Gresik dan Ironi Wisata Sejarah: Ramai di Makam, Sepi di Kedaton

Undergraduate Psychology Stundent, Brawijaya University
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari SURYA PRAJA SENAPATI TRIANGGARA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jika berbicara tentang Gresik, barangkali yang terlintas di benak banyak orang adalah kota industri, semen, dan penyebaran Islam. Namun, belakangan Gresik juga semakin ramai diperbincangkan karena memiliki sebuah ikon yang cukup mencuri perhatian, yakni patung Gajah Mungkur.
Patung tersebut dikabarkan menghabiskan anggaran sekitar Rp1 miliar. Besarnya anggaran yang dikeluarkan tentu mengundang perhatian, terlebih ketika bentuk patung yang dihadirkan sebagai ikon tersebut justru menimbulkan beragam tanggapan. Perdebatan mengenai patung sebagai ikon sebuah kota sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sebuah ikon memang dapat menimbulkan perbincangan, bahkan perdebatan, terutama ketika menyangkut bentuk, makna, dan biaya pembuatannya.
Namun, di tengah perdebatan mengenai sebuah patung, terdapat persoalan lain yang tidak kalah penting untuk dibicarakan. Jangan sampai perhatian terhadap ikon baru justru menutupi sejarah panjang yang telah lebih dahulu membentuk identitas Gresik.
Sejarah Gresik tidak dimulai dari keberadaan kota industri ataupun bangunan-bangunan modern. Jejaknya telah terbentuk sejak berabad-abad lalu. Kehadiran Fatimah binti Maimun pada abad ke-11 menjadi salah satu bukti awal keberadaan komunitas Islam di kawasan Gresik. Pada sekitar abad ke-11 hingga ke-13, Gresik berkembang sebagai kawasan bandar dan perdagangan yang menghubungkan berbagai wilayah. Memasuki abad ke-14, Gresik semakin memiliki posisi penting sebagai bandar dalam jaringan perdagangan pada masa Majapahit.
Kemudian, memasuki abad ke-15, nama Gresik semakin kuat dalam sejarah perkembangan Islam di Jawa. Salah satu tokoh yang kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut adalah Sunan Giri.
Sunan Giri tidak hanya dikenal sebagai salah satu Wali Songo. Ia juga merupakan seorang ulama, pendidik, dan pemimpin yang memiliki pengaruh luas dalam kehidupan keagamaan maupun politik pada masanya. Dari Giri, pengaruhnya berkembang jauh melampaui kawasan tempat ia bermukim.
Namun, bagaimana sejarah tersebut dikenalkan kepada masyarakat hari ini?
Salah satu tempat yang paling dikenal tentu saja makam Sunan Giri. Kawasan tersebut ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Orang datang untuk berdoa, berziarah, dan mengenang salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam di Jawa.
Akan tetapi, perjalanan mengenal Sunan Giri seharusnya tidak berhenti di makam.
Tidak jauh dari kawasan tersebut terdapat Giri Kedaton, sebuah situs yang menyimpan jejak penting dari keberadaan Giri sebagai pusat pemerintahan dan kekuasaan Sunan Giri. Tempat ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai sisa bangunan lama, melainkan sebagai bagian dari rangkaian sejarah yang menjelaskan bagaimana Sunan Giri menjalankan perannya pada masa lalu.
Di Sinilah Muncul Sebuah Ironi dalam Wisata Sejarah
Makamnya ramai, tetapi jejak kehidupannya belum tentu mendapatkan perhatian yang sama.
Peziarah mengenal di mana Sunan Giri dimakamkan, tetapi belum tentu mengetahui di mana pusat pemerintahannya berada. Mengenal makamnya tentu penting, tetapi mengenal tempat ia hidup, memimpin, dan membangun pengaruhnya juga tidak kalah penting.
Sebab, makam hanya menunjukkan tempat seseorang mengakhiri perjalanan hidupnya. Sementara peninggalan seperti kedaton membantu manusia memahami bagaimana perjalanan hidup itu berlangsung.
Giri Kedaton dapat menjadi pintu untuk memahami Sunan Giri bukan hanya sebagai sosok yang dikeramatkan atau diziarahi, tetapi sebagai manusia dan tokoh sejarah yang memiliki peran besar dalam perkembangan Gresik dan Jawa.
Melihat peninggalan sejarah tidak harus mengurangi nilai sebuah ziarah. Justru sebaliknya, ziarah dapat menjadi awal untuk mengenal lebih jauh siapa tokoh yang diziarahi. Setelah berdoa di makamnya, perjalanan dapat dilanjutkan dengan mencari tahu bagaimana ia hidup, bagaimana ia memimpin, bagaimana Giri berkembang, dan bagaimana pengaruhnya menyebar ke berbagai wilayah.
Dengan demikian, wisata religi tidak berhenti sebagai perjalanan menuju makam, tetapi berkembang menjadi perjalanan untuk memahami sejarah.
Gresik sebenarnya memiliki banyak cerita semacam itu. Ada Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri, Sunan Prapen, Dewi Sekardadu, serta berbagai peninggalan lain yang menjadi bagian dari perjalanan panjang kota ini. Setiap nama memiliki cerita dan setiap peninggalan memiliki konteks sejarahnya sendiri.
Karena itu, persoalannya bukan tentang apakah Gresik membutuhkan ikon baru atau tidak. Ikon kota tetap memiliki tempatnya sendiri. Namun, sebuah kota juga perlu memastikan bahwa ikon-ikon sejarah yang telah diwariskan selama berabad-abad tidak kehilangan perhatian.
Gresik Tidak Kekurangan Sejarah untuk Diceritakan
Yang mungkin kurang adalah kesempatan bagi sejarah itu untuk kembali diceritakan.
Patung dapat dibangun dalam hitungan bulan. Namun, sejarah sebuah kota terbentuk melalui ratusan tahun perjalanan manusia. Karena itu, ketika membicarakan identitas Gresik, jangan sampai perhatian hanya berhenti pada apa yang baru dibangun, sementara apa yang telah bertahan selama berabad-abad justru perlahan dilupakan.
Barangkali sudah waktunya perjalanan menuju Gresik tidak hanya berakhir di tempat orang-orang berziarah, tetapi juga berlanjut menuju tempat-tempat yang dapat menjawab satu pertanyaan sederhana:
Siapa sebenarnya orang yang makamnya selama ini didatangi?
Sebab mengenal seseorang dari makamnya saja tidak cukup untuk memahami sejarahnya. Untuk mengenal Sunan Giri, perlu melihat pula jejak yang ditinggalkannya, termasuk Giri Kedaton yang hingga kini masih menjadi bagian dari ingatan sejarah Gresik.
