau debat panjang soal AI dan otak generasi muda. Tapi lewat rutinitas sunyi yang sudah dijaga dan dijalani berabad-abad, ia sudah lama menyiapkan jawabannya, jauh sebelum dunia sadar sedang mengajukan pertanyaan itu.
