Gula: Menakar Rasa Kenyataan

Pemerhati Masalah Sosial Politik, Alumnus Ilmu Pemerintahan UNPAD dan Ilmu Politik UI
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Fajar Supriyatna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setelah kopi, kita perlu bicara tentang gula. Kopi, dalam tulisan sebelumnya, telah mengajak kita menatap pahit dengan lebih tenang. Ia hitam, getir dan kadang tidak ramah di lidah. Tetapi justru di situlah kejujurannya. Kopi tidak banyak berdandan. Ia tidak memakai bedak kata-kata. Ia tidak meminta kita menyebutnya manis hanya karena pahit terdengar kurang sopan.
Kopi adalah kenyataan yang diseduh. Ia datang dengan warna gelap, aroma tua dan rasa yang tidak selalu menyenangkan. Tetapi dari situlah manusia belajar melek. Bukan hanya melek mata, tetapi juga melek batin. Bahwa hidup tidak selalu harus enak untuk bisa bermakna. Bahwa pahit tidak selalu musuh, kadang pahit justru pintu kecil menuju kesadaran.
Namun manusia sering tidak betah terlalu lama berhadapan dengan pahit. Maka kita menambahkan gula. Sedikit gula tentu bukan dosa, bahkan hidup terkadang memang memerlukan manis. Tanpa manis, rumah akan terasa seperti kantor pajak, percakapan akan kaku seperti formular, cinta akan terdengar seperti rapat evaluasi. Manusia butuh kelembutan, butuh harapan, butuh kalimat yang membuat hari tidak terlalu kasar.
Masalahnya, kita sering lupa menakar. Satu sendok gula membuat kopi lebih ramah. Dua sendok membuatnya lebih mudah diterima. Tiga sendok mulai membuat kita bertanya, “ini kopi atau minuman kenangan masa kecil?” Empat sendok, pahitnya hilang sama sekali. Kopi tinggal warna. Jiwanya sudah pindah ke kelurahan lain.
Begitu pula dengan hidup. Kita, manusia Indonesia, sering kali terlalu pandai memaniskan keadaan. Bukan hanya dalam politik, bukan hanya dalam birokrasi, bukan hanya dalam kantor, bukan hanya di panggung-panggung besar yang lampunya menyilaukan. Tetapi juga dalam rumah, dalam keluarga, dalam pertemanan, dalam pekerjaan, dalam percakapan sehari-hari, bahkan dalam cara kita berbicara kepada diri sendiri.
Anak yang lelah kita beri gula: “Yang kuat, ya.” Orang yang terluka kita beri gula: “Ambil hikmahnya saja.” Kawan yang gagal kita beri gula: “Mungkin belum rezeki.” Diri sendiri yang remuk kita beri gula: “Aku baik-baik saja.” Padahal kadang kita tidak baik-baik saja dan sebenarnya tidak apa-apa mengaku tidak baik-baik saja.
Tetapi kebudayaan kita sering tidak sabar menghadapi luka. Kita ingin semua cepat rapi, cepat selesai, cepat tersenyum. Air mata belum kering sudah diminta bijaksana. Hati belum sembuh sudah diminta ikhlas. Orang belum sempat marah sudah diminta sabar. Seolah-olah semua penderitaan harus segera dibungkus dengan pita moral agar tampak indah di hadapan orang lain.
Di situlah gula menjadi masalah. Ia tampak lembut, tetapi bisa menipu. Ia tampak menyenangkan, tetapi bisa membius. Ia membuat kita merasa kuat, padahal mungkin kita hanya sedang menunda kejujuran. Kita sering memaniskan luka bukan karena sudah sembuh, melainkan karena takut dianggap lemah. Kita memaniskan kegagalan bukan karena sudah mengambil pelajaran, melainkan karena malu mengaku kalah. Kita memaniskan kenyataan bukan karena optimis, melainkan karena tidak sanggup menatapnya terlalu lama.
Lalu kita menjadi bangsa yang pandai tersenyum, tetapi kurang pandai bertanya kepada diri sendiri. Kita tersenyum ketika hati keberatan. Kita tertawa ketika pikiran kacau. Kita berkata “tidak apa-apa” untuk sesuatu yang sebenarnya “apa-apa.” Kita memaklumi terlalu banyak hal, sampai lupa bahwa tidak semua hal pantas dimaklumi. Kita menyebut malas berpikir sebagai nrimo. Kita menyebut takut berubah sebagai hati-hati. Kita menyebut pembiaran sebagai kesabaran. Kita menyebut luka turun-temurun sebagai nasib.
Gula di ujung lidah membuat banyak hal terdengar baik-baik saja. Di media sosial, kita menabur gula dengan lebih riang. Hidup dipotret dari sudut terbaik. Makanan difoto sebelum didoakan. Senyum dipasang sebelum hati diperiksa. Kata-kata bijak beterbangan seperti brosur diskon akhir pekan.
