Forum Praksis ke-19 Bedah Buku Al Makin, Tegaskan Posisi Filsafat Nusantara
·waktu baca 2 menit

JAKARTA — Forum Praksis ke-19 menggelar diskusi bedah buku karya Prof. Dr. Al Makin berjudul Dari Athena hingga Nusantara: Pengantar Filsafat Dunia tentang Manusia, Nalar, Agama, dan Kekuasaan, di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan langsung penulis sebagai narasumber dalam forum yang mengangkat tema “Para Pemikir Nusantara dalam Sejarah Perdebatan Filsafat Dunia”.
Dalam pemaparannya, Al Makin menjelaskan bahwa buku tersebut berupaya menjawab pertanyaan mendasar mengenai posisi pemikir Indonesia dalam lanskap filsafat global. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pengamat, melainkan bagian integral dari perdebatan intelektual dunia, dengan pengalaman historis dan perspektif budaya yang khas.
Buku yang terdiri dari dua belas bab itu menelusuri perkembangan filsafat dari berbagai peradaban, mulai dari Yunani, Romawi, dunia Islam, hingga tradisi Timur seperti Cina dan India, serta perkembangan pemikiran di Eropa modern. Menurut Al Makin, pendekatan buku ini berbeda karena seluruh lintasan sejarah filsafat tersebut dibaca melalui sudut pandang Indonesia, sehingga memperlihatkan bagaimana pemikir Nusantara berinteraksi dengan arus besar pemikiran dunia.
Ia juga menegaskan bahwa sejak masa perjuangan kemerdekaan, para intelektual Indonesia telah mengkonsumsi berbagai tradisi filsafat global untuk membangun fondasi bangsa. Setelah kemerdekaan, perkembangan pemikiran tersebut terus berlanjut melalui karya sastra, seni, hingga wacana intelektual yang mengadopsi dan mengembangkan gagasan seperti eksistensialisme dan postmodernisme dalam konteks keindonesiaan.
Forum ini sekaligus menjadi ruang diskusi mengenai bagaimana pemikir Indonesia—dari Tan Malaka hingga Nurcholish Madjid—dapat ditempatkan sejajar dengan tokoh-tokoh filsafat dunia seperti Socrates, Lao Tzu, hingga Habermas. Melalui forum ini, Praksis menegaskan pentingnya membangun tradisi intelektual yang tidak hanya mengacu pada Barat, tetapi juga berakar pada pengalaman historis dan kebudayaan Nusantara.
Kegiatan Forum Praksis ke-19 ini diharapkan dapat mendorong lahirnya diskursus filsafat yang lebih kontekstual dan relevan dengan realitas Indonesia, sekaligus memperkuat posisi pemikir Nusantara dalam percakapan global yang terus berkembang.
