Konten dari Pengguna

Genosida dalam Angka

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Filsafat Sains Dimitri Mahayana

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bebaskan Palestina!  (Sumber: Net)
zoom-in-whitePerbesar
Bebaskan Palestina! (Sumber: Net)

Data korban jiwa, pengungsian massal, kelaparan sebagai senjata, dan kehancuran infrastruktur Gaza sejak Oktober 2023. Berdasarkan data resmi PCBS, OCHA, Euro-Med Monitor · 2025

7 Oktober 2023: Titik Balik yang Berdarah

Sejak serangan lintas batas 7 Oktober 2023, respons militer Israel di Jalur Gaza telah menimbulkan bencana kemanusiaan yang, menurut berbagai lembaga PBB dan organisasi kemanusiaan internasional, belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala dan kecepatan kehancurannya. Data yang dikumpulkan hingga Oktober 2025 menggambarkan tragedi yang terus berlangsung dan semakin dalam.

Penting untuk mencatat bahwa laporan ini tidak mengesampingkan penderitaan yang ditimbulkan oleh serangan 7 Oktober terhadap warga sipil Israel. Namun, tugas sains — termasuk filsafat sains — adalah menghadapi keseluruhan realitas dengan kejujuran empiris, tanpa seleksi yang melayani kepentingan tertentu.

Data Korban Jiwa: Wajah-Wajah di Balik Angka

Berdasarkan data PCBS yang dikompilasi hingga Oktober 2025, selama agresi Israel di Jalur Gaza dari 7 Oktober 2023 hingga Oktober 2025, korban yang tercatat adalah sebagai berikut: lebih dari 68.000 warga Palestina syahid, termasuk lebih dari 18.000 anak-anak dan lebih dari 12.000 perempuan. Pembunuhan terjadi secara massal dan sistematis.

68.000+ syahid selama agresi Gaza (Okt 2023–Okt 2025)

18.000+ di antaranya adalah anak-anak

12.000+ di antaranya adalah perempuan

254+ jurnalis tewas (Euro-Med Monitor)

11.000+ warga dianggap hilang, mayoritas anak & perempuan

125.000+ orang terluka

Data Euro-Med Monitor mencatat 254 jurnalis tewas — sebuah angka yang luar biasa, mengingat satu-satunya cara untuk membungkam wartawan dalam jumlah sebesar itu dalam satu konflik adalah dengan menjadikan mereka sasaran. Di Tepi Barat, lebih dari 1.100 syahid tewas sejak dimulainya agresi.

"Di balik setiap angka terdapat manusia dengan nama, mimpi, keluarga, serta anak-anak yang kehilangan nyawa sebelum sempat bermimpi."

Pengungsian Massal: 90% Populasi Terusir

Sekitar 2 juta warga Palestina telah mengungsi dari rumah mereka, yaitu sekitar 90% dari total populasi Gaza yang berjumlah 2,2 juta jiwa sebelum agresi. Penduduk Gaza dipaksa meninggalkan rumah mereka berulang kali di bawah tekanan, kehilangan rumah dan menjadi tunawisma di tenda-tenda dan sekolah-sekolah yang juga menjadi sasaran bom.

Di Tepi Barat, lebih dari 42.000 warga mengungsi dari kamp-kamp di wilayah utara — Jenin, Tulkarm, dan Tubas — akibat agresi militer pada pertengahan 2025. Ini merupakan operasi pemindahan paksa terbesar di Tepi Barat dalam delapan dekade. Rinciannya: 21.000 jiwa dari kamp Jenin (30% populasinya) dan sebagian besar dari 19.000 pengungsi kamp Tulkarm dan Nur Shams.

Kelaparan Sebagai Senjata Perang

Sejak 2 Maret 2025, pendudukan Israel memberlakukan kembali blokade terhadap Jalur Gaza, menempatkan lebih dari dua juta warga Palestina pada risiko kelaparan. Di antara mereka ada lebih dari satu juta anak-anak dari segala usia yang menderita kelaparan setiap hari.

Data yang dikumpulkan menunjukkan: sekitar 65 anak meninggal karena kelaparan; 335 anak di bawah usia lima tahun berada di ambang kematian akibat kekurangan gizi parah; dan 92% bayi berusia antara 6 bulan dan 2 tahun, beserta ibu mereka, tidak menerima kebutuhan gizi dasar minimum.

"92% bayi berusia 6 bulan – 2 tahun tidak menerima kebutuhan gizi dasar minimum."

Dalam terminologi hukum internasional, penggunaan kelaparan sebagai metode perang adalah kejahatan perang. Dalam terminologi sains kesehatan masyarakat, malnutrisi parah pada anak di bawah usia dua tahun menyebabkan kerusakan neurologis permanen yang tidak dapat dipulihkan — bahkan jika anak tersebut bertahan hidup. Dengan kata lain, dampaknya bukan hanya pada generasi yang sedang tumbuh sekarang, tetapi pada kapasitas kognitif generasi Palestina yang akan datang.

Krisis Air: Di Bawah Ambang Kemanusiaan

Akibat kerusakan parah pada sektor air dan sanitasi, tingkat pasokan air menurun hingga rata-rata 3–5 liter per orang per hari. Angka ini jauh berada di bawah batas minimum kebutuhan untuk bertahan hidup dalam kondisi darurat menurut Organisasi Kesehatan Dunia, yaitu 15 liter per orang per hari. Untuk konteks: rata-rata konsumsi air di negara-negara maju adalah 150–200 liter per orang per hari.

Penghancuran Infrastruktur: Menjadikan Gaza Tidak Layak Huni

Sejak agresi 7 Oktober 2023, Israel telah menghancurkan: 174.000 bangunan hancur total; 436.000 unit rumah hancur seluruhnya atau sebagian, yang secara bersama-sama merupakan 90% dari total unit rumah di Jalur Gaza; 500 lebih sekolah dan universitas; 828 masjid; 3 gereja; 224 kantor pusat pemerintah; ribuan fasilitas ekonomi; serta semua aspek infrastruktur — jalan, saluran air dan listrik, saluran pembuangan limbah, dan lahan pertanian — menjadikan Jalur Gaza tempat yang tidak layak huni.

Pekerja Kemanusiaan Menjadi Sasaran

Setidaknya 1.513 pekerja kemanusiaan telah tewas di Gaza sejak Oktober 2023 hingga Juli 2025. Korban tersebut termasuk 376 staf UNRWA — jumlah tertinggi dalam sejarah PBB; 14 staf Médecins Sans Frontières (Dokter Lintas Batas); 54 staf dan relawan Bulan Sabit Merah Palestina; serta staf World Central Kitchen, Save the Children, ICRC, dan WHO.

Ketika pekerja kemanusiaan menjadi korban dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah PBB, interpretasi saintifik yang paling sederhana dan parsimoni adalah: ini bukan kecelakaan. Ini adalah pola. Dan pola yang sistematis, dalam hukum internasional maupun dalam teori genosida, adalah bukti niat.

Artikel kelima dan terakhir dalam seri ini akan membahas analisis kerangka genosida Dr. Gregory Stanton, putusan Mahkamah Internasional, respons komunitas saintifik internasional, dan seruan tindakan.