GKR Mangkubumi Kenang Bergabungnya Yogya ke NKRI, Cerita Keteguhan Sultan HB IX

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Putri Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi, di acara Peringatan Amanat 5 September 1945 di Ndalem Poenokawan Cafe Resto & Gallery, Kota Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026). Foto: Panji/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Putri Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi, di acara Peringatan Amanat 5 September 1945 di Ndalem Poenokawan Cafe Resto & Gallery, Kota Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026). Foto: Panji/kumparan

81 tahun telah berlalu sejak Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, mengeluarkan Amanat 5 September 1945 yang menyatakan bergabungnya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bagi Putri Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi, peristiwa tersebut bukan sekadar catatan sejarah, tetapi warisan nilai kepemimpinan yang relevan untuk terus dikenang dan dihidupkan.

Hal itu GKR Mangkubumi sampaikan dalam Peringatan Amanat 5 September 1945 yang dikemas dalam sarasehan budaya bertajuk "Maklumat Keistimewaan Yogyakarta: Merawat Keistimewaan, Menjaga Kehormatan Bangsa" yang digelar di Ndalem Poenokawan Cafe Resto & Gallery, Sabtu (5/9).

Dalam sambutannya, GKR Mangkubumi mengajak masyarakat kembali mengenang keputusan Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang dinilainya menentukan arah sejarah Yogyakarta dan Indonesia.

"Pada hari ini, kita memperingati sebuah peristiwa yang penting adalah Amanat 5 September 1945. 81 tahun yang lalu, di tengah Republik Indonesia yang baru saja lahir, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengambil sebuah keputusan yang menentukan arah sejarah. Beliau menegaskan bahwa Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan bagian dari negara Republik Indonesia," kata GKR Mangkubumi.

Ilustrasi Anjungan Emas Keraton Yogyakarta. Foto: aditya_frzhm/Shutterstock

GKR Mangkubumi mengatakan mungkin keputusan tersebut tampak sederhana ketika dibacakan hari ini. Namun, pada saat itu, keputusan itu membutuhkan keberanian, keteguhan hati, dan juga pandangan yang jauh ke depan.

"Sri Sultan Hamengku Buwono IX sesungguhnya memberikan kepada kita sebuah tauladan tentang arti kepemimpinan. Bahwa kedudukan bukanlah semata-mata untuk dipertahankan, kekuasaan bukanlah semata-mata untuk dimiliki, tapi keduanya memperoleh makna ketika digunakan untuk mengabdi pada rakyat, bangsa, dan negara," katanya.

Lanjutnya, Sultan HB IX memilih berdiri bersama Republik Indonesia. Pilihan tersebut tidak berhenti dalam sebuah amanat. Yogyakarta menjadi tempat yang memberikan perlindungan dan dukungan bagi Republik pada masa-masa paling menentukan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

"81 tahun telah berlalu. Zaman telah berubah, tantangan yang kita hadapi juga berbeda. Karena itu, pernyataan bagi kita sekarang bukan hanya apa yang terjadi di saat itu, di 5 September 45, tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita mewarisi semangatnya untuk hari ini," katanya.

"Menurut kami, jawabannya adalah kebersamaan. Di tengah berbagai perbedaan yang ada, kita harus terus belajar menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun golongan," katanya.

GKR Mangkubumi mengatakan setiap orang boleh berbeda pandangan, latar belakang, hingga pemikiran masing-masing. Namun, ketika bicara bangsa dan negara, kita semua punya satu rumah yang sama yaitu Indonesia.

"Inilah semangat yang diwariskan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX kepada kita semua, menjadi Yogyakarta dengan seluruh kekayaan tradisi, budaya, dan jati dirinya, tetapi pada saat yang sama memberikan seluruh kemampuan terbaiknya bagi bangsa Indonesia," katanya.

Menurutnya, Keistimewaan Yogyakarta bukan hanya sebuah warisan, tapi keistimewaan adalah tanggung jawab untuk menjaga kebudayaan, menjaga kerukunan dan kebersamaan, untuk berpihak kepada rakyat, dan tanggung jawab untuk terus memberikan manfaat bagi bangsa dan negara.

"Marilah Peringatan Amanat 5 September ini tidak berhenti sebagai seremonial belaka. Tapi mari kita hidupkan semangatnya dalam tindakan kita sehari-hari. Guyub, rukun, saling menghormati, dan bersedia berjalan bersama meskipun berbeda," katanya.

"Sebab bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh orang-orang besar, tapi bangsa yang besar dibangun oleh kebersamaan seluruh rakyatnya.

Semoga semangat Sri Sultan Hamengku Buwono IX terus hidup dalam perjalanan Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta untuk Indonesia, mari bersama menjaga warisan, merawat persatuan, dan bersama melangkah menuju masa depan," pungkasnya.

Dalam Peringatan Amanat 5 September ini turut hadir Putri Keraton Yogyakarta, GKR Condrokirono serta cucu Sri Sultan HB X, Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusumo.

Hadir pula wali kota, bupati, wakil wali kota, wakil bupati, dan para pejabat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dalam sarasehan ini turut dihadirkan dua narasumber membahas tentang Amanat 5 September yaitu dosen Prodi Ilmu Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS) Dr Hartono Juwono dan Guru Besar UGM Prof Suhartono.

Turut hadir sebagai penanggap Kaprodi Ilmu Sejarah UNS Dr Waskito Widi Wardojo dan dosen Sejarah UNS Dr Susanto.