Semua tampak bahagia, semua tampak berhasil, semua tampak sedang menuju puncak kehidupan. Padahal di balik layar, banyak orang sedang berjuang dengan cemas yang tidak diberi nama. Banyak orang mengejar hidup yang sebenarnya tidak mereka inginkan, hanya karena takut tertinggal dari pameran keberhasilan orang lain. Banyak orang ingin berhenti sebentar, tetapi malu karena dunia terus berlari sambil membawa kamera depan.
Lalu kita saling memberi gula, “semangat!” “kamu pasti bisa!” “jangan menyerah!” Kalimat-kalimat itu baik, tetapi kadang yang dibutuhkan seseorang bukan hanya semangat, melainkan telinga. Bukan hanya motivasi, melainkan ruang untuk jujur. Bukan hanya kata-kata manis, melainkan kehadiran yang tidak buru-buru menasihati.
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Sebab manis tidak selalu salah, tetapi manis yang berlebihan bisa membuat kita kehilangan rasa asli kehidupan. Kita perlu bertanya: sudah berapa banyak kenyataan yang kita maniskan agar tidak perlu kita ubah? Sudah berapa lama kita menyebut masalah sebagai “proses”? Sudah berapa kali kita menyebut ketidakberanian sebagai “menunggu waktu yang tepat”? Sudah berapa sering kita menyebut ketidakpedulian sebagai “bukan urusan saya”?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin pahit. Tetapi bukankah setelah kopi, kita sudah belajar bahwa pahit kadang diperlukan agar mata terbuka? Gula mengingatkan kita pada satu hal: manusia bisa tertipu bukan hanya oleh kebohongan, tetapi juga oleh kenyamanan. Kita bisa terlelap bukan karena tidak tahu masalah, tetapi karena terlalu lama mencari alasan agar masalah itu tidak perlu disentuh. Kita bisa kalah bukan karena tidak punya kekuatan, tetapi karena terlalu sering menghibur diri sebelum benar-benar berjuang.
Maka tulisan tentang gula ini bukan ajakan menjadi muram. Bukan ajakan membenci manis, bukan pula undangan untuk menjadi manusia sinis yang setiap pagi mengaduk kopi sambil mencurigai matahari.
Ini ajakan untuk menakar. Menakar kata-kata, menakar harapan, menakar pujian, menakar alas an, menakar senyum, menakar cara kita memandang diri sendiri dan negeri ini. Sebab hidup yang sehat bukan hidup yang selalu manis, melainkan hidup yang tahu kapan harus manis, kapan harus pahit, kapan harus diam, kapan harus bicara, kapan harus menerima dan kapan harus bangkit.
Indonesia tidak akan sembuh hanya dengan keluhan. Tetapi Indonesia juga tidak akan bangkit hanya dengan pemanis. Kita perlu harapan, tetapi harapan yang bekerja. Kita perlu optimisme, tetapi optimisme yang berkeringat. Kita perlu kesabaran, tetapi kesabaran yang tidak kehilangan keberanian. Kita perlu bersyukur, tetapi syukur yang tidak mematikan akal sehat.
Sebelum menunjuk ke luar, mari sebentar menunjuk ke dalam. Barangkali ada gula yang terlalu banyak dalam cara kita hidup. Gula dalam kemalasan yang kita sebut istirahat panjang. Gula dalam ketakutan yang kita sebut kehati-hatian. Gula dalam gengsi yang kita sebut harga diri. Gula dalam kebiasaan menunda yang kita sebut menunggu suasana hati. Gula dalam kepura-puraan yang kita sebut menjaga perasaan.
Kalau semua itu terus kita biarkan, hidup akan tampak manis di permukaan, tetapi menyimpan endapan di dasar gelas. Dan endapan itu, jika terlalu lama didiamkan, akan membuat rasa seluruh minuman berubah. Maka mari kita mulai dari yang kecil dan diri kita. Lebih jujur kepada diri sendiri, lebih berani mengakui lelah, lebih bersedia mendengar kritik, lebih pelan menghakimi, lebih cepat memperbaiki, lebih sedikit memoles, lebih banyak membenahi, lebih sedikit berkata “nanti” dan lebih sering memulai sekarang juga. Barangkali, dari secangkir kecil di meja kita, bangsa ini bisa mulai belajar lagi: bahwa kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang selalu manis, melainkan kehidupan yang jujur pada rasa, adil dalam takaran dan berani membersihkan endapan yang selama ini dibiarkan diam di dasar gelas.
Sebab sadar diri bukan tanda kalah. Sadar diri adalah awal kebangkitan. Setelah kopi mengajari kita menerima pahit, gula mengingatkan kita agar tidak mabuk oleh manis. Dan sebelum nanti kita berbicara tentang yang lainnya,barangkali kita perlu memastikan satu hal lebih dulu: lidah kita masih mampu membedakan rasa.
Karena bangsa yang ingin bangkit harus lebih dulu jujur pada apa yang ia kecap. Manis bila memang manis. Pahit bila memang pahit. Dan jika keduanya hadir dalam satu cangkir kehidupan, tugas kita bukan menipu lidah, melainkan belajar menakar dengan sadar. Agar kita tidak sekadar mengejar rasa yang enak, tetapi berani hidup dengan jiwa yang terjaga yang sadar, yang jujur dan yang tak gentar menghadapi kenyataan.
