Gratis Ongkir: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?

S1 Akuntansi at Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Abdullah Ibrahim Gamas Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di Balik Gratis Ongkir, Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Pernah memasukkan barang ke keranjang belanja online, lalu membatalkan niat membeli karena ongkos kirimnya hampir sama dengan harga barang? Begitu menemukan voucher gratis ongkir, rasanya keputusan jadi lebih mudah. Harga barang tetap, tetapi total pembayaran terasa lebih ringan.
Bagi pembeli, promo seperti ini jelas menarik. Kita bisa membandingkan harga, memilih barang, lalu menunggu paket datang tanpa terlalu memikirkan biaya pengiriman. Namun, pernahkah kita berpikir apa yang terjadi di balik layar setelah tombol checkout ditekan?
Promo gratis ongkir menarik pembeli, tetapi persaingan memilih jasa kurir juga menentukan siapa yang mendapat peluang di bisnis e-commerce.
Gratis ongkir bukan sekadar soal pembeli mendapatkan potongan biaya. Dalam bisnis e-commerce, pengiriman juga melibatkan penjual, platform marketplace, dan perusahaan jasa kurir. Masing-masing memiliki kepentingan yang tidak selalu sama.
Ketika Pilihan Kurir Ikut Menentukan Persaingan
Bayangkan ada dua perusahaan kurir yang melayani wilayah yang sama. Keduanya menawarkan layanan pengiriman, tetapi hanya salah satunya yang lebih sering muncul sebagai pilihan utama di aplikasi marketplace.
Bagi pembeli, hal itu mungkin terlihat biasa. Kita cenderung memilih opsi yang muncul di layar, memiliki estimasi waktu yang sesuai, atau menawarkan biaya paling menarik. Namun, bagi perusahaan kurir, posisi tersebut bisa memengaruhi peluang mendapatkan pesanan.
Inilah salah satu persoalan yang disoroti Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam kajiannya mengenai perkara jasa kurir Shopee. Kajian tersebut mengevaluasi perubahan perilaku platform setelah perkara dugaan diskriminasi algoritmik dan penyalahgunaan posisi dominan.
Dalam ringkasan kajian yang dipublikasikan KPPU pada 2026, Shopee Express masih menjadi pilihan mayoritas responden: 48,5 persen penjual dan 61,5 persen pembeli. KPPU juga menyatakan bahwa algoritma platform masih kuat memengaruhi pilihan jasa kurir.
Temuan itu tidak otomatis berarti setiap rekomendasi kurir merugikan konsumen. Akan tetapi, hal tersebut menunjukkan bahwa urutan dan pilihan yang ditampilkan platform bisa berpengaruh terhadap persaingan bisnis.
Promo Menarik, Tetapi Biayanya Tetap Ada
Kita sering melihat tulisan “gratis ongkir” seolah-olah biaya pengiriman menghilang begitu saja. Padahal, barang tetap harus dijemput, disortir, dibawa, dan diantar ke alamat pembeli.
Artinya, pengiriman tetap membutuhkan biaya operasional. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana biaya tersebut ditanggung dan bagaimana program promosi dijalankan oleh pihak-pihak yang terlibat.
Promo dapat membantu meningkatkan transaksi. Pembeli terdorong berbelanja, penjual berpeluang mendapatkan pesanan, dan marketplace bisa membuat layanan mereka semakin menarik. Namun, persaingan berbasis potongan harga juga perlu diperhatikan apabila menimbulkan tekanan biaya yang tidak berkelanjutan bagi penyedia jasa pengiriman.
Dalam kajiannya, KPPU menyoroti adanya persoalan biaya non-ongkir yang ditanggung penjual serta tantangan persaingan bagi kurir eksternal. KPPU juga merekomendasikan pengawasan terhadap biaya platform dan netralitas algoritma.
Jadi, persoalannya bukan bahwa promo gratis ongkir pasti buruk. Persoalannya adalah apakah persaingan yang terbentuk tetap memberi ruang yang adil bagi penyedia jasa pengiriman untuk menawarkan layanan mereka.
Apa Dampaknya bagi Penjual dan Pembeli?
Bagi penjual, pilihan jasa pengiriman yang terbatas atau biaya tambahan yang sulit diperkirakan bisa memengaruhi keputusan operasional. Penjual perlu mempertimbangkan bukan hanya harga produk, tetapi juga biaya layanan, waktu pengiriman, dan pengalaman pelanggan.
Bagi pembeli, dampaknya mungkin tidak langsung terasa. Selama paket sampai tepat waktu dan biaya terlihat murah, proses belanja terasa baik-baik saja. Namun, persaingan yang sehat tetap penting agar konsumen memiliki pilihan layanan dan kualitas pengiriman yang layak.
Di sisi lain, perusahaan kurir juga perlu bersaing melalui efisiensi, jangkauan, kecepatan, dan kualitas pelayanan. Persaingan bukan berarti semua perusahaan harus mendapatkan jumlah pesanan yang sama, melainkan setiap perusahaan memiliki kesempatan bersaing berdasarkan kualitas dan penawaran yang relevan.
Karena itu, transparansi dalam pemilihan jasa pengiriman menjadi penting. Pembeli dan penjual sebaiknya bisa memahami opsi yang tersedia, sementara platform perlu memastikan sistemnya tidak menciptakan hambatan persaingan yang tidak wajar.
Gratis Ongkir Tetap Menarik, Persaingan Juga Harus Sehat
Tidak ada yang salah dengan menikmati voucher gratis ongkir. Bagi konsumen, promosi tersebut bisa membantu menghemat pengeluaran. Bagi penjual, promosi juga dapat menjadi salah satu cara menarik pelanggan.
Namun, kemudahan yang kita rasakan di layar ponsel merupakan bagian dari sistem bisnis yang lebih luas. Ada perusahaan yang bersaing, biaya operasional yang harus ditanggung, serta keputusan platform yang dapat memengaruhi distribusi pesanan.
Kajian KPPU menjadi pengingat bahwa perkembangan ekonomi digital bukan hanya soal seberapa murah harga yang dilihat pembeli. Cara platform mengatur persaingan dan memberikan pilihan juga layak diperhatikan.
Pada akhirnya, konsumen tentu ingin ongkir murah dan paket cepat sampai. Tetapi, pasar yang sehat juga membutuhkan persaingan yang terbuka, pilihan pengiriman yang masuk akal, dan bisnis kurir yang bisa terus beroperasi secara berkelanjutan.
Jadi, saat melihat tulisan gratis ongkir di keranjang belanja, kita boleh senang karena bisa menghemat uang. Namun, di balik potongan biaya itu, ada pertanyaan bisnis yang lebih besar: apakah semua pihak dalam proses pengiriman memiliki kesempatan bersaing secara sehat?
REFERENSI
1. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Kajian dan Penelitian — kajian dampak perkara kurir Shopee.
2. KPPU, Dampak Perkara Kurir Shopee: Ekosistem Memperoleh Manfaat Rp1,477 Triliun, Dominasi Algoritma Masih Menjadi Tantangan
