Gunung Anak Krakatau Erupsi, Dokter Ungkap Gejala dan Cara Hadapi Abu Vulkanik

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto udara kondisi Gunung Anak Krakatau, Minggu (6/9/2026). Foto: PVMBG/via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara kondisi Gunung Anak Krakatau, Minggu (6/9/2026). Foto: PVMBG/via REUTERS

Erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan sebaran abu vulkanik yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.

Praktisi kesehatan Dr. dr. Ngabila Salama, MKM, mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak paparan abu vulkanik, terutama pada saluran pernapasan dan mata.

Ngabila mengatakan abu vulkanik dapat menimbulkan gangguan kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta orang dengan penyakit penyerta perlu mendapat perhatian lebih.

Dia mengimbau masyarakat menghindari paparan abu vulkanik dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya bagi kelompok rentan. Jika harus keluar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker yang dapat memberikan perlindungan terhadap partikel abu vulkanik.

Dr. dr. Ngabila Salama, MKM, dokter yang juga praktisi kesehatan masyarakat. Foto: Dok. Pribadi

"Terutama untuk kelompok berisiko tinggi, yaitu bayi, balita, ibu hamil dan juga orang dengan komorbid penyakit jantung, orang dengan asma, PPOK, dan juga lansia," ujar Ngabila yang juga dikenal sebagai edukator kesehatan ini.

Ngabila menyebut sejumlah gejala dapat muncul akibat paparan abu vulkanik. Pada mata, paparan dapat menyebabkan mata merah, berair, dan mengalami iritasi. Sementara pada saluran pernapasan, masyarakat dapat mengalami batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga pneumonia.

instagram embed

"Yang pertama, itu bisa menyebabkan mata merah, berair, iritasi, lalu juga pernapasan bisa batuk, pilek, tenggorokan sakit maupun pneumonia, asma kambuh, PPOK kambuh, ya itu adalah jangka akut. Tapi kronik juga bisa menyebabkan gangguan sirkulasi, baik itu penyakit jantung, lalu hipertensi dan juga tentunya penyakit-penyakit menular lainnya di area saluran pernapasan," jelas alumnus Universitas Indonesia ini.

Karena itu, masyarakat diminta membatasi aktivitas di luar rumah selama abu vulkanik masih menyebar. Masyarakat juga disarankan menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi dan seimbang.

"Dan juga jika terjadi tanda-tanda komplikasi seperti misalnya ada sesak napas, mata yang sangat iritasi maupun juga batuk pilek berat atau serangan asma yang kambuh, segera datang ke fasilitas kesehatan untuk ditata laksana lebih lanjut," saran Ngabila.

Jangan Pakai Lensa Kontak

Untuk masyarakat yang mengalami gangguan pada mata, Ngabila menyarankan agar tidak menggunakan lensa kontak selama terjadi paparan abu vulkanik. Jika mata berair atau mengalami iritasi, mata dapat dibersihkan menggunakan cairan steril.

Masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak diimbau untuk tetap berada di dalam rumah dan memastikan kualitas udara di dalam ruangan tetap terjaga. Penggunaan HEPA filter atau air purifier dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi paparan partikel abu di dalam ruangan.

Dia meminta masyarakat tidak panik, tetapi terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau serta mengikuti arahan dari pihak berwenang, termasuk terkait aktivitas penerbangan dan arus laut.

"Juga bagaimana penerbangan maupun juga arus laut itu harus dilakukan dengan sebaik-baiknya," pungkasnya.